Kita Harus Berpisah

1515 Kata
Cielo kembali menghapus air matanya. Suara ponselnya yang berdering nyaring, sontak memecah lamunan Cielo dari kenangan masa lalu. Ia sadar bahwa sepahit apapun kenyataan yang dihadapinya, ia harus tetap hidup di masa kini. Cielo melihat nama Morgan muncul di layar ponselnya. "Sayang, kenapa kamu tidak membalas pesanku? Kamu ada dimana sekarang?" terdengar suara lembut Morgan dari telpon. "Aku ada di rumah, Sayang. Maaf, aku sedang tidak enak badan," jawab Cielo terpaksa berbohong. "Kalau begitu kamu harus ke dokter, Sayang. Tunggu sebentar...apa kamu habis menangis? Suaramu tidak terdengar seperti biasanya." "Aku baik-baik saja. Mungkin karena aku baru bangun tidur." "Cielo, aku menelponmu untuk memberitahukan kabar gembira. Nanti malam aku akan kembali ke Jakarta. Daddy akan segera menyusulku besok. Kita akan merayakan pesta pertunangan seperti yang telah aku janjikan dulu." Ucapan Morgan bagaikan sambaran petir di telinga Cielo. Jika berita ini didengarnya di masa lalu, ia pasti akan merasa sebagai wanita yang paling beruntung di dunia. Namun sayangnya roda kehidupannya telah berputar seratus delapan puluh derajat. "Ka..mu akan pulang, Sayang?" Entah mengapa panggilan 'Sayang' menjadi begitu berat terucap dari bibir Cielo. Rasanya tidak pantas bagi dirinya yang telah ternoda, untuk memanggil Morgan sebagai kekasihnya. "Iya, aku akan langsung ke rumahmu. Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat yang spesial. Sekarang istirahatlah, Sayang." "Iya, sampai jumpa di Jakarta." Cielo menutup panggilan telponnya sambil terisak. Ia tidak dapat menahan air mata yang ingin mengalir dari pelupuk matanya. Morgan, maafkan aku. Aku tidak akan bisa menjadi tunanganmu," batin Cielo penuh kepedihan. Suara langkah kaki seseorang di depan pintu, membuat Cielo menghapus air matanya. Setengah berlari, Cielo buru-buru ke luar dari kamarnya. "Selena, akhirnya kamu datang juga. Aku ingin menanyakan sesuatu yang penting." "Aku sedang sibuk, Cielo. Jangan menggangguku," jawab Selena tergesa-gesa ingin pergi. Cielo menarik tangan Selena dan menghentikan langkahnya. "Aku tau kamu berusaha menghindariku, Lena. Katakan apa yang kamu masukkan ke dalam minumanku di pesta itu?" "Kamu ini bicara apa, Ciel? Apa kamu mabuk?" "Jangan coba berbohong, Lena! Kamu pasti sudah merencanakannya. Kamu sengaja menambahkan obat perangsang di minumanku. Perbuatanmu itu sudah membuat hidupku hancur!" seru Cielo tidak dapat menahan perasaannya. Senyuman sinis tersungging di bibir Selena. "Dengar, Cielo, aku tidak peduli hidupmu hancur atau tidak. Aku sudah pernah mengatakan padamu, jauhi Morgan! Tapi kamu malah menjadi pacarnya. Kamu membuatku sakit hati. Sekarang giliran kamu yang harus menderita seumur hidup karena kehilangan Morgan." Selena melanjutkan ejekannya. "Ow, aku hampir lupa. Semalam aku melihatmu pergi dari pesta bersama Ansel. Kamu seharusnya berterima kasih padaku karena bisa menghabiskan satu malam dengan pria tampan itu. Bagaimana, apa kamu menyukai tidur bersamanya? Aku perhatikan di lehermu ada beberapa kissmark. Pasti kalian berdua sangat menikmatinya." "Plaaakkk!" Sebuah tamparan keras dari Cielo mendarat di pipi Selena. Gadis itu terkejut sekaligus marah. Ia tidak menyangka saudari kembarnya akan berani menamparnya. "Apa kamu sudah gila, Cielo??? Kamu berani menamparku. Aku akan membalasmu," teriak Selena dengan sorot mata penuh kemarahan. Tangan kanan Selena hendak bergerak untuk menampar Cielo. Namun, Cielo dengan cepat menahan tangan itu sebelum mengenai pipinya. "Stop! Aku tidak akan membiarkanmu berbuat jahat lagi padaku, Lena! Aku tidak percaya kamu tega melakukan hal sekeji itu pada kembaranmu sendiri. Pasti kamu puas karena berhasil menghancurkan harga diriku." "Aku akan melepaskan Morgan. Kamu bisa leluasa mendapatkannya sekarang," ucap Cielo melepaskan tangan Selena. "Bagus kalau kamu sadar! Aku yang lebih pantas menjadi calon istri Morgan!" hardik Selena. Cielo berlari ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Ia mengambil cincin yang pernah diberikan Morgan dari dalam laci lemarinya. Sambil berlinang air mata, Cielo memandangi cincin indah itu. Aku tidak pantas lagi mengenakan cincin ini, Sayang. Mungkin Selena benar. Aku memang tidak ditakdirkan untuk menjadi pasanganmu. Aku harus membuang harapanku jauh-jauh, gumam Cielo putus asa. Esok harinya, Cielo hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar. Setelah semalaman menangis, air matanya kini terasa kering. Ia sudah sangat lelah untuk menangisi keadaannya. Saat membuka matanya di pagi hari, Cielo bertekad untuk melanjutkan kehidupannya. Hanya satu tujuannya saat ini, membahagiakan mamanya. Selepas papanya memilih wanita lain, ia sudah tidak memberikan nafkah lahir maupun batin. Karena itu, Cielo ingin segera mendapatkan pekerjaan agar bisa membantu keuangan keluarganya. Cielo membuka laptopnya dan memulai pencariannya ke situs lowongan kerja. Berbagai iklan lowongan pekerjaan di bidang finance dan accounting, satu per satu dibacanya. Namun belum sempat ia mempelajari lowongan itu, terdengar suara Omanya memanggil dari balik pintu. "Cielo, ada yang mencarimu. Cepatlah keluar," ucap Omanya seraya mengetuk pintu. "Iya, Oma, Cielo akan segera menemuinya," jawab Cielo mematikan laptopnya. "Deg," jantung Cielo mendadak berdetak lebih kencang. Apa itu Morgan? Apa yang harus aku lakukan? Tidak, aku harus kuat. Aku akan mengatakan semuanya secara terus terang, pikir Cielo menguatkan dirinya. Dengan tangan yang gemetar, Cielo membuka pintu dan melangkah keluar dari kamarnya. "Cielo, sepertinya pacarmu yang datang. Dia menunggu di ruang tamu. Oma tidak terlalu jelas melihat wajahnya karena lupa pakai kacamata." "Aku akan ke ruang tamu, Oma." "Iya, temuilah dia. Oma akan istirahat sebentar di kamar." Walaupun nyalinya mulai menciut, Cielo berusaha tetap tegar menghadapi Morgan. "Sayang, aku sangat merindukanmu," ucap Morgan berdiri dari kursinya. Morgan langsung memeluk Cielo dan membelai rambut panjang gadis itu. "Sayang, apa kamu juga merindukan aku? Tidak lama lagi kita akan selalu bersama," ucap Morgan menatap mata Cielo dalam-dalam. Tatapan cinta Morgan seakan menghujam langsung ke relung hati Cielo. Membuat gadis cantik itu menundukkan kepalanya. Cielo merasa dirinya tidak pantas dicintai oleh seorang Morgan Renato Dirgantara. "Besok setelah Daddyku sampai di Jakarta, kita akan membahas tanggal pertunangan kita. Aku sengaja pulang satu hari sebelumnya, supaya kita bisa kencan berdua. Aku akan mengajakmu untuk candle light dinner di resort milik keluargaku." "Maaf, Morgan, aku...tidak bisa pergi bersamamu," jawab Cielo dengan suara bergetar. "Kenapa, Sayang? Apa kamu masih sakit?" tanya Morgan cemas. Cielo menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." "Ada apa, Cielo? Kamu membuatku khawatir," tanya Morgan memperhatikan perubahan ekspresi wajah kekasihnya. Cielo menggenggam erat kedua telapak tangannya sendiri. Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya. Telah tiba waktunya untuk mengungkapkan semua kebenaran di hadapan Morgan. "Kita tidak perlu bertunangan, Morgan. Sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita sampai disini," ucap Cielo lirih. Morgan mengerutkan kedua alisnya. Ia tampak sangat terkejut mendengar apa yang baru diucapkan oleh Cielo. "Apa kamu sedang bercanda, Sayang? Kalau iya, leluconmu itu sama sekali tidak lucu." "Aku tidak sedang bercanda. Dan tolong jangan panggil aku lagi dengan sebutan 'Sayang'. Aku ingin kita putus, karena aku tidak mencintaimu lagi," jawab Cielo berusaha keras menguasai dirinya. "Kamu tidak mencintaiku lagi? Lalu siapa yang kamu cintai sekarang? Apa kamu berselingkuh dengan pria lain?" tanya Morgan mulai marah. Sorot mata Morgan yang tadinya penuh cinta, kini berubah dipenuhi oleh api kemarahan. "Ma...afkan aku. Aku...tidak bisa mengatakannya," jawab Cielo gugup. Dengan gerakan cepat, Morgan tiba-tiba mendorong tubuh Cielo ke dinding. Ia mengunci tubuh Cielo dengan kedua tangannya, dan tidak memberikan kesempatan kepada Cielo untuk bergerak sama sekali. "Katakan siapa pria itu? Apa kelebihannya sehingga kamu memilih dia daripada aku. Atau selama ini kamu hanya mempermainkan perasaanku saja?" "Bu..bukan seperti itu..." "Bukan? Lalu kenapa kamu memutuskan hubungan kita secara sepihak di saat aku ingin menjadikanmu sebagai calon istriku?" bentak Morgan menuntut jawaban dari Cielo. Jarak di antara mereka yang hanya beberapa mili, membuat Morgan bisa melihat adanya tanda-tanda merah di leher Cielo. Tanda yang menunjukkan bekas kecupan penuh gairah seorang laki-laki. "Jadi ini yang kamu lakukan, Cielo? Kamu bercinta dengan pria lain saat aku tidak ada. Aku tidak menyangka kamu ternyata hanya seorang gadis murahan. Aku telah salah menilaimu selama ini," ucap Morgan penuh amarah. Air mata menggenang di pelupuk mata Cielo. Hatinya benar-benar terluka mendengar tuduhan menyakitkan yang dilontarkan Morgan. Tidak pernah sekalipun terlintas dibenaknya, kalau Morgan akan tega menuduhnya sebagai w************n. Ia mengira bahwa kekasihnya adalah pria yang paling mempercayai dan menghargainya. Namun, ternyata cinta Morgan padanya tidaklah sebesar itu. "Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal? Aku akan memberikanmu apa yang kamu mau, lebih daripada yang diberikan pria itu," ucap Morgan. Suaranya berubah menakutkan. Tanpa menunggu jawaban dari Cielo, Morgan menautkan bibirnya ke bibir gadis itu. Ia melumat bibir Cielo dengan kasar tanpa memberi peluang bagi Cielo untuk melepaskan diri. Melihat Cielo berusaha menutup bibirnya rapat-rapat, Morgan semakin dikuasai amarah. Ia menggigit bibir ranum gadis itu hingga terluka. Setelah puas menyesap bibir Cielo, lumatan kasar Morgan mulai beralih ke leher gadis itu. "Morgan, lepaskan aku! Aku tau ini bukan dirimu. Tolong maafkan aku," pinta Cielo mencoba menyadarkan Morgan. Dengan sekuat tenaga, Cielo mendorong tubuh Morgan untuk menjauh darinya. "Jadi kamu tidak mau melakukannya? Kamu hanya mau tidur bersama pria itu?" tanya Morgan dengan nafas memburu. Morgan, kenapa kamu melakukan hal ini padaku? Aku akan semakin sulit melupakanmu, batin Cielo merasa tersiksa. "Kumohon jangan mengulanginya. Yah, aku mencintai pria lain. Lebih baik kita tidak bertemu lagi dan tolong jangan menggangguku." "Baiklah, kalau itu maumu! Aku akan melepaskanmu sekarang. Tapi ingat baik-baik, aku tidak akan melupakan pengkhianatanmu ini, Cielomita. Kamu sudah mempermainkan perasaanku. Suatu hari aku akan kembali untuk membalas dendam padamu," ucap Morgan seraya berjalan keluar dari rumah Cielo. Sementara Cielo hanya bisa memandang kepergian pria yang dicintainya itu dengan tatapan hampa. Entah mengapa, dunianya seakan terbalik. Pria yang dulu mencintainya, kini justru sangat membencinya. Meskipun memang itulah yang diinginkannya, namun Cielo tidak menduga jika perpisahannya akan berakhir menyakitkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN