Sazana sudah mengetuk pintu dan menekan bekal berulang kali, tetapi tak ada tanda-tanda Ramandaka akan membuka pintu untuknya. Ia mendesah keras sembari menggerutu dalam hati sejak dari kantor. Terlebih ketika Doni mengabarkan padanya mengenai kondisi Ramandaka yang sedang sakit dan meminta Sazana untuk datang membawakan makanan ke rumahnya. Sazana tentu saja harus melakukannya, karena pesanan Ramandaka sudah terlanjur dimasak dengan penuh cinta oleh sang ibu sembari bergumam penuh harap. “Ibu senang sekali dengan bos kamu itu, Geg. Ramah, royal dan selalu memuji masakan ibu.” Sazana hanya mencebik kala mendengar perkataan penuh nada haru dan harap itu, karena di detik berikutnya benar saja, Mida, sang ibu, menyuarakan doa dalam hatinya. “Andai saja nak Rama itu benar-benar suka sama k

