Bab 8 - Berandai-andai

1225 Kata
Sazana tiba di kantor dengan bungkusan di tangannya. Isinya adalah sekotak makanan yang dipesan oleh Ramandaka. Ia menggerutu saja sejak di rumah, tetapi sang ibu yang memerhatikannya hanya tersenyum. Berbeda lagi dengan reaksi ayahnya. Tak jauh berbeda dengan sikap Sazana yang menggerutu, Jaya tampak memberengut sejak semalam karena sang istri menerima job yang diberikan oleh Ramandaka. Ia mengetuk pintu ruangan Ramandaka pagi-pagi sekali saat tiba di kantor. Namun, lelaki itu tidak juga membuka pintu atau setidaknya mempersilakan Sazana masuk. Ia justru mengirimkan pesan pada Sazana melalui wasap. Ramz Bos Nanti aja, Saz. Sekalian pas makan siang bawain ke kantin! Saya masih repot. “Ih, nyebelin! Repot kok bisa kirim chat. Minta dibawain ke kantin pula. Apa maksudnya, coba? Dasar bos banyak mau!” gerutu Sazana yang mau tak mau menuruti permintaan si bos, seperti pesan ibunya pagi tadi. ‘Geg, pak Rama kan customer kita, jadi kamu sikapnya yang baik, ya. Ibu tahu, kamu sebel sama dia, meski ibu gak tahu apa alasannya. Tapi, dia kan gak jahat sama kamu, jadi kamu juga gak boleh jahat sama dia, ya.’ “Sabaar ... sabaar ...,” ujarnya sembari berjalan dengan langkah gontai menuju ke meja resepsionis dan bertemu Alya yang sedang berdandan di sana. Melihat wajah kawannya ditekuk, Alya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. “Belum sarapan, Saz?” tanya Alya. Sazana menggeleng. “Pantesan bawa dua kotak makan.” “Eh, anu ... ini pesenan pak Rama,” jawab Sazana, berharap Alya tidak akan bertanya lebih lanjut mengenai makanan itu. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. “Kok tumben? Bukannya pak Rama udah punya langganan katering sendiri?” Sazana mengedikkan bahu. “Aku juga gak tahu. Mungkin langganan dia udah gak masak, Al. Tau’, ah! Aku Cuma ngikut kata ibu disuruh bawa dobel buat si bos, ya udah aku bawa.” Padahal yang sebenarnya terjadi, Ramandaka sudah datang duluan untuk merayu Sazana agar dibolehkan langganan katering pada ibunya. Dan Sazana akhirnya setuju juga meski ia kesal karena itu artinya kejadian seperti ini bakal terus terulang. Kejadian apa memangnya? Tentu saja momen sweet bagi Ramandaka karena bisa makan berdua di kantin dengan menu yang sama persis dengan milik Sazana. Ramandaka tidak henti mengulas senyum bahagia, makan dengan lahap, bahkan tak peduli ketika beberapa pegawai kasak-kusuk membicarakan dirinya yang sedang duduk berhadapan dengan Sazana yang terus cemberut karena tidak bisa pergi ke mana-mana demi memenuhi pesan dan wejangan sang ibu. “Udah belum makannya, Pak? Saya juga mau makan,” ketusnya pada Ramandaka yang dengan sengaja memperlambat makannya. Momen ini jarang terjadi bagi Ramandaka. Karena Sazana memang hobi main kucing-kucingan dengannya sejak Ramandaka berlangganan katering di ibu Sazana. Padahal bagi Ramandaka, makan bersama itu menyenangkan. Masalahnya, makan bersama dengan siapa dulu? “Ya kamu tinggal makan aja? Kenapa? Mau pake sendok saya?” Ramandaka mengulurkan sendoknya yang dibalas dengan wajah kecut oleh Sazana. “Saya mau makan sama teman-teman di sana, Pak. Lagian kenapa sih saya harus nemenin Bapak makan di sini? Bapak kan bukan bayi, bukan teman saya, juga bukan suami saya. Saya gak ada kewajiban begini. Pesan katering kok minta bonus ditemani makan!” Ramandaka menelan makanannya kemudian meminum minuman dari botol Sazana, yang membuat gadis itu mendengkus kesal. "Sebentar lagi saya juga bakal jadi suami kamu.” Ramandaka mengucapkannya dengan santai menunjuk ke arah Sazana dengan dagunya. “Itu, kalau kamu nanti sampe hamil, saya jelas harus tanggung jawab dan nikahin kamu, kan?” Mendengar perkataan Ramandaka, Sazana bangkit, kemudian membuka botol minumannya dan menyiramkan ke kepala Ramandaka yang masih menikmati makannya dengan lahap. Lelaki itu jelas kaget, tetapi tidak bereaksi selain mengambil sapu tangan dari sakunya dan mengeringkan air yang membasahi rambut dan kemeja birunya. “Jangan ngomong sembarangan ya, Pak! Saya akan pastiin itu gak akan terjadi!” desis Sazana, setengah berbisik agar tidak ada yang mendengar kecuali dirinya dan Ramandaka. Ia kemudian mengentak kaki meninggalkan si bos yang berusaha tetap tenang meski beberapa pegawai yang ada di sana tengah memerhatikannya dan beberapa ada yang membicarakannya. Ia hanya mendesah sebentar kemudian melanjutkan menikmati makannya tanpa peduli hal lainnya. *** Tidak cuma Sazana yang kesal dengan permintaan Ramandaka untuk memasak bekal makan siang untuknya. Jaya pun merasa tidak senang dengan keputusan sang istri yang setuju saja dan menerima pesanan Ramandaka. Seharian ia memberengut memandangi sang istri yang dengan semangat memasukkan makanannya ke dalam wadah plastik untuk dibawa oleh Sazana pagi tadi. “Ya gak apa-apa lah, Pak. Lumayan kita jadi ada pemasukan tambahan. Apalagi kan ibu suka memasak. Jadi sekalian buatin bekal makan Sazana, ibu bisa masak lebih untuk bosnya.” Mida menjelaskan dengan senyum merekah melihat lembaran uang di tangannya. Ramandaka membayarnya tunai melalui Sazana saat makan siang. Pastinya sebelum insiden penyiraman terjadi. Ramandaka bahkan memberikan lebihan untuk mereka simpan. “Itu cuma alasan dia saja supaya bisa dekat dengan anak kita, Bu. Kayak gak tahu gayanya orang laki saja. Suka cari-cari kesempatan!” omel Jaya, yang ditanggapi senyuman lagi oleh sang istri. Mida bahagia sekali karena mendapatkan pesanan katering. Dulu ia memang buka usaha katering, tetapi karena ditipu, mereka kehabisan modal, akhirnya libur untuk sementara. “Berarti Bapak ngaku donk kalau Bapak juga suka cari-cari kesempatan,” ledek Mida yang membuat jaya makin kesal kemudian bangkit dari duduknya. “Terserah Ibu saja. Tapi kalau sampe laki-laki itu menyakiti Sasa, bapak sunat dia, biar tahu rasa!” ujarnya sembari ngeloyor meninggalkan Mida yang masih tersenyum-senyum. Namun, senyumnya pudar ketika melihat anak gadisnya pulang dengan wajah kesal. Mida mendekat kemudian membelai rambut panjang Sazana yang disanggul rapi. Ia baru saja pulang kerja, dan tampaknya ia pulang lebih awal. “Kok sudah pulang, Geg? Kenapa mukanya cemberut gitu?” tanya Mida, memerhatikan bungkusan di tangan Sazana. “Bekalnya gak dimakan?” “Gak sempat, Bu. Ini tadi Sasa cepet-cepet kelarin kerjaan terus izin pulang. Kepala sasa sakit. Sasa masuk dulu ya, Bu.” Gadis itu menyelonong masuk ke kamar kemudian meletakkan kotak makannya di atas nakas. Ia tidak mau ibunya kecewa kalau tahu bahwa makan siangnya sama sekali belum ia sentuh. Ini semua gara-gara Ramandaka, begitulah menurut Sazana. Dan baru saja tiba di rumah, teleponnya berdering cukup nyaring. Ia memeriksa dan mengabaikannya saat tahu kalau yang menghubunginya tak lain dan tak bukan adalah bosnya yang menyebalkan. Perkataan Ramandaka tentu saja mengganggu pikiran Sazana yang tak terpikirkan sama sekali mengenai hal itu. “Pede banget sih jadi orang!” gerutunya. “Memangnya beneran bisa hamil ya meski cuma ngelakuin satu kali?” gumamnya sendiri yang kemudian bergidik karena hanya membayangkannya saja ia merinding. Ngeri rasanya kalau sampai ia benar-benar hamil dan harus menjalani kehidupan pernikahan dengan Ramandaka. “Gak jadi suami aja ngerepotin banget, apalagi jadi suami.” Sazana mengambil kembali ponselnya, kemudian hendak menon aktifkannya. Namun, saat membaca satu pesan dari seseorang yang tak pernah ia pikirkan akan kembali menghubunginya, Sazana mengurungkan niat. Ia membuka pesan tersebut dan membacanya. Ivana Saz, gimana kabar lo? Semoga baik dan gak benci sama gue setelah kejadian itu. Gue bener-bener minta maaf atas apa yang Rajata lakuin ke lo dan keluarga lo. Gue gak tahu sama sekali kalau dia bakal berbuat begitu. Kalo lo baca chat ini, please bales, ya Saz. Sazana membacanya kembali beberapa kali dan merasakan nyeri yang masih hilang-timbul dalam dadanya. Ia tidak akan bisa dan tak mau memaksakan diri, tetapi ada banyak hal yang seharusnya Ivana tahu. Bahkan Rajata juga harus tahu. Maka ia kembali mengambil ponselnya dan mulai mengetik balasan untuk Ivana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN