Bab 9 - Pacar Sandiwara

1135 Kata
“Rama, mau ke mana kamu?” tanya Diandra, sang ibu yang memegang kekuasaan lebih tinggi di kerajaan Prameswara. Bahkan sang ayah pun tunduk patuh pada titah sang ratu. Saking bandelnya putra tunggalnya ini, ia jadi satu-satunya yang selalu membangkang. “Mau ke rumah temen, Ma. Kenapa? Ada lagi yang mau dibahas selain perintah supaya aku cepet nikah?” tanya Ramandaka dengan gaya badungnya. Usianya sudah bukan remaja lagi, tetapi sikap bengalnya tetap saja melekat. “Anak ini. Ingat umur, Ram. Kamu itu sudah harusnya nikah dan kasih mama cucu. Bukan kelayapan aja ke rumah Pujo lah, terus sekarang ke mana lagi? Temen yang mana? Memang berapa banyak temen yang kamu punya, hah?” omel sang ibu pada anak lelaki yang kini sudah menjadi pria dewasa. Tiga puluh lima tahun usianya. Namun, menikah adalah hal terakhir di otaknya. Bergonta-ganti pacar pun ia tak pernah. Wajar saja kalau kedua orang tuanya mulai cemas. Apalagi kebiasaannya datang ke pusat kebugaran, jangan-jangan anak lelaki satu-satunya itu .... “Jangan mikir aneh-aneh, Ma. Emangnya mama pernah liat aku bawa laki-laki ke rumah ini?” “Rama! Astaga ... PAPA! Anakmu, Pa! Ini urus. Aduh, kepala mama sakit banget ...,” keluh Diandra sembari memijit keningnya. Ramandaka yang melihat sang ibu tampak kesakitan, akhirnya menghampirinya dan menyodorkan segelas air padanya. “Minum dulu, Ma. Mama baik-baik aja, kan?” Sabda dengan langkah tergopoh datang ketika mendengar panggilan nyaring dari istrinya. Ia turut membantu Ramandaka untuk membaringkan Diandra dan meletakkan sebuah bantal sofa di kepalanya. “Puas kamu kalau sudah begini, Rama? Apa sih yang kamu cari? Papa sudah tawarkan anak kolega papa, kamu juga gak mau.” Sabda turut mengomeli putra tunggalnya. “Kamu lihat mama kamu sampai seperti itu.” Atmosfer di ruangan itu mendadak memanas. Sabda tak puas dengan apa yang telah ia katakan, akhirnya menambahkan, “papa gak mau tahu. Kamu akan papa jodohkan dengan putri sahabat papa. Kamu suka atau gak, kamu harus terima. Kecuali kamu bisa bawa calon istri ke hadapan kami.” “Aku sudah bilang sama Mama dan Papa, aku pasti akan menikah, nanti kalau sudah bertemu yang cocok. Dan aku gak mau dijodohkan karena ... karena aku sudah punya calon sendiri. Sudah ya, Pa, Ma. Aku pergi dulu.” *** Sazana masih melakukan hal yang kini menjadi rutinitas baru baginya; datang lebih awal, masuk ke ruangan Ramandaka dan meletakkan bekal makanan di sana. Ia sengaja melakukan seperti itu agar tak perlu bertemu dengan lelaki itu. Ia bahkan selalu memakan makan siangnya di meja resepsionis agar bisa menghindar dari bosnya yang aneh. Bersembunyi dan main kucing-kucingan sudah ia lakoni beberapa hari ini. Namun, hari ini tak ada alasan baginya untuk kabur, karena meski sudah datang sangat pagi, Ramandaka ternyata tidak pulang ke rumah. Ia memanfaatkan ruangannya untuk bermalam dan menemukan Sazana masuk, meletakkan makan siang, dan hendak pergi, Ramandaka tak ingin kehilangan kesempatan dan bergegas mencekal lengan gadis itu. Niat hati membuat adegan romantis, yang ia terima justru wajah ketus Sazana. “Lepasin tangan saya, Pak. Ini di kantor, jangan aneh-aneh,” ucap Sazana. “Memangnya saya pernah aneh-aneh sama kamu? Saya cuma mau bicara. Dari kemarin-kemarin kamu ngajak saya main kucing-kucingan, sekarang mumpung ketemu, tolong dengerin saya dulu.” Sazana mengurungkan niatnya untuk pergi dan mempersilakan si bos untuk bicara. “Saz, mau ya jadi pacar saya.” Sazana tidak sedang makan, tetapi nyaris tersedak. Matanya mengerjap tak percaya bosnya akan mengatakan hal itu padanya. Mungkin Ramandaka sedang demam. Tidak sedang demam saja Ramandaka selalu bertingkah aneh, apalagi kalau demam, Sazana hanya bisa membatin. “Saz, tolongin saya.” “Apa, Pak? Tolongin Bapak dengan jadi pacar Bapak?” tanya Sazana. Ramandaka mengangguk. “Kamu mau kan, jadi pacar saya?” “Bapak gak keracunan masakan ibu saya, kan? Aneh banget tiba-tiba ngomong kayak begitu setelah hampir dua minggu kayak orang yang terobsesi sama saya.” Kali ini Ramandaka yang terkejut saat mendengar Sazana mengatakan kata tersebut. “Terobsesi? Sama kamu? Kamu gila?” Sazana tak menanggapi perkataan Ramandaka melainkan hendak pergi, karena ia tahu, pembicaraan yang semacam ini pasti tak akan ada ujungnya. Namun, Ramandaka kembali menarik tangan Sazana. Cukup keras hingga membuat Sazana terjatuh dalam pelukannya dan dengan sigap, Ramandaka merangkulkan tangan lain untuk menjaga agar gadis itu dan dirinya tidak terjatuh. Keduanya bertatapan cukup lama sebelum Sazana akhirnya tersadar untuk menjauhkan diri dari bosnya. “Ini di kantor, Pak. Kita harus menjaga sikap. Saya gak mau ada pegawai lain yang lihat.” Lagi keduanya terdiam untuk sesaat. “Saya gak tahu apa tujuan Bapak mengatakan hal seperti tadi. Tapi—“ “Saya gak mau dijodohkan, Saz. Jadi saya harus bawa perempuan ke hadapan orang tua saya untuk jadi pacar saya atau calon istri atau apa pun,” jawab lelaki itu. “Jadi saya mohon jadilah pacar saya. Pacar sandiwara saya, supaya mereka gak lagi menjodohkan saya.” Sazana sedikit terkejut dengan perkataan Ramandaka. Sama seperti apa yang Rajata pernah katakan, bahwa dirinya sebelumnya pernah dijodohkan dan tak berhasil karena Rajata jauh lebih memilih Sazana. Memilih yang akhirnya untuk dibuang seperti sekarang. Sesaat hatinya terasa sesak. Apakah memang laki-laki selalu berbuat hal tanpa berpikir hanya agar bisa lepas dari satu masalah tanpa sadar dirinya telah membuat masalah lain—masalah baru untuk orang lain. “Saya akan bayar berapa pun kamu minta.” “Saya gak butuh uang Bapak.” “Kalau gitu kamu bilang aja, apa yang kamu mau. Saya akan lakukan sebagai bayaran yang pantas untuk bantuan kamu. Please, Saz ....” Sazana tampak berpikir sejenak, tetapi Ramandaka kembali menambahkan kalimat yang sifatnya memprovokasi Sazana agar menuruti permintaannya. “Sebenarnya aku gak perlu sampai seperti ini, karena kamu seharusnya masih bertanggung jawab atas kejadian malam itu. Tapi gak apa-apa, deh. Saya beri keringanan kamu. Apa aja yang kamu minta sebagai bayaran, asalkan kamu bersedia mengabulkan permintaan saya.” Lagi-lagi kejadian itu dia bawa sebagai senjata, dan Sazana kesal dibuatnya. Namun, dalam keadaan terpojok seperti ini, Ramamdaka bisa sjaa berbuat apa pun. Dan malam panas antara dirinya dan Ramandaka mungkin saja akan jadi konsumsi publik kalau lelaki itu sampai lepas kendali. Nanti bagaimana perasaan kedua orang tuanya kalau tahu anak yang mereka banggakan berhasil menjaga keperawanan justru kehilangan keperawanan itu karena kesalahan satu malam? “Berapa lama saya harus bersandiwara?” tanya Sazana akhirnya. Ramandaka mengedikkan bahu. “Dua bulan, mungkin. Atau ... setidaknya sampai orang tua saya percaya dan berhenti mengatur-ngatur perjodohan dengan si A B C atau Z.” “Oke, saya mau bantu Pak Rama, tapi ada syaratnya.” “Katakan.” “Jangan lagi ganggu saya selama di luar sandiwara. Bapak harus berhenti ngikutin saya, makan satu meja sama saya, atau datang ke rumah saya. Urusan kita hanya selama sandiwara berlangsung di depan kedua orang tua Bapak. Di luar itu, kita gak boleh berurusan sama sekali kecuali untuk masalah pekerjaan. Apa Bapak setuju?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN