Selena yang baru turun dari mobil Ellen, melihat Morgan pergi tergesa-gesa dari rumahnya. Ekspresi wajah Morgan yang tidak biasa, menunjukkan bahwa emosinya sedang labil.
Apa Cielo sudah memutuskan hubungan mereka? Morgan kelihatannya marah sekali,
pikir Selena menebak-nebak.
Selena segera berlari untuk mengejar Morgan.
"Morgan, tunggu! Aku mau bicara padamu," seru Selena menghentikan langkah Morgan.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan diantara kita," jawab Morgan sinis.
"Dengar, aku ini saudari kembarnya Cielo. Aku tau banyak rahasia tentang dia. Aku yakin kamu pasti sudah dicampakkan oleh Cielo," ucap Selena memanas-manasi Morgan.
Morgan menghentikan langkahnya dan memandang tajam kepada Selena.
"Dari mana kamu tau kalau Cielo minta putus dariku? Apa dia merencanakan hal ini dari awal, dan mengatakannya padamu?"
"Aku sudah bilang kalau aku tau segalanya tentang Cielomita. Kalau kamu mau tau alasan dia mencampakkanmu, temui aku nanti jam tujuh malam di Kafe Neptune. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu."
"Apa aku harus mempercayai kata-katamu, Selena?"
Selena mengangkat bahunya.
"Itu terserah kamu, Morgan. Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku. Aku akan menunggumu kedatanganmu. Sampai jumpa nanti malam," ucap Selena meninggalkan Morgan.
Aku yakin kamu akan datang menemuiku, Morgan. Lihat saja, Cielo, malam ini aku akan merebut Morgan dari tanganmu. Dia akan menjadi milikku untuk selamanya,
batin Selena merasa yakin dengan rencananya.
Selena sengaja datang lebih awal ke kafe untuk melancarkan aksinya.
Malam ini, Selena memilih mengenakan dress hitam pendek model sabrina. Ia ingin tampil seksi dan menggoda di hadapan pria yang telah lama didambakannya itu. Tentu saja, ia juga menyiapkan rencana terbaiknya untuk bisa menjerat Morgan.
"Nona, Anda mau pesan apa?" tanya pelayan kafe menghampiri Selena.
"Saya pesan dua buah orange squash, Mbak."
"Baik, Nona," ucap pelayan itu dengan ramah.
Selena merogoh sebuah bungkusan kecil berwarna putih dari dalam tasnya.
Tidak berapa lama, pelayan itu mengantarkan dua buah minuman yang dipesan Selena.
"Terima kasih. Ini tips untuk Mbak," ucap Selena memberikan sejumlah uang kepada pelayan itu.
"Mbak, ini tidak perlu. Sudah tugas saya mengantarkan minuman pesanan tamu," tolak pelayan itu.
"Tidak apa-apa, Mbak. Anggap saja ini hadiah dari saya."
"Kalau begitu terima kasih, Mbak."
Setelah pelayan itu pergi, Selena membuka bungkusan kecilnya lalu menuangkan isinya ke dalam gelas minuman. Ia melirik jam di tangannya yang hampir menunjukkan pukul tujuh malam.
Morgan, cepatlah datang. Aku sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam yang indah bersamamu,
batin Selena berharap Morgan segera datang.
Harapan Selena ternyata tidak sia-sia. Ia melihat seorang pria tampan berbaju hitam berjalan menuju ke mejanya. Dari kejauhan pun Selena sudah mengenali bahwa pria itu adalah Morgan Renato.
"Halo, Morgan, akhirnya kamu datang juga," sapa Selena dengan suara yang menggoda.
"Aku tidak punya banyak waktu, Selena. Tolong katakan saja secara jelas apa alasan Cielo memutuskan hubungan denganku," ucap Morgan dengan nada suara dingin.
"Tidak perlu buru-buru, Morgan. Duduklah dulu dan minum orange squash ini. Aku sengaja memesannya untukmu. Kamu perlu rileks sebentar. Jangan khawatir, aku akan mengatakan semuanya sesuai janjiku kemarin."
Selena menyodorkan gelas berisi orange squash ke tangan Morgan.
"Minumlah," ucap Selena sambil tersenyum.
Tanpa membuang waktu, Morgan meminum habis orange squash itu.
"Nah, sekarang aku akan berterus terang. Sejujurnya aku merasa kasihan padamu, Morgan. Cielo hanya mempermainkanmu selama ini. Dia cuma ingin menjatuhkanmu karena kamu berani menyaingi prestasinya di kampus. Dari awal, Cielo sebenarnya mencintai pria lain."
"Siapa pria itu, Selena?" tanya Morgan meninggikan suaranya.
"Tenang, Morgan. Pacar Cielo yang sebenarnya adalah...Ansel Sebastian Wiguna. Dia pernah sekelompok dengan Cielo sewaktu KKN. Cielo dan Ansel berpacaran di belakangmu. Bahkan mereka sudah menghabiskan malam bersama."
"Ansel Sebastian!!! Jadi dia kekasih Cielo," guman Morgan mengepalkan tangannya.
Mendengar nama itu, Morgan teringat kembali peristiwa semasa KKN. Morgan pernah sekali menjenguk Cielo di desanya.
Saat itu, ia merasa cemburu kepada seorang pemuda tampan berpenampilan eksentrik yang ada di kelompok Cielo. Pemuda itu tampaknya memberikan perhatian khusus pada Cielo. Namun setiap kali Morgan bertanya, Cielo selalu saja menyangkalnya.
Cielo sudah berbohong padaku sejak lama. Aku akan membalas perbuatanmu ini, Cielo,
pikir Morgan diselimuti api dendam.
Morgan berdiri dari kursinya, mendadak kepalanya terasa pusing. Hawa panas mulai mengalir menjalari tubuhnya, membuat pandangan mata Morgan sedikit kabur.
"Morgan kamu tidak apa-apa?" tanya Selena memperhatikan tubuh Morgan yang limbung.
Morgan memandang Selena lalu mencengkeram erat lengan gadis itu.
"Cielo, kenapa kamu tega mempermainkan cintaku? Kenapa?" bentak Morgan dengan sorot mata menakutkan.
Reaksi Morgan membuat Selena senang sekaligus takut. Ia paham bahwa Morgan mulai terkena efek dari obat perangsang yang ia berikan.
"Morgan, tenanglah, ini aku Selena, bukan Cielo."
"Wanita pembohong! Jangan harap aku akan percaya kata-katamu lagi," jawab Morgan memicingkan matanya.
"Morgan, kamu mabuk. Sebaiknya aku mengantarmu pulang."
Selena memanggil pelayan yang tadi diberinya uang.
"Mbak, tolong bantu saya membawa teman saya ini ke taksi. Dia agak mabuk."
"Baik, Nona."
Dengan dibantu oleh pelayan kafe, Selena berhasil membawa Morgan ke dalam taksi.
"Pak, tolong bawa kami ke hotel Venus."
"Baik, Nona."
"Cielo, kamu wanita pembohong..." gumam Morgan terus meracau.
"Pak, tolong cepat sedikit," pinta Selena kepada supir taksi itu.
"Di depan agak macet, Non. Sekitar lima menit lagi kita sampai."
Selena menyandarkan kepala Morgan di bahunya. Sementara Morgan terus bergerak gelisah, menahan irama jantungnya yang terasa semakin cepat.
Setelah sampai di hotel Venus, Selena bergegas membawa Morgan masuk ke kamar hotel yang sudah dipesannya.
Meskipun sedikit kesulitan untuk menyangga tubuh Morgan, Selena pantang menyerah.
"Morgan, berbaringlah," ucap Selena membantu Morgan duduk di tepi tempat tidur.
Tiba-tiba saja, tangan kuat pria tampan itu menarik Selena hingga jatuh terduduk di pangkuannya.
"Panas sekali, Cielo, aku tidak tahan. Aku membutuhkanmu," tutur Morgan dengan nafas yang mulai tak beraturan.
Selena berpura-pura menyadarkan Morgan, untuk mengetes sejauh mana pengaruh obat yang dia berikan.
"Aku Selena, bukan Cielo, Sayang."
"Apa aku harus terus mengulanginya, Cielo! Jangan berbohong padaku! Kamu adalah Cielo. Sekarang serahkan dirimu padaku. Aku akan membuatmu melupakan Ansel," kata Morgan menatap Selena bagaikan mangsanya.
Tanpa banyak bicara lagi, Morgan menautkan bibirnya ke bibir Selena. Ia melumat dan menyesap bibir gadis itu tanpa ampun. Membuat Selena tersengal karena hampir kehabisan nafas. Sejurus kemudian, Morgan menjatuhkan Selena dengan kasar ke atas tempat tidur. Ia membuka bajunya sendiri, lalu dengan gerakan cepat melepaskan semua yang menempel pada tubuh Selena.
Kemarahan, hawa nafsu, bercampur rasa ingin membalas dendam, membuat Morgan berlaku kasar terhadap Selena. Dalam khayalannya sendiri, Morgan menganggap gadis yang sedang dicumbunya adalah Cielo, mantan kekasihnya.
"Stop, Morgan! Kamu menyakitiku," rengek Selena merasakan perih di kedua belahan dadanya.
Akal sehat Morgan seolah-olah sudah hilang. Dengan genggaman tangan kirinya yang kuat, ia menaikkan kedua tangan Selena ke atas kepala. Sedangkan tangan kanannya masih bermain-main dengan bagian lain tubuh gadis itu.
"Kamu akan merasakan akibatnya karena berani mengkhianatiku, Cielo."
Selena sudah tidak mampu berbuat apa-apa. Ia tidak dapat mundur dari permainan yang dibuatnya sendiri. Kini, ia harus pasrah berada dalam d******i lelaki yang sedang dibutakan oleh dendam itu.
Morgan membuka matanya perlahan-lahan. Kepalanya masih terasa begitu berat. Morgan mencoba bangun dari tempat tidur, namun ia terkejut mendapati dirinya sendiri yang tidak mengenakan sehelai benangpun.
"Dimana ini? Seingatku kemarin malam aku menemui Selena di kafe," gumam Morgan merasa bingung.
Morgan memandang ke samping tempat tidurnya. Ia melihat seorang gadis sedang berbaring membelakanginya. Dari belakang, gadis itu begitu mirip dengan Cielomita.
"Cielo, apa ini kamu, Sayang?" tanya Morgan beringsut mendekati gadis itu.
Gadis itu membalikkan badannya, lalu menatap Morgan dengan nanar.
"Morgan, apa kamu tidak ingat apa yang kamu perbuat padaku semalam? Aku Selena, bukan Cielo."
"Selena? Kenapa kamu bisa tidur bersamaku disini?" tanya Morgan keheranan.
"Kamu yang memaksaku untuk bercinta denganmu. Lihat, keadaan diriku yang menyedihkan ini. Kamu sudah mengambil segala yang berharga dari diriku. Kamu harus bertanggung-jawab, Morgan," ucap Selena sembari menangis.
Morgan menatap Selena seolah tidak percaya dengan apa yang diucapkannya. Bayangan-bayangan kejadian semalam mulai terekam satu per satu di benak Morgan.
Yah, dia ingat bagaimana dengan buasnya ia mengambil kesucian Selena. Dan bodohnya, ia menyangka wanita yang bersamanya itu adalah Cielo.
Dari jarak dekat, Morgan bisa melihat kulit tubuh Selena yang dipenuhi bekas-bekas merah. Bukti itu menunjukkan bahwa ia telah bercinta dengan Selena semalam.
"Bodoh!" teriak Morgan merasa frustasi akan kecerobohannya sendiri.
"Kenapa, Morgan? Apa kamu menyesal sudah melakukannya denganku? Kamu tidak perlu memikirkan Cielo lagi. Dia sudah berkhianat dengan pria lain. Sekarang kamu harus menikahiku secepatnya," tutur Selena berusaha mempengaruhi Morgan.
Benar, untuk apa aku menyesalinya? Mungkin justru inilah cara terbaik untuk membalaskan dendamku pada Cielo. Aku akan menikahi saudari kembarnya sendiri di depan matanya. Aku akan lihat bagaimana reaksinya nanti,
batin Morgan penuh kemenangan.