Sazana mengurung diri seharian di kamar selepas pulang kantor. Setelah si bos bikin ulah dengan memerintahnya melakukan apa yang dia inginkan, lalu membuatnya kelimpungan seharian karena harus membagi kapan menyambut dan membantu reservasi dan kapan harus datang dan memenuhi panggilan Ramandaka, Sazana kini tidak mau keluar dari kamar barang sebentar pun.
Kedua orang tuanya tentu saja masih cemas. Berusaha mengerti kondisi sang putri, keduanya hanya mengawasi dari kejauhan.
“Bu, Sasa gak apa-apa, kan? Bapak cemas banget lihat kondisinya. Bapak nyesel kenapa kemarin merestui hubungan dia dengan b******n itu!” geram Jaya, ayah Sazana.
Sang istri hanya mengusap lengan Jaya yang sudah didera rasa marah dan bersalah atas apa yang telah menimpa putrinya.
Semula ia tidak setuju saat Sazana dengan bangga dan raut bahagia, mengenalkan Rajata padanya. Terlebih beberapa bulan kemudian mereka datang lagi dengan berita yang bagi Jaya merupakan hal yang tergesa.
Jaya bukannya tidak setuju pada Rajata, tetapi melihat bagaimana singkat hubungan antara putrinya dan lelaki itu, menjadikan Jaya begitu takut untuk berharap. Namun, berbeda dengan Sazana.
Jaya mengetuk pintu kamar Sazana demi memastikan anak gadis satu-satunya itu baik-baik saja. Dia tidak bisa terus-menerus diam dan membiarkan Sazana semakin terpuruk.
“Sas ... keluar, Geg. Bapak mau ngomong,” panggil Jaya dengan intonasi yang dia jaga betul agar putrinya tidak merasa takut untuk bertemu dengan bapak dan ibunya. Jaya ingin menjadi orang tua yang baik dengan mendengar keluh kesah putrinya jika memang ada. Dan inilah saat yang tepat.
Sazana membuka pintu dan berdiri di hadapan ayah dan ibunya yang menanti dengan raut cemas.
“Ada apa, Pak, Bu? Kenapa Bapak dan Ibu wajahnya tegang gitu? Sasa jadi takut” ujarnya kemudian tersenyum.
“Kamu baik-baik aja kan, Geg? Gak sedang nangis di dalam sana?” Kali ini sang ibu akhirnya berani menyuarakan apa yang selama ini ia cemaskan. Sazana menggeleng sembari mengatupkan bibirnya.
“Sasa Cuma males keluar, Bu. Malu sama tetangga.”
Midia, sang ibu hanya bisa merengkuh Sazana dan mendekap gadia itu dengan erat. Ia tak tega saat mendengar alasan Sazana mengurung diri dalam kamat. Tentu saja, dia malu karena pernikahannya yang batal.
“Gak apa-apa, Geg. Ada ibu sama bapak di sini yang akan jadi tameng kamu. Kamu gak boleh malu. Rajata dan keluarganya yang seharusnya malu karena sudah menyiakan perempuan baik seperti kamu.”
Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Sazana enggan keluar dari kamar. Perkataan ayah dan ibunya itu tak akan pernah bisa tidak membuatnya terharu. Ia tidak mau kedua orang tuanya ikut sedih kalau melihatnya menangis.
“Iya, Bu. Sasa gak apa-apa. Rajata sudah mengambil keputusan itu jadi Sasa harus hargai. Biarlah. Yang penting gak ada yang ngusik Bapak sama Ibu. Sasa Cuma takut kalau Sasa keluar, keliatan tetangga, terus Bapak Ibu juga jadi ikut kena gunjing. Kan tahu sendiri kayak apa tetangga kita.”
Kedua orang tua Sazana mengangguk paham sekaligus lega karena anak gadisnya ternyata baik-baik saja. Meski sebenarnya mereka tak tahu betapa remuk hati Sazana, tidak mengapa bagi Sazana.
Sepasang suami istri itu memeluk putri tunggal mereka dengan penuh kasih. Sazana akan baik-baik saja, meski sakit itu masih tersisa. Mereka akan tetap memberi dukungan bagi putrinya dan begitu juga Sazana akan berusaha untuk bangkit dari keterpurukan.
***
Sazana melangkah malas memasuki hotel tempatnya bekerja. Ia enggan bertemu dengan bosnya yang aneh bin ajaib itu karena pasti akan ada babak baru dalam drama ‘pertanggung jawaban’ yang lelaki itu buat. Sazana tak mengerti, terbuat dari apa hati dan pikiran lelaki itu sampai sebegitunya mempermainkan perasaan Sazana dengan menjadikannya bahan bulan-bulanan hanya karena kejadian semalam yang mana keduanya sama-sama mengalami kerugian.
Ingin rasanya Sazana memutar balik langkah saat di halaman parkir, lelaki itu sudah menyejajari langkah Sazana dengan langkah panjangnya.
“Hari ini kamu punya tugas baru. Saya ada meeting dengan beberapa klien di beberapa lokasi dan kamu harus menemani ke mana pun saya pergi,” ucap lelaki itu, masih terus mengikuti langkah gadis yang sudah tidak gadis lagi karena mahkotanya sudah ia berikan pada si bos aneh ini.
“Saya gak bisa, Pak. Ada banyak pekerjaan di frontline dan pegawai resepsionis hanya saya dan Alya.”
“Ah, kata siapa hanya kamu dan Alya? Ada Aldo dan Putra juga, kan? Dan saya kemarin sudah menambahkan tiga pegawai lagi untuk menggantikan kamu kalau sewaktu-waktu saya membutuhkan kamu.”
Langkah Sazana terhenti kala mendengar kalimat terakhir lelaki yang sejak tadi terus mengekor langkahnya. Ia lantas menoleh dan menghunjamkan tatapan tajam dan ekspresi kesal pada lelaki itu. Wajah Ramandaka tampak tenang, seolah tidak terusik sedikit pun dengan raut penuh amarah yang Sazana berikan.
“Jangan tegang gitu wajahnya, nanti kamu cepet tua. Ingat, kan, kamu harus menuruti keinginan dan perintah saya kalau gak mau kisah tentang malam indah kita itu menyebar.”
Lelaki ini makin lama makin keterlaluan dengan menjadikan Sazana sebagai objek yang bisa ia permainkan dengan ancaman murahan itu. Jika begini terus, Sazana tidak akan bisa fokus bekerja dan apa yang ia kerjakan tak akan membawa kebaikan. Ia harus menghentikan semua ini.
“Memangnya Pak Rama gak malu kalau ada yang tahu Bapak sudah tidur sama saya? Bagaimana kalau ada yang berkomentar, selera Bapak rendah sekali karena mau bercinta dengan perempuan kelas menengah ke bawah seperti saya ini? Kalau Bapak gak malu, silakan aja, Pak. Saya gak takut.”
“Kamu berani nantangin saya? Bagaimana kalau nanti kamu jadi terhina karena mereka tahu kamu sudah gak perawan? Bagaimana kalau mereka menghina kamu sebagai cewek matre, atau perempuan gak bener karena sudah tidur dengan laki-laki yang kamu gak kenal? Kamu gak takut?”
Sazana sesungguhnya takut akan ancaman Ramandaka. Kini tuntutannya berubah, dari meminta pertanggung jawaban menjadi lebih otoriter dan seolah semua yang dia lakukan adalah untuk memanipulasi Sazana.
“Saya sudah pernah terhina lebih dari ini ketika mantan calon suami saya meninggalkan saya di hari pernikahan kami. Jadi hal semacam ini bukan apa-apa buat saya. Katakanlah saya rusak, tetapi seperti yang sudah pernah saya jelaskan, itu semua terjadi di luar kendali saya, karena saya patah hati, saya mabuk, saya gak jadi bunuh diri dan memilih mengikuti saran orang aneh yang akhirnya justru mengambil keuntungan dengan meniduri saya dan sekarang dia masih gak puas dengan apa yang udah dia dapatkan dan terus mengancam saya!”
Sazana tampak begitu terbawa emosi. Wajahnya yang kuning langsat tampak memerah dengan dua bola mata yang juga sudah berkaca. Ia menghentikan kalimatnya, tetapi tidak mengalihkan pandangannya dari sepasang manik gelap milik lelaki di hadapannya. d**a gadis itu naik turun karena emosi yang sudah sampai di ubun-ubun dan tak sanggup ia tahan lagi. Ia tak peduli beberapa pasang mata yang memerhatikan dan telinga yang ikut mendengarkan keributan antara dirinya dan si bos besar.
Semua bisa memastikan, setelah ini, Ramandaka pasti akan memecat Sazana.
“Kalau Bapak mau sebarkan, silakan. Bilang aja sama mereka semua kalau saya sudah tidur sama Pak Rama. Saya menggoda Pak rama dan membuat Bapak melakukan itu. Saya yang murahan, saya yang gak pantas untuk mendapatkan hal baik sehingga pantas untuk bapak permainkan seperti ini.”
Tatapan Sazana masih terhunus pada lelaki yang kini diam mematung dan tak bisa berkata-kata. Beberapa kali ia mengangkat tangannya demi meredakan amarah Sazana, tetapi percuma saja. Ini semua terjadi juga akibat ulahnya sendiri.
“Kenapa Bapak diam? Bapak mau pecat saya? Baik.” Sazana melepaskan brosnya dan meletakkan di telapak tangan Ramandaka.
“Mulai sekarang saya resign. Semoga bapak sudah puas dengan semua ini dan tolong jangan lagi ganggu saya karena jika ditanya siapa yang menderita kerugian paling besar. Itu adalah saya.