Bab 11 - Ketemu Camer (Bohongan)

1170 Kata
Sazana tak nyaman, tatapan kedua orang tua Ramandaka tak teralih darinya seolah dirinya kini adalah sebuah karya seni yang tengah dipamerkan di khalayak dan mendapat penilaian oleh kedua calon mertuanya. Tentu saja mertua sandiwara karena hubungannya dengan Ramandaka juga hanya pura-pura. “Kenapa sih, Mama sama Papa ngeliatin Sazana terus? Aku tahu dia emang cantik. Tapi gak usah diliatin terus, dia jadi gak nyaman,” ujar Ramandaka sembari menikmati makanannya. Ia tahu bagaimana perasaan Sazana ketika dirinya menoleh dan gadis itu tampak gelisah. Diandra, sang ibu sedikit mencebik. Ia tak menyangka seperti ini selera sang putra yang kelihatannya sangat pemilih itu. Ia pikir yang akan dibawa oleh Ramandaka adalah gadis cantik sekelas model dunia yang lebih pantas untuknya yang berparas rupawan dengan strata sosial yang juga tidak main-main. “Mama nanti mau ngobrol sebentar sama kamu dan ... siapa nama kamu?” tanya Diandra. “Kan tadi aku udah bilang, namanya—“ Diandra mengangkat tangan menghentikan Ramandaka agar tidak ikut menjawab. “Mama tanya sama dia.” Ramandaka bisa membaca ada aura berbeda di ruang makan di mana mereka berada. Namun, ia tak ingin membahasanya saat ini. Ia tidak ingin Sazana merasa tidak enak jika sampai terjadi keributan. “Sazana, Bu,” jawab gadis itu, canggung. “Ya, Sazana. Nanti saya mau ngobrol sama kamu. Berdua aja tanpa Rama,” jawab nyonya keluarga Prameswara itu. Sazana yang perasaannya sudah tidak enak, hanya mengangguk sembari berusasha menghabiskan makanannya meski dirinya sudah tidak berselera lagi. Ini benar-benar bunuh diri menurutnya. Menjalin hubungan sandiwara, yang seharusnya akan menjadi hubungan yang diterima, yang terjadi justru sebaliknya. Dalam hati ia merutuki novel tentang perjodohan yang ia baca, selalu saja membawa kerugian bagi sang anak dan wanita yang akhirnya dijadikan pacar sewaan. Dan setelah makan malam selesai, Diandra benar-benar mengajak Sazana untuk masuk ke ruang kerja suaminya dan mempersilakan Sazana untuk duduk. “Mau apa kamu ke ikutan masuk?” tanya Diandra saat hendak menutup pintu dan dihalangi oleh kedatangan Ramandaka yang berniat ikut serta masuk ke dalam ruangan. “Kamu di luar aja. Ini pembicaraan antar wanita.” “Gak bisa gitu, Ma. Kalau Mama mau membicarakan masalah hubunganku dengan Sazana, Mama harus ajak aku untuk ikut. Bukan berbicara hanya berdua dengan Sazana. Aku jadi ngerasa gak dianggap,” ujar Ramandaka yang sesungguhnya ingin memastikan bahwa Sazana akan baik-baik saja berada dalam satu ruangan dengan singa betina di keluarganya. Ia tak yakin Sazana bisa mengatasi Diandra, karena wataknya yang keras sementara Sazana sudah terlalu banyak mendapat masalah, Ramandaka tidak mau gadis itu mendapatkan masalah yang lain hanya karena dirinya. “Jangan lebay, deh Ram. Sudah, kamu minggir dulu. Mama mau bicara penting dan segera!” Diandra menutup pintu dengan keras, membuat perasaan Ramandaka makin tak karuan. “Bakal diapain ya Sazana di dalam sana?” *** “Kamu sudah berapa lama pacaran dengan Rama?” tanya Diandra, sembari duduk di kursi kebesarannya. “kamu benar-benar cinta sama anak saya? Bukan karena harta yang dia punya, kan?” Pertanyaan itu sangat menohok bagi Sazana. Andaikan ia harus menjawab jujur, maka bisa saja ia katakan kalau dirinya dan Ramandaka adalah bos dan karyawan yang kebetulan karena apesnya ia harus berurusan dengan lelaki aneh itu sampai sejauh ini. Sayangnya, ia sudah berjanji pada Ramandaka untuk tidak mengatakan apa pun mengenai ini. Hanya beberapa bulan, lalu sudah. “Ya, Bu. Saya ... cinta sama Pak Rama—maksud saya Rama. Saya bahkan tidak peduli apa yang dia punya. Karena perasaan saya bukan bergantung pada apa yang dia miliki, tetapi pada hatinya. Rama sangat perhatian dan saya belum pernah dapatkan itu dari lelaki lain yang pernah menjalin hubungan dengan saya,” jawab Sazana, diplomatis. Tidak heran kalau ia mendapat pekerjaan dan customer dengan mudah, karena kecerdasannya yang tidak bisa diragukan. “Hmm ... jadi kamu salah satu pegawai yang lagi deket sama Rama?” Sazana tak bisa untuk tidak menjawab tidak karena tampaknya, sang nyonya besar rumah ini sudah tahu kalau dirinya memang hanya perempuan biasa yang menjalin hubungan dengan putranya. Meski hanya sekadar hubungan palsu. “Kalau saya minta kamu menikah segera dengan Ramandaka, apa jawaban kamu?” Saat itu juga jantung Sazana seolah hendak mencelus mendengar pertanyaan Diandra yang langsung ditodongkan padanya. Memangnya kenapa kalau mereka tidak menikah dulu? Mengapa harus terburu-buru? “K-kenapa tergesa-gesa, Bu? Saya dan Rama baru saja—“ “Alasannya karena satu, Rama adalah anak tunggal yang pastinya akan meneruskan kepemimpinan ayahnya, dan kami ingin segera melihatnya memiliki keturunan. Yang kedua, saya mau membuktikan bahwa kamu gak hanya main-main sama anak saya. Kalau kamu serius, kamu pasti bersedia untuk menikah segera.” Tidak, tidak. Bukan karena dirinya tidak serius. Andaikan hubungan ini merupakan hubungan yang sungguh-sungguh, ia pasti akan bersedia menikah. Namun, ini ... ini hanya hubungan pura-pura. Bagaimana mungkin ... “S-saya ... saya tidak tahu harus jawab bagaimana, Bu. Semua keputusan ada di tangan Rama.” “Kalau Rama siap menikah, apa kamu siap untuk bersanding dengannya dan masuk ke keluarga Prameswara? Karena secara kasta, kamu gak mumpuni untuk menerima segala yang ada pada kami. Saya harap kamu ngerti dan gak tersinggung.” Sazana tertegun kala mendengar ucapan Diandra yang tentu saja mencubit perasaannya. Memang benar, ia berasal dari kasta sudra, tak mungkin bersanding dengan seorang keturunan satria. Ia tahu betul itu. Namun, ia tak ambil pusing karena ini hanyalah sandiwara. Jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap dirinya, ia bisa dengan mudah meminta Ramandaka untuk menghentikan sandiwara mereka. Namun, ada satu hal yang membuat Sazana terusik. Kejadian ini seolah membuatnya merasakan deja vu akan hubungannya dengan Rajata yang menikah karena terpaksa, bahkan tanpa restu dari kedua orang tuanya. “Karena itu, Bu, saya katakan tadi bahwa semua keputusan dari Rama. Saya hanya ikut saja.” Iya, tentu saja ia akan ikut, karena sebenarnya, dialah yang membuat keputusan. Ramandaka pasti akan tunduk pada permintaan Sazana. “Kalau begitu bagus, donk. Tolong kamu buka pintunya dan minta Rama untuk masuk.” Sazana mengangguk, kemudian bangkit dan membuka pintu. Tepat saat itu, Ramandaka sedang mencuri dengar dan berpura-pura tak melakukan apa pun sata pintu sudah terbuka lebar. “Ibu nyuruh Pak Rama masuk,” bisik Sazana. Ia sama sekali tidak berpikir akan jadi seperti apa keputusan ibu Ramandaka, karena yang mereka butuhkan adalah Diandra membatalkan perjodohan antara Ramandaka dan putri sahabat sang ayah. “Mama manggil aku? Ada apa? Sudah percaya kalau aku sama Sazana menjalin hubungan? Mama ngira kami pura-pura?” Karena memang yang sebenarnya, kan, mereka hanya berpura, pura. Namun, Ramandaka harus meyakinkan sang ibu agar keluar satu kalimat saja yang menyatakan bahwa dia tidak akan menjodoh-jodohkannya lagi. “Duduk. Mama mau ngomong sama kamu dan Sazana.” Keduanya duduk bersebelahan dan tampak tegang, mirip seperti dua sejoli hendak dinikahkan paksa karena terpergok berbuat m***m. Namun, Sazana-lah yang paling tegang di antara keduanya. “Mama sudah bicara dengan Sazana dan kalian harus dengar keputusan mama.” Ucapan itu membuat perasaan keduanya makin tak karuan. Apakah mereka akan benar-benar dinikahkan seperti apa yang Diandra dan Sazana bicarakan sebelumnya? Jika memang iya, bagaimana jadinya nanti, padahal mereka hanyalah sepasang kekasih sandiwara?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN