Bab 7 - Si Lebay

1348 Kata
“Papa sudah katakan sama kamu, Rama. Kamu itu sudah berumur, seharusnya memikirkan calon istri dan pernikahan. Bukan malah menggoda pegawai-pegawai muda di hotel ini,” ucap seorang lelaki yang usianya sekitar tujuh puluhan lebih. Ramandaka yang memang bandel sejak orok hanya melengos saja ketika lelaki itu bicara. Dia sudah biasa dengan wejangan yang lelaki itu sampaikan dari a sampai z dan kembali lagi ke a, tak ingin ambil pusing. “Coba papa tanya, berapa usia kamu sekarang? Mana pernah papa sama mama dengar kamu dekat dengan perempuan? Kamu bergaulnya sama si Pujo terus, lama-lama kamu jadi playboy kayak dia.” “Lah, Papa aneh, deh. Belum dekat sama cewek salah, kayak pujo yang banyak cewek juga salah. Nih, Papa lihat. Aku bersahabat sama Pujo sudah dari kecil tapi nyatanya mana ada aku gonta-ganti pacar? Papa tenang aja. Kalau jodoh gak ke mana. Sudah ya, Pa. Aku ada urusan.” Kepergian Ramandaka hanya ditanggapi dengan gelengan oleh lelaki paruh baya itu, sama seperti beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun yang lalu. Sang ayah sampai lelah dibuatnya mengomel mengharapkan putra semata wayang bisa memberikannya cucu dengan segera. Sementara itu, Ramandaka yang akhirnya berhasil kabur dari omelan sang ayah, mengelus d**a lega dan kembali ke ruangannya. Ia tak sabar menanti jam pulang di mana dirinya akan bertemu lagi dengan Sazana. Namun, dia yakin, kali ini semua akan berjalan dengan cara yang baik. Tidak ada pemaksaan apa lagi pertengkaran. Sayangnya, yang dia harapkan justru tidak terjadi, karena mendadak ayah Sazana datang menjemput dan membuat Ramandaka harus menanti sambil gigit jari, karena Sazana tidak juga memberi kabar padanya meski hanya dengan satu kalimat saja. Ramandaka sudah memberikan nomor ponselnya langsung di telepon genggam Sazana dan berharap gadis itu akan sedikit kesambet setan cinta sehingga bersedia mengirim wasap ke nomornya. Namun, tak ada satu pun kabar gembira semacam itu. Bahkan tak pernah dia lihat Sazana mengupdate story-nya. “Apa jangan-jangan nomorku dihapusnya? Atau mungkin status dia diprivate dan statusku disenyapkan, jadi dia gak akan intip statusku?” gumamnya sendiri. Dia lantas mengintip jam tangannya dan mendesah keras ketika jarum pendek menunjuk ke angka tujuh. “Sudahlah ... gak mungkin bakal ketemu kalau gini, sih. Aku pulang aja.” Baru saja Ramandaka hendak bangkit dari tempatnya, dia terpikirkan satu ide yang mungkin akan sedikit menghibur kekecewaannya hari ini. Ia mengambil ponsel dan jemarinya mulai bergerak cepat di atas layar, kemudian dengan segera ia update dan memutuskan untuk menunggu setidaknya sepuluh menit untuk memastikan apakah Sazana akan mengintip statusnya itu, karena gadis itu sudah membatalkan janji sepihak, mungkin saja dia ingin memastikan apakah Ramandaka sudah pulang atau belum. ‘Masih menanti di sini’ tulisnya di status. Namun, hingga hampir setengah jam menanti, Sazana tampaknya tidak tertarik dengan apa pun yang ia unggah. Kekecewaan yang Ramandaka rasakan membuatnya malas untuk pulang. Namun, satu pesan masuk dari sang ibu membuatnya menghela napas kasar kemudian bangkit dan siap untuk menerima wejangan lain dari sang ratu keluarga Prameswara. Baginda Ratu Rama, pulang sekarang! Mama mau bicara sama kamu! *** Sazana mengintip dan menggulir ponsel yang sejak tadi tidak ia sentuh sama sekali. Kehidupannya menjadi tidak asyik sejak dirinya gagal menikah. Bagaimana tidak? Beberapa bahkan banyak kawan kerabat dan sahabat yang mempertanyakan bagaimana perasaan dan kondisinya. Hanya rekan kerja yang tampaknya tidak terlalu tertarik dengan kisah menyedihkan yang menimpanya. Atau mungkin ia tidak tahu kalau sedang menjadi bahan gunjingan selama ini. Sazana mengabaikan pesan yang sudah hampir menyentuh angka seribu, pastinya dengan pertanyaan yang sama. Bahkan pesan dari Ivana tak pernah ia buka meski isinya berulang kali ucapan maaf yang dia kirimkan. Ia hanya berguling di kasur dan memainkan ponsel untuk memutar playlist-nya. Tak sengaja di layar muka aplikasi musiknya, nama Ramandaka muncul begitu saja. Keningnya berkerut, tak sengaja otaknya dihinggapi rasa penasaran. Ia ingin tahu, seperti apa selera musik lelaki aneh seperti Ramandaka. Sazana memasang hands free dan mulai mendengarkan playlist yang mayoritas diisi dengan lagu-lagu melankolis dan instrument. Sazana mematikan lagu yang belum satu menit ia dengarkan, kemudian menjauhkan ponsel darinya. Sekilas ia teringat perkataan Ramandaka saat di kantin dan terbersit rasa bersalah di benaknya. Namun, dengan cepat ia usir dan memutuskan untuk segera tidur. Sayangnya, baru sebentar memejamkan mata, ponselnya berdenting. Ramz Bos Saz, keluar sebentar. Keningnya berkerut. Bagaimana bisa nama ‘Ramz Bos’ bisa ada di sana? Ia tidak merasa menyimpan nomor lelaki itu. “Apaan? Ramz Bos ... pede sekali orang ini. Dikira penting banget aku punya nomor dia?” gerutu Sazana, kemudian membiarkan saja pesan itu hingga masuk pesan kedua. Ramz Bos Saz, nanti aku katundung ayah kamu Membaca itu, senyum Sazana tersungging. Ia masih ingat bagaimana raut wajah sang ayah ketika mengusir Ramandaka yang pasrah saja meski sempat ngotot bertemu dengannya. Udah, Pak. Pulang aja. Saya mau tidur. Ramz Bos Saaaaz, baru jam delapan! Keluar, saya masih pakai baju kerja, berarti saya masih bos kamu! Kamu mau saya bikin ribut di sini, terus ayah kamu ngamuk-ngamuk ganggu tetangga, terus besoknya kamu jadi bahan omongan tetangga kamu yang usil? Sazana bangkit dan melangkah mengendap agar sang ayah tidak tahu kalau dirinya menemui Ramandaka diam-diam. Namun, niatnya ini bukan untuk mencari gara-gara atau tidak patuh pada sang ayah, melainkan agar si bos aneh-nya itu tidak bikin gara-gara malam-malam begini. “Bapak ngapain kurang kerjaan banget datang malam-malam?” desis Sazana sembari melotot ke arah si bos. “Karena saya nunggu kamu di kantor, tapi kamu sama sekali gak ngabarin. Kenapa kamu pergi gitu aja? Terus ... kenapa kamu gak lihat wasap?” pancingnya. Ia berharap Sazana mengintip status yang ia buat saat dirinya masih di kantor. “Saya lihat wasap kok. Kan saya sudah balas pesan Pak Rama. To the point aja, Pak. Ada apa? Saya ngantuk banget, mau tidur.” Ramandaka terdengar mendesah. “Ya udah, meski saya mau agak lama, tapi karena kamu mau tidur, saya gak mau ganggu kamu, jadi saya ngomong sekarang aja. Saz ... ibu kamu nerima katering gak? Saya mau pesan katering buat makan siang saya di kantor setiap hari kecuali hari Minggu, karena saya gak ngantor di hari Minggu.” Sazana tidak tahu harus bereaksi seperti apa, karena selama ini, baru Ramandaka yang melakukan hal ini terhadapnya. “Saz, jawab dan kasih kepastian saya malam ini juga biar saya bisa tidur dengan tenang.” “Saya gak tahu, Pak. Saya harus tanya sama ibu dulu.” “Kalau begitu masuk sekarang dan tanyakan. Saya bayar sekarang juga untuk satu bulan. Kontan.” Sazana tidak menjawab pertanyaan Ramandaka dan justru menguap karena ia memang mengantuk sejak tadi. Namun, desakan Ramandaka membuatnya tak bisa berkutik selain patuh dan melakukan apa yang dia minta. “Saya tanyakan dulu. Bapak pulang aja sekarang. Nanti kalau sudah dapat jawaban, saya kabari Pak Rama segera.” “Saya butuh jawaban sekarang, Saz.” “Pak, saya gak bisa jawab sekarang. Ibu juga harus menimbang-nimbang, bapak saya juga pasti akan ikut kasih pendapat. Pulang aja, deh. Sudah malam.” Ramandaka pasrah ketika wajah Sazana berubah memberengut. Ia tidak mau merusak suasana hati gadis itu, karena nantinya dia justru tidak mendapat apa yang dia mau. Dia ingin menikmati masakan ibu Sazana setiap hari. Titik. “Oke, saya pulang. Tapi please, kabarin saya malam ini.” Anggukan Sazana berhasil membuat Ramandaka bersedia untuk pulang demi meminimalisir keributan antara dirinya dan gadis itu, atau bahkan dengan bapaknya. Sazana kemudian bergegas masuk dan berniat untuk mengabari sang ibu, menanyakan tentang penawaran Ramandaka. Sesungguhnya, itulah yang mereka harapkan, karena beberapa waktu terakhir sawah dan ladang mereka tidak menghasilkan keuntungan seperti biasanya. Jika sang ibu menerima tawaran Ramandaka, yang artinya mereka akan mendapat pemasukan tambahan. Meski risikonya juga tidak main-main, artinya Sazana harus terus berurusan dengan laki-laki aneh itu. Sazana menggulir ponselnya sembari menuju ke kamar sang ibu. Dan ketika melihat deretan story wasap dan ada nama ‘Ramz Bos’ tertera di sana, penasaran ia mengintip status yang diunggah lelaki itu. Ada dua status. Saat membaca status kedua, Sazana berdecak sembari memutar bola matanya. ‘Mulai besok bakal makan masakan rumahan.’ “Idih, lebay! Belum juga disetujui udah update status!” Sazana melangkah kesal dan memanggil sang ibu yang ada di kamarnya. "Bu, si lebay pesen katering!" *** *katundung: diusir
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN