Sazana merasa aman sekarang. Dia sudah berada di ruang linen dan bersembunyi di sana. Dia masih mendengar suara langkah kaki yang ia duga merupakan langkah bosnya.
Ia baru tahu kalau lelaki itu adalah atasannya—entah apa pun jabatannya, yang jelas, ini kali pertama Sazana melihat laki-laki itu.
Mungkin ia tipe lelaki misterius yang muncul hanya di malam hari. Werewolf atau vampir, mungkin.
Sazana memukul kepalanya sendiri, karena memikirkan hal bodoh tak masuk akal. Dirinya terlalu banyak membaca buku-buku fantasi tentang si manusia serigala rupawan dan kaya raya yang bersaing dengan seorang vampir ganteng demi memperebutkan seorang gadis keturunan manusia.
Itu hanya ada dalam film dan novel. Namun, ia tidak menampik kalau novel online yang baru saja ia tamatkan itu cukup menarik, tetapi andaikan terjadi di dunia nyata, mungkin sedikit menyeramkan.
Lupakan tentang film dan novel, yang terpenting sekarang adalah nasibnya.
Bagaimana kalau laki-laki itu memecat Sazana karena telah menghabiskan malam panas dengannya yang merupakan orang penting dengan jabatan tinggi di hotel ini?
Bisa saja mereka berpikir kalau Sazana sedang mencari keuntungan dengan merayu konglomerat itu agar tidur dengannya supaya ia mendapatkan harta melimpah. Atau yang lebih buruk lagi, bagaimana jika ia dituntut atas pelecehan seksual?
“Sazana! Di mana kamu?”
Suara bariton itu masih jelas terdengar. Pasti ia berada tepat di depan ruangan ini.
“Jangan ketahuan, please ... jangan ketahuan ...,” gumamnya berbisik, bermonolog sembari terus membekap mulutnya sendiri dan menenangkan napasnya yang ngos-ngosan.
Sazana mendesah lega saat suara langkah lelaki itu tak lagi terdengar. Perlahan ia memutar kenop pintu dan melongok, celingukan memastikan sekali lagi kalau bosnya sudah tidak berada di sana atau mengintainya.
Dan ketika kakinya hendak melangkah, dirinya menyesalkan keputusan mengapa terburu-buru keluar dari ruang linen dan tidak menunggu sebentar saja. Karena pada saat itu, dengan gerakan cepat sang bos sudah ada di hadapannya dan mendorongnya masuk kembali ke ruang linen dan membekap mulutnya.
“Hmph!”
“Sst! Jangan berani teriak, atau sekuriti akan ke sini semua! Kamu gak mau mereka sampai tahu apa yang sudah terjadi sama kita malam itu, kan?” ancamnya.
Sazana hanya bisa membulatkan bola mata mendengar ultimatum yang meluncur dari mulut sang bos besar. Ia kemudian mengangguk sembari memberi isyarat pada atasannya itu agar melepaskan bekapan dari mulutnya.
“Tapi janji, jangan teriak.”
Sazana mengangguk lagi. Dan dengan kerelaan yang setengah-setengah lelaki yang di dadanya tersemat name tag bertuliskan ‘Rama’ itu melepaskan tangan yang sejak tadi membekap bibir ranum Sazana.
Posisi keduanya terlalu dekat kali ini, tentu saja tanpa disengaja. Namun, hal itu sukses membuat atmosfer di sekitar keduanya berubah memanas.
“S-saya mau kembali bekerja, Pak Rama,” ucap Sazana berusaha menghindar. Dengan lancar ia memanggil nama lelaki itu berdasarkan apa yang baru saja ia baca di kemeja Ramandaka, bosnya. Namun, Ramandaka sama sekali tidak menggeser tubuhnya untuk memberi akses bagi Sazana agar bisa melepaskan diri.
“Kamu mau kabur lagi, Geg?”
Astaga! Kepala Sazana serasa berputar-putar kala mendengar suara berat lelaki itu memanggilnya dengan sebutan yang ia ingat jelas persis seperti yang ia dengar di malam itu—malam pernikahannya yang batal dan bukan hanya persis, lelaki itu jelas adalah lelaki yang sama yang telah menghabiskan malam indah dengannya.
Indah? Tentu saja. Sazana bahkan mau saja andai diminta untuk mengulang malam itu. Namun, ketika tahu bahwa lelaki yang tidur dengannya adalah bos besar—entah manajer atau bahkan bisa saja pemilik Ramz hotel tempatnya bekerja—Sazana menelan kembali pikiran kotornya.
“S-saya ... enggak, Pak. Di sini gerah. Bagaimana kalau ngobrolnya di tempat lain?”
“Saya gak mau. Nanti kamu kabur lagi.”
‘Mati aku! Jangan-jangan bener, nih, aku bakal dipecat karena tidur sama dia.’
“Kenapa kamu kabur, hah?” tanya lelaki itu, kini sembari berkacak pinggang. “Sikap kamu itu sangat tidak bertanggung jawab, tahu?”
“M-maaf, Pak. Tentang malam itu ... saya mabuk dan gak bermaksud—“
“Apa kamu gak mengenali bos kamu sendiri, Sazana? Sampai kamu berani melakukan itu?” potong Ramandaka.
“S-saya janji gak akan bilang siapa-siapa.” Sazana mengangkat dua jari ke udara sebagai simbol damai atau suer alias sumpah, lalu menggantinya dengan kelingking ketika melihat wajah Ramandaka masih masam.
“Kamu pikir itu yang saya takutkan? Apa menurut kamu saya peduli anggapan mereka misal tahu kalau saya tidur sama kamu? Bukan itu, Sazana!”
“Lantas apa, Pak? Saya juga sudah minta maaf, karena saya gak sadar dan gak ingat, apakah saya yang merayu Bapak, atau Pak Rama yang memanfaatkan keadaan.”
“Apa katamu?”
“Maaf, Pak. Itu sebabnya saya buru-buru pergi pagi harinya. Karena saya gak mau memperpanjang masalah.”
Mendengar penjelasan Sazana, Ramandaka justru makin gondok. Ia lantas menyandarkan tangannya di tembok dan mengunci tubuh Sazana di sana.
“Apa kamu tahu? Semua yang kita lakukan malam itu adalah pertama kali buat saya.” Ramandaka menjeda kalimatnya, tetapi rahangnya menegang kala melihat ekspresi terkejut yang tergambar di wajah gadis berparas ayu yang kini berada dalam kungkungannya.
“Kenapa muka kamu seperti itu? Kaget? Gak percaya? Itu kenyataannya. Jadi, karena kamu yang sudah merebut keperjakaan saya, jangan berani kabur sebelum kamu bertanggung jawab atas perbuatan kamu itu.”
Kali ini, ekspresi tak percaya itu berubah jadi raut tak terima saat mendengar ancaman dari lelaki itu.
“Gak kebalik ya, Pak? Harusnya saya yang meminta pertanggung jawaban. Bapak juga pasti tahu kalau saya masih perawan. Dan apa yang terjadi malam itu, karena kita gak sengaja. Saya mabuk. Kalau Pak Rama, saya gak tahu. Saya gak mau menuduh, karena itu saya juga gak menuntut. Itu murni ketidak sengajaan. Jadi, mari kita selesaikan dengan cara damai.” Sazana membela diri.
Mungkin akan aneh jika ada yang tahu kalau Sazana menolak untuk bertanggung jawab atas malam itu. Siapa yang tidak kenal Ramandaka Prameswara? Lelaki tampan rupawan, mapan, keturunan kasta satria di Bali yang harta warisannya saja tak akan habis dimakan entah berapa turunan. Belum lagi aset pribadi miliknya yang dia hasilkan sendiri.
Dan lelaki itu kini tak memberi jarak antara dirinya dan Sazana yang hanya keturunan sudra. Bahkan Rajata pun tak sudi melanjutkan pernikahan dengan gadis itu.
Bisa jadi itulah alasan Sazana tidak menuntut apa-apa dari Ramandaka, karena dia merasa tidak pantas bagi lelaki mana pun.
Namun, tunggu dulu! Jangan terburu menyalahkan Sazana karena kita tidak tahu isi kepala Ramandaka yang jadi rebutan para gadis baik perawan maupun janda. Bisa saja dia meminta pertanggung jawaban dalam bentuk yang tidak menyenangkan. Atau bahkan merugikan.
“Kalau kamu gak mau bertanggung jawab, saya bisa sebarkan ke semua orang tentang apa yang kita lakukan malam itu.”
“Bapak ngancam saya?”
“Gak sama sekali. Saya hanya minta tanggung jawab kamu.”
Sazana sudah didera kegalauan karena kehilangan keperawanan, tetapi belum cukup juga dengan ancaman si bos yang tidak masuk akal. Pada akhirnya, tidak ada cara lain selain mengalah.
“Apa yang harus saya lakukan sebagai tanggung jawab saya?”
“Gampang, kok. Kamu cukup turuti perintah saya, gitu aja. Kalau kamu berani nolak atau kabur dari saya, kamu harus siap-siap kisah malam indah kita akan dinikmati oleh orang lain.”
***
Sazana sudah selesai menumpahkan semua air mata yang ia tahan sejak malam kegagalan pernikahannya. Bahkan dadanya sudah mau meledak sejak ia memergoki sendiri Rajata bercinta dengan perempuan lain di kamar hotelnya di malam sebelum pernikahan mereka. Kini, setelah mendapat siksaan batin dari Rajata, lalu bosnya yang secara tidak sengaja tidur dengannya, Sazana tak lagi bisa menahannya.
Bagaimana ini? Matanya sembab. Ia tidak mungkin kembali ke balik front desk dengan penampilan seperti ini. Mau didempul setebal apa pun, kantung matanya yang bengap pasti akan terlihat juga.
Dadanya juga masih sesak, masih sesenggukan.
Ia meratapi nasib buruknya, sekarang. Tidak tahu apakah memang dia pantas menerima perlakuan semacam ini karena berasal dari keluarga biasa-biasa saja, ataukah memang nasib yang selalu membuat lelucon untuknya.
Sazana mengambil ponselnya, menghubungi Alya untuk mengabarkan kalau dia akan pulang lebih awal karena tidak enak badan. Orang tuanya juga tidak akan bertanya, karena tahu kalau anak gadisnya sedang dirundung duka. Mereka tidak mau terlalu banyak bicara atau memberi wejangan.
Namun, balasan dari Alya membuat niat Sazana urung juga.
Alya
Jangan pulang, Sas. Pak Rama nyariin kamu, tuh. Sensi banget kayaknya dia.
Apa boleh buat? Sazana bergegas dan setengah berlari menuju ke ruang si bos yang sudah duduk di kursinya dengan muka cemberut.
“Ke mana aja kamu? Saya cariin dari tadi.”
“Maaf, Pak. Saya dari troilet.”
“Ke toilet berjam-jam ngapain aja? Buatin saya kopi. Gulanya satu sendok kecil aja. Terus sama camilan yang biasa dibeli sama mbok Asih, dia pasti sudah siapkan di meja pantri.”
Sazana yang masih menyembunyikan wajah sembabnya dari sang bos sejak tadi, mendesah cukup keras. Biar saja si bos dengar, karena permintaan dia keterlaluan.
Sazana bukan room boy atau office girl yang tugasnya membawakan makanan atau minuman atau membersihkan ruangan si bos, tapi permintaan Ramandaka membuat Sazana kesal. Baru awal hukuman saja permintaan orang itu sudah keterlaluan.
“Kenapa Bapak gak minta sama mbok Asih sekalian? Kan itu tugas dia. Saya resepsionis, Pak.”
“Bos kamu siapa?”
Sazana menghela napas lagi.
“Jangan lupa, kamu harus tanggung jawab.”
Lagi, gadis itu mengalah dan membuatkan apa yang lelaki itu minta. Namun, karena kesal dia asal saja saat memasukkan gula ke dalam kopi yang dia buat untuk Ramandaka.
Sazana berhenti sejenak. Air matanya menetes lagi. Karena teringat Rajata sekaligus kebodohannya malam itu. Benar memang, apa yang dia lakukan sama-sama dosa dengan bunuh diri, tetapi dia tidak menyangka kalau akhirnya sangat tidak menyenangkan. Sudah kehilangan keperawanan, hilangnya sama orang aneh seperti Ramandaka.
Sazana kembali ke ruangan bosnya dengan membawakan apa yang diminta lelaki itu. Senyum puas terulas di wajah tampan ala oppa Korea dengan pahatan rahang tegas dan sedikit cambang tipis yang menambah maskulinitas lelaki itu.
Dengan penuh rasa percaya diri, Ramandaka meraih cangkir di hadapannya dan meneguk cukup banyak cairan yang ada di dalamnya.
Ia menyemburkan cairan hangat itu yang untungnya tidak mengenai Sazana.
“Kamu kasih gula berapa banyak ini, Saz? Kamu mau buat saya diabetes?” semprotnya yang tidak ditanggapi oleh gadis itu melainkan hanya menunduk.
Ia tidak kuat lagi. Sejak tadi sudah menahan perasaan yang sudah meletup-letup di rongga dadanya. Apa yang terjadi barusan tak jauh berbeda dengan kisah awal mula pertemuannya dengan Rajata. Karena salah menyajikan minuman.
Ramandaka menyadari gelagat aneh dari pegawainya itu. Ia lantas bangkit dari kursinya dan mendekat pada Sazana yang masih menunduk dan menahan isak.
“Saz, kamu—kamu menangis? Apa saya terlalu keras sama kamu? S-saya cuma bercanda, Saz. Jangan nangis, donk.”
Sazana tidak menjawab melainkan memutar tubuhnya dan keluar dari ruangan Ramandaka dan meninggalkan lelaki itu dalam keadaan galau. Ia dilanda gegana alias gelisah galau merana karena sikap Sazana yang berubah murung.
“Apa itu karena saya?”
***
*Mbok : panggilan untuk perempuan yang usianya lebih tua (sama arti dengan mbak, yuk, atau kakak)