"Cielo, kenapa Morgan akan melamar Selena? Bukankah dia itu pacarmu?" tanya Ny. Irene tidak mengerti.
"Aku dan Morgan sudah putus, Ma. Kami tidak punya hubungan apa-apa lagi," jawab Cielo seolah tidak terpengaruh oleh hubungan Selena dengan mantan kekasihnya.
Ny. Irene menghela nafas panjang sambil membelai rambut putri kesayangannya.
"Cielo, jangan berbohong pada Mama. Kamu pasti sedih menerima kenyataan ini. Walaupun Morgan sudah putus darimu, tidak seharusnya dia langsung melamar kembaranmu. Atau jangan-jangan terjadi sesuatu di antara kalian bertiga. Katakan sejujurnya, Cielo," tutur Ny. Irene merasa curiga.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Aku baik-baik saja. Mama konsentrasi saja pada acara pertunangan Selena dan Morgan nanti malam."
"Cielo, Mama cuma tidak ingin kamu mengalami rasa putus asa yang sama seperti Mama. Hati Mama sangat sakit karena pengkhianatan papamu. Karena itu, Mama terpaksa pergi sementara waktu untuk melupakan penderitaan Mama. Mama khawatir kalau Morgan ternyata sudah mengkhianatimu dengan Selena."
Cielo memegang tangan mamanya erat-erat.
"Morgan dan Selena tidak melakukan hal-hal yang menyakitiku, Ma. Aku tau Mama sayang padaku, tapi Selena juga anak Mama. Mama pikirkan dulu kebahagiaan Selena."
"Lebih baik Mama menyusul Selena di salon sekarang. Dua jam lagi papanya Morgan akan datang. Aku akan bersiap sebentar di kamar," ucap Cielo mengingatkan mamanya.
"Baiklah, Cielo. Jangan lupa kamu juga harus ganti baju dan berdandan yang cantik, Sayang."
Cielo bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Hanya di ruangan itulah dia bisa menghentikan sandiwaranya. Di luar, ia berlagak tegar dan mengikhlaskan Morgan untuk Selena. Namun sesungguhnya hatinya hancur berkeping-keping.
Kenapa aku masih tidak siap menerima kenyataan? Bukankah ini yang aku inginkan, agar Morgan melupakan aku?
pikir Cielo menyadarkan dirinya sendiri.
Mau tidak mau, ia harus menghadapi penderitaan semacam ini untuk kesekian kalinya.
Sejak Selena pulang dalam kondisi yang berantakan, Cielo mulai memahami apa yang terjadi.
Dunianya seakan runtuh, saat ia mengetahui Selena telah menghabiskan satu malam dengan Morgan. Cielo tidak pernah menyangka kalau pria yang dicintainya itu begitu mudah berpindah hati. Dan yang paling menyakitkan bagi Cielo, wanita yang dipilih Morgan adalah saudari kembarnya sendiri.
Cielo ingin menangis. Cielo ingin berteriak. Cielo ingin melampiaskan semua kepedihannya. Tapi di sisi lain, ia sadar bahwa dirinya tidak berhak melakukan apa-apa.
Haknya sebagai kekasih Morgan sudah hilang. Statusnya saat ini hanyalah seorang mantan kekasih yang menyedihkan. Apalagi tidaklah pantas bagi dirinya menyalahkan Morgan. Sebab ia sendiri adalah wanita yang telah kehilangan kehormatannya. Mungkin saja, pertunangan Morgan dan Selena merupakan jalan terbaik bagi mereka semua.
Cielo mengambil tissue dan menghapus sisa air matanya.
Aku harus berdandan dan memakai dress terbaik. Aku ingin menunjukkan bahwa aku tidak terpengaruh oleh pertunangan itu.
Cielo membuka lemari bajunya untuk melihat dress apa yang bisa dipakainya malam ini. Matanya tertuju pada sebuah dress panjang berwarna putih gading. Dress itu adalah hadiah ulang tahun dari papa dan mamanya setahun yang lalu. Namun, ia belum memiliki kesempatan untuk memakainya.
Tanpa membuang waktu lagi, Cielo memilih dress itu dan mengenakannya. Ia memandangi dirinya sendiri di cermin. Dress itu tampak sangat pas di tubuhnya, membuatnya terlihat lebih cantik sekaligus anggun.
Cielo duduk di depan meja riasnya. Ia mulai menyapukan bedak, perona mata, dan lipstick berwarna merah muda di bibirnya. Terakhir kali, dia menyisir sebagian rambutnya ke belakang lalu membuat kepang kecil untuk mengikatnya.
Cielo mencoba melatih senyum termanisnya di depan cermin. Yah, penampilannya benar-benar sempurna. Sesempurna aktingnya nanti untuk tampil bahagia di depan anggota keluarganya. Cielo sudah bertekad membuat Morgan beranggapan bahwa ia telah membuang kenangan masa lalu mereka.
Satu jam kemudian terdengar suara Selena dan mamanya masuk ke dalam rumah.
"Ciel, ayo keluar. Kata Selena sekitar lima menit lagi Morgan dan papanya akan sampai," seru mamanya dari balik pintu.
"Iya, Ma, aku sudah siap," jawab Cielo beranjak dari kursi riasnya.
"Sayang, kamu cantik sekali memakai dress ini," puji mamanya melihat penampilan Cielo.
Selena yang penasaran ikut mendekati Cielo.
"Lumayan juga penampilanmu. Sepertinya kamu ingin menyaingi aku, Cielo. Tapi sayangnya aku yang akan dilamar Morgan malam ini."
Selena mengalihkan pandangannya kepada mamanya.
"Mama tidak memujiku? Bagaimana apa aku kelihatan cantik?" tanya Selena memamerkan dress panjangnya yang berwarna merah.
"Tentu saja, Lena. Kamu make up khusus di salon, pasti kamu cantik. Nah, itu Morgan sudah datang," ucap Ny. Irene mendengar suara mobil diparkir di halaman rumah mereka.
Ny. Irene bergegas membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan kedua tamunya masuk. Di luar, seorang supir berseragam serba hitam menunggu mereka di dalam mobil mewah milik keluarga Dirgantara. Supir itu membungkuk untuk memberi hormat pada Ny. Irene.
Sementara Selena dan Cielo mengikuti mamanya dari belakang.
"Halo, Nyonya, saya Alfred Dirgantara, papanya Morgan," ucap pria berusia lima puluh tahunan yang berdiri di samping Morgan.
Pria itu terlihat gagah dan berwibawa dalam balutan jas berwarna abu-abu gelap. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi, namun wajahnya masih terlihat tampan. Cielo baru mengerti bahwa ketampanan Morgan diwariskan dari papanya.
"Salam kenal, Tuan Dirgantara, saya Irene, mamanya Selena dan Cielomita. Ini Selena, dan ini Cielomita," ucap Ny. Irene memperkenalkan kedua putrinya.
"Oh, jadi Anda memiliki putri kembar, Nyonya. Kedua putri Anda sama-sama cantik. Yang mana calon istri Morgan? Apakah Cielomita?" tanya Tuan Alfred menunjuk kepada Cielo.
Tebakan Tuan Alfred membuat mereka yang ada di ruangan itu terkejut. Ekspresi Selena yang semula penuh kebahagiaan mendadak berubah menjadi kesal.
"Pa, calon istriku adalah Selena," sahut Morgan sembari melirik ke arah Cielo.
"Oh, maaf, Selena, Om salah mengira."
"Tidak apa-apa Om Alfred," jawab Selena berusaha tersenyum.
Ny. Irene mempersilahkan Morgan dan papanya untuk duduk di sofa.
"Silahkan duduk, Tuan Alfred."
"Terima kasih, Nyonya. Saya tidak ingin berlama-lama lagi, kedatangan saya kemari ingin melamar putri Anda untuk menjadi tunangan Morgan. Sebenarnya sebulan yang lalu, Morgan sudah meminta saya pulang ke Jakarta. Tapi karena kesibukan saya di Amerika, saya baru bisa datang hari ini. Selena, apa kamu setuju untuk melangsungkan pertunangan dengan Morgan?"
"Tunggu, Pa, Tante. Saya ingin segera menikahi Selena, bukan sekedar bertunangan," sela Morgan tiba-tiba.
Tuan Alfred memandang putranya dengan ekspresi keheranan.
"Apa kamu serius ingin menikah secepat ini?"
"Iya, Pa, aku ingin menikahi Selena Sabtu depan," jawab Morgan penuh keyakinan.
"Morgan, itu artinya kita hanya punya waktu sekitar enam hari untuk persiapan pernikahan kalian. Apa itu tidak terlalu singkat untuk mempersiapkan semua hal," sambung Ny. Irene.
"Pesta pernikahan kami akan dilakukan secara sederhana, Tante. Yang penting kami sah sebagai suami istri. Itu juga jika Selena setuju," ucap Morgan memandang Selena.
"Tentu saja. Aku setuju, Morgan."
Tuan Alfred dan Ny.Irene tersenyum melihat reaksi kedua anak mereka yang buru-buru ingin menikah.
"Baiklah, kalau itu mau kalian. Papa akan meminta asisten Papa dan para pelayan untuk membantu persiapan pernikahan kalian. Bagaimana Ny. Irene, apa Anda setuju dengan ide saya?"
"Terima kasih, Tuan Alfred. Saya juga akan membantu semampu saya," kata Ny. Irene tampak bahagia.
Cielo memaksakan dirinya ikut tersenyum ketika mendengar rencana pernikahan itu. Meskipun hatinya hancur, Cielo sudah berjanji untuk membiarkan Selena bahagia bersama Morgan. Mungkin Morgan memang bukanlah takdir cintanya.