Sazana sudah tak tahu bagaimana cara bicara dengan lelaki satu ini agar tidak sesuka hati datang ke rumahnya, karena ayahnya tak menyukai kehadirannya atau lelaki mana pun jika itu tujuannya adalah untuk bertemu dengannya.
Bukan tanpa alasan mengapa ayah Sazana begitu antipati pada tiap lelaki, meski untuk saat ini baru Ramandaka yang berani muncul meski kemarin sudah diusir dengan cara tidak hormat. Untuk sekarang, ketenangan dan kebahagiaan Sazana adalah yang utama bagi ayah dan ibunya.
Hari ini, Sazana sudah siap dan hendak berangkat mengendarai motor matic-nya, tetapi terhalang dengan kedatangan mobil sedan yang berhenti tepat di depan motornya yang siap melaju. Tak berapa lama, seorang lelaki dengan postur yang Sazana kenali betul—dengan atau tanpa busana lengkap—lantas menghampirinya.
“Kembalikan motornya. Kamu berangkat bareng saya!” titah sang bos yang hendak ia tolak, tetapi dari raut wajah Ramandaka jelas laki-laki itu tidak menerima penolakan. “Kamu gak capek melawan terus, Saz? Apa susahnya nurut dan masuk ke dalam mobil? Toh, dalam waktu singkat, tanpa perlu panas-panasan, kamu bisa tiba di hotel. Gampang, kan?”
“Tapi saya gak suka cara yang Bapak tawarkan. Nanti akan mengundang pertanyaan pegawai lain dan saya gak mau itu terjadi,” jawab Sazana dengan nada dingin.
“Memangnya kenapa? Tinggal bilang kalau kita gak sengaja papasan. Kelar urusan. Atau jangan-jangan kamu yang berpikiran yang enggak-enggak.” Ramandaka mengutarakan apa yang ada di kepalanya tanpa mempertimbangkan suasana hati Sazana saat ini. Dan perkataan Ramandaka itu sontak membuat Sazana memutar tubuh dan urung berangkat bekerja.
“Eh, tunggu, tunggu! Iya, maafin saya. Saya gak bermaksud bikin kamu marah. Saya cuma bercanda, Saz. Ayo naik dulu. Kamu boleh marah, ngambek, ngamuk, atau apa pun. Yang penting naik dulu.” Sazana masih bergeming di tempat. Namun, Ramandaka yang tak sabar akhirnya mendorong tubuh gadis itu perlahan. “Ayoklah, Saz. Mumpung bapak kamu gak lihat. Nanti dia marah lagi sama saya karena nyulik anaknya.”
Sazana ingin tertawa karena ternyata si bos punya takut juga terhadap ayahnya, tetapi melihat paras rupawan lelaki yang ada di sampingnya itu, ia jadi merasa kesal. Lelaki itu, lho, yang telah mengambil keperawanannya. Terlepas siapa pun yang memulai, kenyataannya adalah dia tidak lagi virgin sekarang. Dan itu pun dia lakukan dengan orang asing. Bukan sebuah pemaksaan, tetapi juga tanpa rasa cinta. Lantas bagaimana ia bisa meminta pertanggung jawaban?
Jika ia lakukan, yang ada dia akan dianggap mencari kesempatan.
Sazana akhirnya patuh saja, karena ia tahu, melawan pun percuma. Dia sedang berurusan dengan bos besar Ramz hotel tempatnya bekerja. Meski kesal, tetapi dia masih butuh pekerjaan. Namun, tentu saja, dengan jarak dan intensitas komunikasi yang terbatas. Dia tidak mau dianggap sengaja mendekati Ramandaka karena kekayaan dan apa yang lelaki itu miliki.
Meski wanita pada umumnya pasti akan mencari lelaki yang mapan dalam hal finansial, Sazana masih tahu diri. Ia tidak mau kejadian yang menimpa dirinya saat bersama Rajata terulang kembali.
“Saya turun di sini aja, Pak. Kan sudah dekat dengan hotel, nanti saya bisa jalan kaki ke sana,” ucap Sazana sembari mempersiapkan barang-barang bawaannya.
“Lho, kenapa? Kan bisa turun nanti pas sudah sampai di depan hotel. Gak ada yang bakal lihat kita, kok.” Ramandaka tak sadar memegang tangan Sazana saat mencegahnya turun, dan ketika sadar, Sazana segera melepaskan genggaman tangan lelaki itu.
“Gak apa-apa, saya gak mau jadi bahan gunjingan aja. Terima kasih tumpangannya, Pak. Saya turun dulu.”
***
“Saz, kamu tadi berangkat sama siapa? Tumben banget aku lihat kamu jalan kaki dari depan,” komentar Alya, saat mereka sedang makan siang di kantin pegawai. Seperti biasa, Sazana menikmati bekal yang dibawakan oleh sang ibu demi menghemat gajinya.
“Aku ... itu, aku dianter bapak tapi karena bapak buru-buru ke sawah jadi aku diturunkan di depan,” dustanya, kemudian kembali fokus pada makanannya yang baru tersentuh satu sendok, sementara makanan Alya sudah nyaris tandas.
Dan ketika Sazana hendak menyuapkan makanannya, urung ia lakukan karena kantin mendadak heboh. Beberapa pegawai yang sudah selesai menghabiskan makanannya, segera bangkit dan kembali bekerja. Sazana baru menyadari penyebab hal itu ketika ia celingukan dan menemukan Ramandaka tengah berdiri di sampingnya.
Sazana hendak menutup kotak makannya dan menyusul teman lain yang berhamburan. Bagaimana pun ia juga takut kalau kedatangan Ramandaka ke kantin bertujuan untuk melakukan inspeksi untuk memastikan pegawai-pegawai yang sengaja berlama-lama di kantin dan tidak segera kembali bekerja meski jam istirahat sudah berakhir.
“Mau ke mana kamu? Itu makanan kamu belum habis. Kayaknya baru dimakan sedikit. Habiskan dulu, saya temani.”
“S-saya sudah selesai makan, Pak. Mau kembali bekerja.” Sazana bangkit dari kursinya, tetapi tak bisa ke mana pun saat tangan Ramandaka menahan kotak makan Sazana tetap di atas meja.
“Habiskan dulu makanannya, kasihan ibu kamu bawain bekal gak kamu habiskan. Ayo, saya temani makan. Barusan saya pesan bakso.”
Mau tidak mau, Sazana kembali duduk di kursinya. Ia hanya memerhatikan saat Ramandaka menikmati baksonya, dengan wajah yang sesekali mengernyit. Pada akhirnya, mangkuk yang masih penuh terisi makanan itu ia singkirkan dari hadapannya.
“Kenapa gak dihabiskan, Pak? Baksonya gak enak, ya?” tanya Sazana, setengah berbisik. Ramandaka menggeleng, karena memang bukan itu alasan dia tidak memakan makanan yang berbahan dasar daging dan tepung itu.
“Bukan gitu. Saya sebenernya memang gak suka bakso.”
“Lah, terus kenapa dibeli? Itu kan namanya buang-buang uang, Pak,” protes Sazana dengan raut jengkel.
‘Bos satu ini selain aneh juga emang nyebelin. Ngapain juga pesan semangkuk bakso kalau yang dimakan cuma kuah aja?’ Sazana menggerutu dalam batinnya. Matanya memerhatikan gelagat aneh yang terlihat dari Ramandaka. Beberapa kali lelaki itu melirik ke arah kotak makan yang ia bawa.
“Itu, kamu bawa bekal apa?” tanya Ramandaka, terlihat berbinar. Bukannya celamitan, ia hanya tidak pernah menikmati makanan rumahan buatan ibu seperti yang Sazana bawa. Tampak sekilas tadi, menunya sangat menggugah selera.
“Oh, ini. Bukan makanan istimewa, Pak. Cuma balado terong, tahu tempe, sama lele goreng.” Sazana menjawab canggung. Melihat gelagat Ramandaka, gadis itu tidak tega juga. Meski dia tidak tahu apa yang ada dalam batin si bos, tetapi sepertinya laki-laki itu ingin sedikit saja mencicipi masakan ibu Sazana.
“Ehm ... Pak Rama mau coba? Tapi ini tadi sudah saya acak-acak—“
“Gak apa-apa. Kalau boleh saya mau nyobain masakan ibu kamu.”
Sazana mengangguk, kemudian membuka kotak bekalnya dan menyodorkan pada Ramandaka yang semula mencoba sepotong terong balado yang warna bumbu sambalnya merona merah begitu menggugah selera.
“Hati-hati makannya, Pak. Ibu saya kalau masak sukanya pedes.”
Belum selesai gadis itu bicara bicara, Ramandaka sudah mendesis kepedasan dan meraih botol minum Sazana lalu meneguk isinya. Bukannya kapok, dia justru lanjut menyantap lainnya hingga tandas.
Sazana sama sekali tidak ilfil melihat Ramandaka makan dengan lahap. Secara tidak langsung, dalam batin ia membandingkan Ramandaka dengan Rajata yang bahkan tidak mau menyentuh masakah ibunya dengan berbagai alasan saat dulu berkunjung ke rumahnya. Dan yang dilakukan oleh Ramandaka kali ini justru membuat Sazana merasa salut.
Ramandaka mengusap ingus dan keringat di keningnya dengan tisu yang ia bawa di dalam saku celananya. Ia kemudian meringis canggung saat melihat Sazana memerhatikan dirinya sejak tadi.
Bagi Ramandaka, masakan ibu Sazana luar biasa lezatnya. Ia merasa seperti berada di rumah yang sebenarnya, meski sejak dulu dia tidak tahu seperti apa rasanya masakan rumahan. Masakan seorang ibu. Maklum saja, ada beberapa pelayan yang punya tugas masing-masing; beberapa orang khusus memasak dan menyiapkan makanan sesuai request tiap anggota keluarga. Jadi, untuk apa ibunya memasak sendiri kalau ada orang lain yang bisa mengerjakan?
“Maaf, makanan kamu jadi habis karena saya, nanti saya ganti,” ucapnya.
“Gak usah, Pak. Gak apa-apa. Saya juga agak gak berselera makan sejak tadi. Dan saya juga minta maaf, itu sendok dan semua peralatan makan sudah kena mulut saya. Seharusnya saya cucikan dulu tadi sebelum Bapak makan.”
‘Aduh! Kenapa juga aku ngomong kayak gitu? Kan salah dia main rebut dan ngabisin makanan orang, kenapa aku yang jadi sungkan perkara sendok?’
“Nanti pulang kerja mampir dulu ke ruangan saya. Ada yang mau saya omongin sama kamu. Ini penting banget. Jadi, tolong usahakan, oke. Lagi pula, kamu berangkatnya sama saya, kan? Jadi pulangnya nanti saya antar aja.”
“Jangan, Pak. Nanti ayah saya marah. Saya bisa minta jemput ayah saya. Pak Rama langsung pulang aja. Terima kasih sudah jemput saya pagi tadi. Saya balik bekerja dulu.” Sazana bangkit dan bergegas meninggalkan Ramandaka yang tidak sempat mencegah kepergiannya.
“Jangan lupa, pulang kerja nanti ya, Saz!” teriaknya, tak peduli apakah Sazana dengar atau tidak.
“Mau apa kamu sama dia pulang kerja nanti?” Sebuah suara mengagetkan Ramandaka yang kemudian menoleh ke arah sumber suara. Seseorang telah berdiri di sana dan membuat suasana hatinya yang membaik karena masakan ibu Sazana yang lezat, berubah buruk seketika.