Rinta buru-buru masuk ke dalam rumahnya ketika dirinya baru saja tiba. Gadis itu membuka laci ddi meja riasnya. Mengeluarkan map dengan beberapa lembaran berkas di dalamnya yang tertumpuk rapi. "Nah ini dia," gumamnya sambil mulai membuka lembaran kertas tersebut, matanya yang bening menyapu halaman itu. "Pasal sebelas poin dua," gumamnya lagi. Dengan mata yang mengamati setiap huruf yang berjejer rapi di sana dan bibir yang berkomat kamit mengeja setiap kalimat. Seketika bahunya luruh. Benar, apa yang dia takutkan benar. Isi salinan kontrak itu sama persis seperti yang Claudia tunjukkan padanya. Rinta menghela napasnya panjang dan kasar. Rasanya daya hidupnya sudah habis hari ini, Andro benar-benar membuatnya tidak waras. Gadis itu meraup wajahnya dengan kasar, menunduk dalam duduknya

