Cielo merasakan hidupnya penuh warna, setelah ia resmi berpacaran dengan Morgan. Di balik sikapnya yang dingin, Morgan ternyata pria yang romantis dan penuh kasih sayang.
Meskipun begitu, Cielo harus tahan menghadapi sindiran demi sindiran yang diucapkan oleh Selena. Tampaknya saudari kembarnya itu masih tidak rela jika Morgan lebih memilih Cielo daripada dirinya.
"Aduh yang lagi bucin, kemana-mana berdua aja," goda Tobi kepada Cielo.
"Buuat aku iri aja. Eh, tapi kamu harus berpisah sementara dari Morgan, Ciel. Kalian khan beda kelompok di KKN?" sambung Nayla.
"Iya, aku ada di kelompok lima, Morgan di kelompok dua belas."
"Waduh, berarti desa yang kalian kunjungi terpisah jauh."
"Gak masalah khan cuma pisah satu bulan, Ciel. Setelah itu kalian tinggal selesaikan skripsi lalu wisuda. Sayang, aku belum bisa daftar KKN karena harus mengulang dua mata kuliah," ucap Nayla sedih.
"Kamu sekelompok dengan siapa saja, Ciel?" tanya Tobi penasaran.
"Kelompokku ada tiga orang cewek dan tiga orang cowok. Aku satu-satunya dari jurusan Akuntansi. Yang lain dua orang dari arsitektur, dua dari teknik informatika, dan satu dari manajemen."
"Apa ada anggota kelompokmu yang kamu kenal, Ciel?" tanya Nayla penasaran.
"Ada satu orang. Aku pernah bertemu dengannya satu kali."
"Siapa, Ciel? Cowok ganteng, bukan?"
"Kalian pernah melihatnya juga di tempat fotocopy. Cowok yang antri dibelakangku. Namanya Ansel, dia dari jurusan arsitektur."
"Ha? Cowok yang ada tattonya itu? Kamu harus hati-hati, jangan terlalu dekat dengan dia. Dia bisa merayumu nanti," tutur Tobi mengingatkan Cielo.
Nayla mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Hmmm, iya aku ingat. Cowok ganteng, yang badannya atletis, trus wajahnya blasteran itu. Dia memang kelihatan bad boy sih, tapi gantengnya luar biasa. Sebelas dua belas lah sama Morgan. Seandainya aku diperebutkan oleh dua cowok ganteng itu, pasti aku bingung mau pilih siapa."
"Hush, dasar kamu kegenitan! Siapa juga yang mau memperebutkan kamu," hardik Tobi mengejek Nayla.
"Pokoknya kamu harus jaga jarak dengan si Ansel itu, Ciel. Kalian nanti akan tinggal serumah selama KKN. Morgan bisa cemburu," sambung Tobi.
"Tenang aja, Tobi. Disana ada enam orang anggota kelompok, jadi aku gak mungkin berduaan dengan Ansel."
"Namanya cowok, pasti bisa cari-cari kesempatan. Lalu kapan kamu berangkat KKN?"
"Dua hari lagi."
"Jangan lupa tetap hubungi kita nanti," ujar Nayla memeluk Cielo.
"Iya, pasti, Nay."
Sehari sebelum keberangkatan mereka untuk menjalani KKN, Morgan mengajak Cielo pergi berdua ke pantai.
Angin sepoi yang berhembus menerpa rambut panjang Cielo.
"Sayang, aku akan mengunjungimu kalau nanti ada kesempatan," kata Morgan membelai rambut Cielo.
"Sepertinya kita tidak boleh kemana-mana selama satu bulan, Sayang. Kita harus tetap tinggal di desa. Tapi kita bisa saling menelpon atau mengirim pesan," ucap Cielo tersenyum pada Morgan.
Morgan menatap mata Cielo dalam-dalam.
"Cielo, berjanjilah padaku untuk tidak dekat-dekat dengan cowok lain selama kamu tinggal di desa. Atau aku akan cemburu."
"Iya, Sayang, aku hanya akan memikirkanmu saja."
Morgan merogoh sesuatu dari saku celananya dan mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Ia membuka kotak itu lalu mengambil sebuah benda kecil keemasan dari dalamnya.
"Apa ini, Morgan?" tanya Cielo terkejut.
Morgan menyematkan cincin emas bermata swarovski itu di jari manis Cielo.
"Ini adalah tanda cinta sekaligus pengikatku untukmu. Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu. Mulai sekarang kamu adalah tunanganku, gadis milikku. Setelah kita selesai wisuda, aku akan menemui daddyku di Amerika. Kita akan melakukan pesta pertunangan secara resmi."
Mata Cielo berkaca-kaca.
Ia sangat terharu mendengar ungkapan cinta dari Morgan. Dia tidak menduga Morgan akan secepat itu meningkatkan status hubungan mereka.
Tidak ada hal lain yang lebih diimpikan oleh Cielo saat ini, selain menjadi calon istri Morgan. Dan tampaknya impiannya tidak lama lagi akan menjadi kenyataan.
"Terima kasih, Morgan, " ucap Cielo mengecup pipi Morgan.
"Apa kamu suka dengan cincinnya?"
"Iya, Sayang."
"Kalau begitu anggap cincin ini sebagai pengganti diriku saat kita sedang tidak bersama," tutur Morgan sembari memegang kedua tangan Cielo.
Saat Cielo kembali ke rumah, Selena sudah menunggu di depan pintu kamarnya.
"Eitts, tunggu, Ciel! Kamu baru saja berkencan dengan Morgan? Apa itu yang ada di jarimu?" tanya Selena menarik tangan kanan Cielo.
"Jangan, Lena! Ini cincin dari Morgan."
Wajah Selena berubah tidak senang mendengar pengakuan Cielo.
"Dia memberikanmu cincin sebagus ini? Jadi hubungan kalian benar-benar serius? Apa dia sudah melamarmu?"
"Cincin ini sebagai tanda cinta Morgan. Kami akan bertunangan kalau sudah lulus kuliah," jawab Cielo melepaskan tangannya dari genggaman Selena.
"Pantas kamu kelihatan bahagia sekali. Kamu pasti puas karena berhasil merebut pria idamanku."
"Selena, hentikan tuduhanmu itu! Kamu bahkan tidak mengenal Morgan. Bagaimana mungkin kamu bisa jadi pacarnya? Morgan sendiri yang menyatakan cinta padaku. Kalau aku menerimanya, itu karena aku juga mencintainya. Aku tidak pernah ingin merebut pria manapun dari tanganmu."
"Kamu paling pintar mencari alasan, Cielo. Aku benci padamu," seru Selena berjalan pergi meninggalkan Cielo.
Awas kamu, Ciel! Cepat atau lambat, aku akan merebut kembali apa yang menjadi hakku. Morgan jauh lebih pantas bersamaku,
pikir Selena membulatkan tekadnya.
Hari keberangkatan rombongan mahasiswa peserta KKN pun tiba. Para gadis memilih untuk berangkat dengan bus kampus. Sedangkan para lelaki lebih menyukai berkendara dengan motor mereka sendiri. Pihak kampus melarang mereka untuk membawa mobil pribadi ke desa.
Setelah menempuh kurang lebih dua jam perjalanan, mereka sampai di desa tempat mereka bertugas masing-masing.
Cielo dan kelompoknya disambut dengan ramah di rumah Kepala Desa.
"Ini kamar untuk para gadis dan yang di sebelah kamar untuk laki-laki," ucap Kepala Desa menjelaskan.
Entah mengapa Cielo merasa ada seseorang yang terus menatapnya sejak tadi.
Mereka masuk ke dalam kamar, lalu merapikan barang bawaannya masing-masing.
"Cewek-cewek, kita kumpul dulu di ruang tamu. Kita akan menentukan siapa ketua kelompok dan memulai kegiatan hari pertama kita," seru Andre dari depan pintu.
"Oke," jawab para gadis serempak.
Setelah keenam anggota kelompok berkumpul, Andre angkat bicara.
"Menurut pendapatku kita pilih Ansel saja sebagai ketua."
"Kenapa aku?" tanya Ansel keheranan.
"Karena kamu paling senior dan badanmu tinggi besar, cocok menjadi ketua," jawab Anita spontan.
"Bagaimana teman-teman? Yang setuju silahkan angkat tangan," sambung Andre melanjutkan diskusi kelompok mereka.
Semua anggota mengangkat tangannya tanda setuju.
"Karena kalian semua memilihku. Aku akan langsung melakukan pembagian tugas. Hari pertama kita akan melakukan survey lokasi desa untuk mempermudah kegiatan kita besok. Aku bagi menjadi tiga kelompok kecil secara berpasangan. Andre dan Anita survey ke area peternakan, Henry dan Rosi survey ke areal persawahan. Sedangkan aku dan Cielo akan ke pegunungan untuk mengamati perkebunan teh di desa ini."
"Baiklah, kapan kita berangkat, Sel?"
"Sekarang," jawab Ansel penuh keyakinan.
Kenapa aku harus sekelompok dengannya? Apa dia sengaja memilihku menjadi pasangannya?
batin Cielo merasa enggan.
Ansel menyiapkan motor besarnya dan menunggu Cielo di halaman rumah Kepala Desa.
"Akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu, Cielo. Dulu kamu menghindariku, tapi sekarang kamu harus bersamaku. Ayo, naiklah."
"Iya," jawab Cielo ragu-ragu.
Ansel mengenakan jaket kulitnya yang berwarna kecoklatan, dan segera menyalakan mesin motornya.
"Cepat naik atau kita akan kemalaman. Pegangan yang erat padaku. Aku akan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi."
Cielo tidak menjawab. Namun, dari ekspresi wajahnya, Ansel memahami bahwa gadis itu tidak akan menyetujui permintaannya.
Senyuman tersungging di wajah Ansel.
"Menurutlah, Baby, atau kamu akan jatuh dari atas motor."
Dengan ragu-ragu, Cielo naik ke atas motor dan berusaha keras untuk tidak menyentuh Ansel.
Melihat sikap Cielo, Ansel justru sengaja melajukan motornya semakin cepat. Keadaan ini membuat Cielo terpaksa harus berpegangan erat pada pinggang Ansel.
Saat sampai di atas pegunungan, Cielo merasakan hawa pegunungan yang begitu dingin menerpa wajahnya.
Sambil menunggu Ansel memarkirkan motornya di gerbang masuk perkebunan teh, Cielo menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
"Apa kamu kedinginan? Pakailah jaketku," ucap Ansel melepaskan jaketnya.
"Tidak perlu, terima kasih."
Tanpa mempedulikan penolakan Cielo, Ansel langsung memasangkan jaketnya ke tubuh Cielo.
"Baby, kenapa kamu selalu keras kepala dan tidak mau menurut? Aku hanya tidak ingin melihatmu sakit karena kedinginan. Perjalanan kita masih panjang disini."
"Ansel, please stop memanggilku Baby. Panggil saja namaku Cielo," pinta Cielo berterus terang.
"Oh, jadi kamu keberatan aku panggil Baby. Apa kamu takut seseorang akan marah? Apa kamu sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Ansel mendekatkan wajahnya.
"Iya, aku punya pacar dan pacarku tidak akan suka kalau kamu memanggilku seperti itu," jawab Cielo spontan.
Ansel tertawa mendengar jawaban Cielo.
Selang berapa detik kemudian, tangan kekarnya tiba-tiba merengkuh Cielo ke dalam pelukannya.
Mata biru Ansel yang menawan sekaligus penuh misteri, menatap Cielo dengan tajam. Membuat Cielo bergidik karena ketakutan.
"Lepaskan aku, Sel. Atau aku akan berteriak!" ancam Cielo pura-pura berani di hadapan Ansel.
"Sssttt, tenang, Baby! Aku tidak akan menyakitimu. Aku tidak peduli bagaimana pendapat pacarmu. Lagipula aku yakin suatu hari kamu akan jadi milikku. Gadis cantik yang polos, seperti sebuah lemon segar untukku. Yummy...," ucap Ansel menggerakkan lidahnya.
Ia melepaskan Cielo dari pelukannya, lalu berjalan masuk ke area perkebunan teh.
Dasar cowok gila! Untung saja dia tidak melakukan sesuatu yang di luar batas. Tapi, bagaimana aku bisa menghadapinya selama sebulan ini? Bagaimana kalau Morgan sampai salah paham?
pikir Cielo merasa bingung.