Bab 10 - Menjalankan Misi

1309 Kata
Ramandaka tentu saja tidak setuju dengan permintaan Sazana. Tujuan dia selalu mendekati gadis itu kan sudah jelas. Mana mungkin ia terus menempel kalau bukan karena ketertarikan. Tidak ada yang tidak mengagumi Ramandaka, bahkan banyak perempuan mengejar-ngejarnya tetapi hanya Sazana yang tidak terlalu tertarik padanya. “Saya kan sudah bilang, kita hanya ketemu saat Bapak butuh bantuan saya untuk jadi pacar sandiwara Bapak. Kenapa ini Pak Rama masih juga ngintilin saya ke mana-mana?” tanya Sazana kesal. Namun, Ramandaka tidak pedulikan perkataan gadis itu “Nih denger, ya. Bagaimana bisa keluarga saya percaya kalau kamu itu pacar saya, kalo kita gak pernah berduaan, gak pernah ketemu? Mereka malah curiga nanti.” “Tapi perjanjiannya kan gak gini, Pak!” sergah Sazana dengan suara setengah berbisik. “Saya juga bukan bermaksud mengingkari janji, saya hanya menyesuaikan. Gak ada salahnya kan sesekali kita makan bareng atau pergi bareng?” Sazana yang sudah tidak berselera untuk makan akhirnya tidak menanggapi. Ia mendengarkan beberapa rekan kerjanya yang membicarakan mereka dan menganggap Sazana aji mumpung dan dengan sengaja menempel terus pada Ramandaka. “Ya sudah kalau begitu. Saya kembali ke ruangan saya. Kamu, setelah makan siang segera ke ruangan saya. Ada yang mau saya bicarakan masalah ini.” Ramandaka bangkit dan berlalu sementara Sazana terdiam di tempat dan termenung. Ia tak membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika nanti misi antara dirinya dan Ramandaka mulai mereka jalankan. Mungkin saja semua akan berjalan dengan baik, atau justru sebaliknya. Mengingat betapa absurd bosnya itu, wajar jika hingga kini dia belum juga memiliki calon pendamping. “Saya bukan gak laku, Saz. Saya hanya pemilih,” ujarnya, ketika Sazana menemui Ramandaka di ruangannya setelah jam istirahat, tepat seperti permintaan sang bos. “Wajar saya lakukan itu, karena perempuan jaman sekarang kan ... ya, kamu tahu sendiri.” Sazana tidak menanggapi, hanya menyimak saja karena sejak tadi, Ramandaka tidak langsung menuju ke inti permasalahan. Namun, lama-kelamaan kesabaran Sazana yang hanya setipis kapas akhirnya habis juga. “Bapak minta saya datang ke sini untuk dengerin bualan ala orang kaya yang pemilih masalah jodoh?” ketus Sazana yang nyaris bangkit dari kursinya dan pergi. Namun, Ramandaka menghalangi niat Sazana dengan berdiri di samping kursinya. “Jangan marah dulu, Saz. Inget kita punya misi penting. Anggap aja ini untuk membayar tanggung jawabmu—“ BRAKK! Sazana menggebrak meja di hadapannya dan bangkit berhadapan dengan lelaki dengan tinggi menjulang di hadapannya. Ia tidak takut, ia mulai muak dengan omong kosong dan candaan yang baginya sama sekali tidak lucu. Sementara Sazana dikuasai emosi, Ramandaka justru tampak menciut. Ia berdiri di hadapan gadis itu dengan kedua tangan terangkat ke udara, tanda bahwa ia menyerah. “Jangan marah, Saz. Kan memang itu yang harus kita omongin. Masalah misi pacar sandiwara dan—“ “Malam itu bukan salah saya, Pak. Mungkin bapak yang menjebak saya. Saya ingat Pak Rama ngajak saya minum dan setelah itu saya gak inget lagi tapi tiba-tiba waktu sadar, Bapak sedang—“ Sazana tidak kuasa melanjutkan apa yang hendak ia ucapkan karena itu akan membawa angannya kembali ke malam laknat itu. Malam di mana ia seharusnya menjadi pengantin Rajata dan melepaskan keperawanan demi mereguk kenikmatan malam pertama bersama lelaki itu, tetapi justru melakukannya dengan lelaki lain yang kini sedang berada di hadapannya. “Mari kita lupakan apa yang terjadi malam itu, Saz. Kali ini saya minta tolong sama kamu sungguh-sungguh. Please ....” Bukan karena Sazana perempuan gampangan, bukan juga karena dia tidak lagi marah pada Ramandaka, melainkan karena dia tindak ingin memperpanjang masalah, maka ia mulai mendengarkan permintaan lelaki itu. Sazana duduk kembali di tempatnya dan menunggu Ramandaka bicara. “Jadi begini, saya mau meminta kamu untuk jadi pacar pura-pura saya, karena saya dijodohkan dan saya gak suka. Saya pasti sudah cerita bagian itu. Masalah terbesarnya, ibu saya sudah tahu kalau saya punya pacar, yaitu kamu. Dan dia mau saya undang kamu ke acara makan malam di rumah kami.” Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Ramandaka membuat bulu kuduk Sazana meremang. Lagi, bayang-bayang tentang Rajata yang belum menguap dari ingatannya, mendadak berseliweran nakal di kepalanya. Dulu mereka juga memulai perkenalan dengan kedua orang tua dari makan malam, kemudian Rajata yang tak pernah mengatakan apa pun tentang keluarganya, nekat untuk mempersunting Sazana—lebih tepatnya atas permintaan Sazana yang merasa hubungan dua tahun sudah cukup untuk meyakinkan hatinya untuk melangkah ke jenjang pernikahan. “Makan malam, Pak?” tanya Sazana dengan bibir bergetar. “Tapi—“ “Gak ada tapi-tapi, Saz. Please ... kalau kamu mau bantu saya, ini adalah tahap pertama yang harus kita lalui. Ketemu kedua orang tua saya. Saya sudah pesankan gaun malam untuk kamu, dan salon di hotel ini akan mempersiapkan penampilan kamu untuk besok malam. Kamu hanya harus menyiapkan mental dan saya harap kamu gak akan melarikan diri karena ini berhubungan dengan keberlangsungan kehidupan saya.” *** Tepat seperti apa yang diucapkan Ramandaka sehari sebelumnya. Bahkan sebelum selesai jam kerja, seseorang utusan Ramandaka sudah menjemput Sazana di meja resepsionis dan memintanya untuk naik ke lantai dua di mana ruangan salon dan spa berada. Ia hanya bermodal dengkul dan mengikuti arahan beberapa penata gaya dan make up artist yang Ramandaka sewa khusus untuk Sazana. Sementara itu, Ramandaka sibuk menyelesaikan pekerjaannya dan akan menjemput Sazana setelahnya. Ia sudah berpesan pada semua yang turut berperan agar melakukan yang terbaik. Setelah menjalani tritmen selama beberapa jam, Sazana sudah siap di ruangan dan masih menanti kedatangan Ramandaka. Lelaki itu ternganga saat melihat penampilan Sazana yang sudah dipoles make up tipis dan natural dengan gaun malam berwarna navy yang dipilih sendiri oleh Ramandaka karena menurutnya, Sazana memiliki karakter kuat dan misterius yang selalu membuatnya penasaran. Namun, tentu saja pendapatnya itu tidak ia sampaikan langsung pada Sazana. Gengsi jelas menjadi alasan. “Kenapa, Pak? Saya aneh ya? Kok Bapak liatin saya kayak gitu?” tanya Sazana yang sehari-hari sudah terbiasa memoles wajahnya dengan make up tetapi kali ini sedikit terasa berbeda karena orang lain yang memoles dirinya. “Gak apa-apa. Kamu cantik banget, Saz. Ehem, maksud saya kayaknya kamu sudah siap, jadi ayok kita berangkat,” ajak Ramandaka sembari menyodorkan lengan agar Sazana menggamitnya. Namun, gadis itu menatap Ramandaka ragu. “Kenapa, Saz? Ayok berangkat sekarang. Sudah jam enam sore, lho. Nanti kita bisa terlambat.” “Ehm ... Pak Rama gak mandi dan berdandan dulu?” “Nanti aja. Saya sudah mandi sebelum jemput kamu. Memangnya kamu gak bisa cium aroma saya sudah wangi gini? Ayok ...” Sazana mulanya hanya memandangi saja lengan Ramandaka, lalu beralih ke wajah ganteng lelaki itu yang memberi kode padanya untuk segera menggamit lengannya tanpa ragu. Keduanya berjalan melewati beberapa pegawai yang memandang dengan ternganga sama seperti Ramandaka saat pertama kali melihatnya, Sazana segera melepaskan rangkulannya dari lengan Ramandaka. Namun, lelaki itu kembali meraih tangan Sazana untuk ia genggam. “Jangan lepasin genggaman tangan saya, saya juga gak akan lepasin kamu. Nanti kamu hilang digenggam sama yang lain,” ujarnya yang membuat Sazana sedikit tersipu. Namun, dia tahu bahwa semua ini hanya sandiwara yang sebentar saja akan berakhir. Ia tidak memberi respon atas perkataan bosnya itu melainkan tetap melangkah. Dan ketika keduanya tiba di lift, barulah Sazana berani bicara. “Ini hanya untuk beberapa bulan, Pak. Jangan sampai memunculkan spekulasi di pikiran mereka. Saya gak mau kalau sampai—“ “Ya, kalau sandiwara ini lancar, maka gak akan untuk beberapa bulan aja, Saz. Bisa aja saya menginginkan kamu untuk seterusnya. Memangnya kamu yakin, gak akan tumbuh benih cinta di antara kita setelah ini? Kamu yakin gak akan jatuh cinta sama saya?” pancing Ramandaka yang membuat Sazana kembali berubah dingin. “Kalau Bapak yakin akan terjadi sesuatu, itu menurut Pak Rama. Tapi saya yakin, itu gak akan terjadi. Karena kelihatannya ibunya Pak Rama gak suka sama saya,” ujar Sazana sembari menunjuk ke arah perempuan paruh baya yang tampak parasnya tak tergerus usia, tengah berdiri menyambut putra tunggalnya dengan tatapan dingin tertuju pada Sazana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN