Sazana berjalan dengan kaki telanjang menyusuri tepian pantai dan membiarkan kakinya tersapu ombak yang menepi. Satu hari saja bertemu keluarga Ramandaka membuatnya menyadari satu hal. Ia seharusnya kasihan pada lelaki itu, meski sudah memiliki kehidupan dan bisa menghidupi diri sendiri, tetapi tak pernah lepas dari intervensi kedua orang tuanya. Kini Sazana tak tahu harus berkomentar apa. Karena rencana yang mereka jalankan nyatanya gagal total. Bukan karena Sazana atau Ramandaka, melainkan karena sang nyonya besar keluarga Prameswara, Diandra, yang jelas memberikan vonis keras bagi sang putra yang usianya bahkan sudah tak lagi muda. Ramandaka, di usia ke tiga puluh lima tahun dan masih diatur perkara jodoh, wajar kalau tak terima saat sang ibu mengatakan bahwa tak setuju dirinya dengan

