Bab 5 - Kedatangan Si Bos

1110 Kata
“Kamu gak kerja, Geg?” tanya Jaya pada putrinya yang sudah sesiang ini masih duduk-duduk di teras menikmati udara pagi hari yang cerah sekalian berjemur agar tubuhnya yang terasa penat bisa terasa segar dan stresnya berkurang. Gadis itu menoleh sebentar, kemudian kembali memusatkan perhatian pada hamparan hijau di hadapannya. “Sasa mau cari pekerjaan lain, Pak.” “Lho, kenapa?” Jaya yang mendengar perkataan anak gadisnya, sontak terbelalak. Ia lantas duduk di samping putrinya yang kini tengah menggulir layar ponselnya. “Ada apa, Geg?” “Cuma bosen aja. Gak apa-apa kan, Pak? Sasa janji kalau nanti sudah dapat kerjaan baru Sasa bakal—“ “Kamu itu mencemaskan apa, sih, Nak? Kamu mau kerja atau tidak, kamu tetap tanggung jawab bapak dan ibu. Kecuali nanti kamu sudah menikah—“ Jaya menghentikan kalimatnya, sadar kalau dia sudah melakukan kesalahan yang akan membuat Sazana sedih lagi. “Maafkan bapak, Geg. Bapak Cuma—“ Sazana tersenyum ke arah sang ayah, meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Meski sebenarnya tidak. “Sasa sudah membaik, Pak. Bapak jangan merasa bersalah begitu. Ini justru kesalahan Sasa karena memaksakan kehendak. Tapi Sasa tegasin lagi, Sasa baik-baik aja, Pak,” ujarnya, masih dengan senyum tulus yang sengaja ia ulas agar sang ayah tidak terus-menerus mencemaskannya. Justru benar seperti yang dia katakan. Ini semua adalah salahnya karena tidak mendengarkan nasihat sang ayah yang baginya melarang dirinya untuk segera mengakhiri masa lajang. Ia seharusnya tidak terburu-buru, lagi pula usianya baru menginjak dua puluh lima tahun. Belum bisa disebut perawan tua jika dilihat dari kaca mata orang kota. Sayangnya, dia tinggal di desa, di mana perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi, tidak perlu berkarir, karena ujung-ujungnya tinggal di rumah dan urus anak juga. Meski di Bali sedikit berbeda, karena masih ada emansipasi wanita, di mana perempuan bisa bebas bertukar peran dengan lelaki, tetap saja yang namanya orang desa mayoritas masih berpikiran kolot. Mendengar jawaban Sazana yang terdengar yakin, Jaya tidak lagi memaksakan pikirannya pada putri semata wayangnya dan cukup dengan mendesah lega. Jika Sazana berusaha menyembunyikan perasaannya yang hancur, maka Jaya dan Mida pun akan secara diam-diam melindungi sang putri dari luka yang disebabkan oleh laki-laki. Bukankah itu memang tugas seorang ayah terhadap putrinya? *** “Mau cari siapa?” tanya Jaya pada seorang lelaki yang baru saja turun dari mobil sedan mewah yang ia bawa masuk ke jalan kecil dan tiba di depan sebuah rumah sederhana dengan halaman cukup luas yang biasa digunakan untuk menjemur padi. Lelaki itu mengulurkan tangan, hendak menyalami Jaya, tetapi Jaya hanya menyalami sedikit dan kembali menatap lelaki itu dengan tatapan dingin. “Benar ini rumah Sazana, Pak?” Lelaki itu balas bertanya. “Kamu siapa? Ada perlu apa?” “Saya Ramandaka, kedatangan saya kemari untuk—“ “Siapa yang datang, Pak?” Sazana langsung mematung saat melihat siapa lelaki gagah yang berdiri berhadapan dengan sang ayah di halaman rumahnya. “Pak Rama? Ada perlu apa Bapak kemari?” “Kamu kenal dia, Geg?” Sazana hanya mengangguk menjawab pertanyaan sang ayah. Mendengar itu, Jaya melirik sekilas penampilan Ramandaka, kemudian mendekat pada Sazana. “Apa perlu Bapak usir laki-laki ini? Kelihatannya dia punya niat gak baik,” ujar Jaya yang masih trauma jika melihat lelaki bermobil datang untuk menemui Sazana. Cukup sudah penghinaan yang Rajata berikan pada putri dan keluarganya. Jika ada laki-laki lain yang berniat melakukan hal yang sama, Jaya tak akan tinggal diam. “Gak usah, Pak, gak apa-apa. Dia bos Sasa di kantor.” Jaya mengangguk paham, kemudian menepuk lengan sang putri sebelum meninggalkannya bersama dengan bos aneh yang beberapa hari lalu sudah menyulitkan hari-harinya. “Gak mempersilakan saya masuk?” pancing Ramandaka karena beberapa saat mereka hanya terdiam, berdiri mematung di tempat dan tak ada kalimat pembuka dari keduanya entah dengan mempersilakan duduk oleh Sazana, atau mengutarakan tujuan kedatangannya oleh Ramandaka. “Bapak belum jawab pertanyaan saya. Saya gak mau mempersilakan orang asing yang niatnya membuat masalah dalam hidup saya.” “Kamu ketus sekali. Saya datang untuk memeriksa kondisi kamu. Apa kamu baik-baik saja? Karena sudah dua hari kamu gak masuk kerja,” ujarnya tanpa rasa bersalah. Bukankah seharusnya dia tahu alasan Sazana tidak masuk bekerja lagi? Jelas-jelas Sazana sudah mengatakan kalau dirinya berhenti bekerja saat itu juga. Kenapa lelaki itu masih bertanya? “Apa Bapak gak dengar waktu saya bilang—“ “Dengar, tapi saya gak mengabulkan. Ingat, kamu masih pegawai kontrak. Kamu bisa kena penalti kalau tetap melanggar perjanjian yang sudah kamu tanda tangani. Lagi pula, tentang malam itu—“ “Kalau masih membahas itu, lebih baik Bapak pergi!” Sazana mendorong tubuh Ramandaka agar kembali ke mobilnya. Namun, lelaki itu melakukan perlawanan dengan bertahan. Lagi pula percuma juga Sazana mengerahkan kekuatan, secara proporsi tubuh, dia jelas kalah telak. Meski dengan body sintal, tetap saja akan kalah dibanding Ramandaka yang bertubuh tinggi tegap. “Tunggu dulu, Saz! Saya kan belum selesai ngomong.” Sazana melepaskan tangannya dari tubuh Ramandaka kala mendengar lelaki itu tampaknya ingin menjelaskan sesuatu. “Bilang aja sekarang. Kalau ini tentang malam itu, saya gak mau dengar, apa lagi kita sedang ada di rumah. Kasihan ayah saya kalau tahu anak perempuannya sudah gak perawan gara-gara one night stand sama orang asing.” “Saya bukan orang asing. Saya bahkan kasih kesempatan kamu untuk bertanggung jawab.” Sazana mendelik saat Ramandaka kembali mengungkit masalah tanggung jawab. “Oke, oke. Maaf. Saya to the point aja. Satu, kamu gak saya izinkan untuk resign. Dua, kamu masih terikat kontrak. Tiga—“ “Jangan bertele-tele, Pak.” “Intinya kamu tetap harus masuk kerja.” “Sudah, kan? Kalau sudah Bapak bisa pergi sekarang.” Sazana memutar tubuh hendak pergi, tetapi Ramandaka menarik lengan gadis itu hingga gadis itu berada di dalam rengkuhannya. Dengan cepat, satu tangan Ramandaka melingkar pada pinggang Sazana, menjaga agar gadis itu tidak terjatuh, atau bahkan melarikan diri. “Nah, ngobrol kayak begini kan enak, gak jauh-jauhan. Gak usah teriak-teriak ketus-ketusan.” “Lepasin saya, Pak! Nanti dilihat bapak ibu saya dan tetangga juga!” Sazana berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Ramandaka, tetapi ternyata tidak segampang itu. “Memang kenapa kalau mereka lihat? Biar mereka tahu sekalian. Kalau mau diarak dinikahkan, malah bagus, kan?” komentar lelaki itu, sembari menyeringai. “Jadi saya gak perlu repot-repot buat minta pertanggung jawaban yang cuma dapat balasan sikap ketus dari kamu.” Sazana tak berkutik. Ia masih berusaha melepaskan diri, tetapi belum berhasil, sang ayah keburu datang dan memergoki keduanya masih dengan posisi yang tentunya menimbulkan pikiran yang tidak-tidak. Dua bola mata Jaya nyaris mencelus menyaksikan lengan seorang laki-laki dengan santai melingkar erat di tubuh putrinya. Tak ada alasan lagi baginya untuk diam kali ini. “Sazana! Masuk ke dalam!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN