Jadilah Kekasihku

1697 Kata
"Morgan, terima kasih sudah mengantarku," kata Cielo berpamitan sebelum keluar dari mobil Morgan. "Besok Senin, aku akan menyerahkan soalnya kepada Bu Dewi. Bisa aku minta nomer ponselmu? Supaya aku lebih mudah menghubungimu nanti." "Tunggu sebentar." Cielo mengeluarkan pena dari tasnya lalu menuliskan nomer ponselnya pada secarik kertas. "Ini nomer ponselku." "Oke, aku akan coba menghubungimu nanti. Sampai jumpa." Cielo melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan tak menentu. Kejadian di kafe tadi masih saja terbayang-bayang di benaknya. Bahkan sentuhan tangan Morgan masih terasa membekas di bibirnya. Kenapa aku terus memikirkannya? pikir Cielo berusaha menyingkirkan imajinasinya sendiri. "Ciel, tumben kamu baru pulang jam tujuh? Apa Selena mengajakmu pergi bersama teman-temannya? Selena juga belum pulang sampai sekarang. Entah kemana anak itu," tanya Ny. Irene mencari tau. "Aku tadi membahas soal untuk asistensi, Ma. Mulai besok Selasa aku akan mengajar di kampus." "Bagus kalau begitu. Kamu berhasil jadi asisten dosen, artinya kamu akan dapat penghasilan sendiri. Oh, ya, Papa tadi menelpon katanya minggu depan belum bisa pulang. "Kenapa, Ma?" "Papa bilang masih ada tambahan pekerjaan dari bosnya yang harus diselesaikan. Terpaksa dia memundurkan kepulangannya." Cielo mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti mengapa hampir setahun ini, papanya jarang sekali pulang. Meskipun papanya bekerja di luar Jawa, biasanya ia selalu menyempatkan waktu untuk pulang beberapa hari menjenguk keluarganya. Namun Cielo menyimpan pertanyaan itu di dalam hati agar tidak membuat mamanya khawatir. "Ma, aku mau ke kamar dulu" "Apa kamu tidak makan malam, Ciel?" "Aku sudah makan, Ma." Cielo berjalan menuju ke kamar dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengecek apakah ada pesan masuk disana. Entah mengapa ia berharap akan segera menerima pesan dari Morgan. Pikiranku mulai kacau lagi, lebih baik aku mandi, gumam Cielo bangkit dari tempat tidurnya. Cielo menyiram tubuhnya dengan air dingin untuk menyegarkan diri. Setelah merasa segar, ia menuju kembali ke kamarnya. Aku akan belajar sebentar untuk persiapan mengajar, pikir Cielo ingin menyibukkan dirinya. Cielo membuka buku yang dipinjamnya dari perpustakaan lalu mulai membaca halamannya satu per satu. Namun, konsentrasinya terpecah ketika mendengar bunyi pesan masuk di ponselnya. Cielo, ini nomer ponselku. Besok Senin jam empat sore, apakah bisa kita bertemu sebentar di lobby kampus? Morgan. Cielo membaca pesan dari Morgan lalu mengirimkan jawabannya. Bisa, Senin terakhir aku ada kuliah sampai jam tiga sore. Aku akan menunggumu di lobby. Tidak butuh waktu lama, Morgan langsung membalas pesan dari Cielo. Oke. Sekarang istirahatlah, have a nice dream. Cielo tersenyum-senyum sendiri membaca pesan yang dikirimkan Morgan. Kenapa aku jadi sebahagia ini hanya karena membaca pesan dari Morgan? Tapi, mengapa sikap dan kata-kata Morgan berubah drastis? Apa aku yang terlalu besar kepala? Ah, sadarlah Cielo! batin Cielo memarahi dirinya sendiri. Selepas mengikuti kelas Bahasa Inggris, Cielo buru-buru menuju ke lobby kampus untuk menemui Morgan. "Maaf, aku terlambat. Kelasku baru saja selesai," ucap Cielo mengetahui Morgan telah menunggunya di dekat tangga. "Aku juga baru datang lima menit yang lalu. Aku sudah menemui Bu Dewi. Dia menyetujui soal asistensi yang kita buat." "Bagus kalau begitu. Lalu bagaimana besok Selasa, siapa yang akan mengajar?" "Aku yang akan mengajar dulu. Kamu bisa membantu para mahasiswa mengerjakan soal. Sampai jam berapa kelasmu besok?" "Aku ada kelas dari pagi sampai jam dua siang. Setelah itu aku akan pulang dulu ke rumah. Aku akan berangkat lagi ke kampus sekitar jam lima sore untuk asistensi," jawab Cielo menjelaskan jadwal kuliahnya. "Aku akan menjemputmu besok dari rumah. Kita akan berangkat bersama," kata Morgan menatap mata Cielo. "A..aku akan berangkat naik ojek. Kamu gak perlu repot-repot menjemputku," jawab Cielo berusaha menghindar. Cielo merasa kalau dia tidak boleh berduaan terlalu sering dengan Morgan. Jika itu terjadi lagi, maka pikirannya akan semakin tertuju pada pemuda itu. Ia tidak ingin berharap yang bukan bukan atas sikap Morgan padanya. "Siapa yang bilang aku repot jika menjemputmu? Justru aku menjemputmu supaya kamu datang tepat waktu. Kalau kamu terlambat, maka aku yang akan terkena dampaknya." "Iya, terserah kamu saja," jawab Cielo tidak ingin berdebat dengan Morgan. "Aku pergi dulu. Besok bersiap-siaplah, aku akan menjemputmu jam lima sore. Aku tidak suka menunggu terlalu lama." "Iya." Morgan berjalan keluar dari lobby meninggalkan Cielo. Setelah Morgan pergi, Cielo bermaksud pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya. Namun sebuah suara yang dikenalnya, menghentikan langkah Cielo. "Ciel, tunggu...Aku lihat kamu tadi bicara dengan Morgan Renato. Kenapa sekarang kalian sering terlihat bersama?" tanya Selena penuh selidik. "Oh, Morgan dan aku sama-sama terpilih menjadi asisten akuntansi keuangan. Kami akan mengajar besok Selasa, jadi kami membahas pembagian tugas." "Kalian hanya berbicara seputar tugas? Jangan-jangan kamu sedang pendekatan dengan dia. Atau justru kalian sudah berpacaran?" "Lena, aku dan Morgan gak ada hubungan apa-apa." "Awas kalau kamu bohong padaku, Cielo! Ingat jangan coba-coba merebut perhatian Morgan, karena Morgan akan menjadi milikku," ucap Selena seraya pergi meninggalkan Cielo. Selena kenapa sifatmu gak pernah berubah? Kamu selalu menganggapku sebagai sainganmu. Padahal kita ini saudara kembar, batin Cielo sedih. Dari dalam kamar, sayup-sayup Cielo mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Ia bergegas ingin keluar, namun Selena sudah mendahuluinya. "Kamu Morgan, khan? Apa kamu mencari Cielo? Aku Selena, saudari kembar Cielo," sapa Selena memamerkan senyum manisnya untuk menarik perhatian Morgan. "Iya, apa Cielo ada? Kami harus segera berangkat ke kampus." "Ada, masuklah dulu. Aku akan memanggil Cielo," kata Selena membukakan pintu rumahnya lebar-lebar untuk Morgan. "Aku menunggu saja disini." "Baiklah, tunggu sebentar ya." "Cielo, Morgan sudah datang menjemputmu. Kenapa kamu lama sekali?" tanya Selena sembari masuk ke dalam kamar Cielo. Ia berhenti dan mengamati Cielo yang terlihat lebih cantik dari biasanya. Cielo bahkan menggunakan hiasan rambut untuk menyempurnakan penampilannya. "Iya, aku sudah selesai. Aku akan segera menemuinya." Selena memegang lengan Cielo dan memicingkan matanya. "Kamu berdandan cantik seperti ini karena akan mengajar sebagai asisten dosen, atau karena ingin membuat Morgan terpesona?" "Apa maksudmu, Lena?" "Aku curiga dengan hubungan kalian. Morgan itu terkenal cool dan susah didekati. Tapi dia mau datang kesini hanya untuk menjemputmu. Wajahmu juga kelihatan senang saat bersamanya. Aku ingatkan sekali lagi Cielo, aku yang cocok menjadi pacarnya Morgan. Bukan kamu." "Sudahlah, lepaskan aku. Aku bisa terlambat," kata Cielo melepaskan lengannya dari genggaman Selena. "Ma, aku pergi ke kampus," pamit Selena kepada Ny. Irene. "Iya, hati-hati." Cielo bergegas menemui Morgan yang masih berdiri di depan pintu untuk menunggunya. "Morgan, maaf...." Tanpa menunggu Cielo selesai berbicara, Morgan tiba-tiba menggandeng tangan Cielo dan mengajaknya berjalan ke mobil. "Ayo berangkat sekarang, kamu bisa membuat kita terlambat." "I..iya." Cielo tidak berani menatap langsung ke wajah Morgan, namun jantungnya berdegup kencang karena sentuhan tangan pemuda itu. Kelas asistensi hari pertama berjalan dengan lancar. Morgan mengajarkan setiap detail materi secara jelas dan terperinci di hadapan para mahasiswa. Penampilan Morgan yang cemerlang dan penuh percaya diri itu, membuat Cielo terkagum-kagum. Ia baru menyadari mengapa banyak cewek di kampusnya, termasuk Selena dan Nayla, yang berharap menjadi pacar Morgan. Selain wajahnya yang tampan, tubuh yang proporsional, dan kekayaan yang berlimpah, pemuda itu memiliki sejuta pesona yang bisa membuat para gadis tergila-gila padanya. Apa aku sudah gila? Bisa-bisanya aku memikirkan Morgan saat mengajar di kelas asistensi, batin Cielo malu atas pikirannya sendiri. Ia mengalihkan fokusnya kepada para mahasiswa yang sedang mengerjakan soal latihan. Ia berkeliling untuk membantu mahasiswa yang terlihat kesulitan dalam memecahkan soal. "Cukup sekian kelas asistensi hari ini. Kita akan bertemu lagi hari Jumat," ucap Morgan mengakhiri kelasnya. Para mahasiswa membereskan buku dan tas mereka, lalu bergegas pergi dari kelas. "Bagaimana menurutmu cara mengajarku hari ini? Apa cukup jelas?" tanya Morgan mendekati Cielo. "Sangat bagus. Kamu cocok menjadi seorang dosen. Aku mungkin tidak akan sebagus kamu dalam mengajar. Aku masih sedikit gugup," puji Cielo dengan tulus. "Aku akan melihat penampilanmu hari Jumat nanti. Kamu harus lebih baik dariku. Aku yakin kamu bisa melakukannya," ucap Morgan memberikan semangat. "Iya, aku akan berlatih di rumah." Sebelum pulang, Cielo dan Morgan merapikan kursi lalu mematikan pendingin ruangan. Namun mendadak lampu di ruangan kelas itu mati. Seluruh ruangan menjadi gelap, sehingga Cielo tidak bisa melihat apapun. Cielo mencoba menyentuh kursi atau meja di dekatnya, agar bisa menjadi pegangan untuk berjalan. "Mor...gan, kamu dimana?" panggil Cielo panik. Cielo tetap berusaha berjalan perlahan-lahan untuk menembus kegelapan. Tapi kakinya malah tersandung sesuatu. Ia terhuyung dan menabrak sesuatu yang terasa hangat didepannya. "Hati-hati," ucap Morgan memeluk Cielo. Morgan menyalakan senter dari ponselnya untuk memberikan sedikit cahaya di ruangan gelap itu. Dari cahaya yang redup, Cielo menyadari jika dirinya jatuh tepat di d**a Morgan. "Kenapa kamu suka sekali menabrakku dan jatuh di pelukanku? Apa kamu sengaja melakukannya?" tanya Morgan menatap dalam-dalam mata Cielo. "A..aku benar-benar gak sengaja. Tadi gelap," ucap Cielo merasa malu. Cielo merasakan kedua pipinya mulai menghangat walaupun ia berada dalam suasana gelap. Cielo berusaha melepaskan diri dari pelukan Morgan. Namun diluar dugaan, Morgan justru mempererat pelukannya. Morgan memandang Cielo dengan sorot mata yang tidak dapat ditebak. "Aku tidak peduli kamu sengaja atau tidak, tapi aku akan memberikan hukuman padamu." Dengan gerakan cepat, Morgan mendekatkan bibirnya ke bibir Cielo, lalu menautkan bibirnya pada bibir gadis itu. Cielo yang masih terkejut berusaha melepaskan diri, namun tenaga Morgan lebih kuat darinya. Cielo menutup bibirnya rapat-rapat. Akan tetapi Ciuman Morgan yang semakin dalam membuatnya mulai terbuai. Tanpa disadarinya, Cielo membuka mulutnya, sehingga Morgan dengan leluasa memasukkan lidahnya dan bermain di dalam sana. Dalam cahaya yang samar-samar itu, ciuman antara mereka berdua berlangsung semakin intens. Cielo baru tersadar dan melepaskan bibirnya ketika lampu kelas menyala kembali. "Morgan, apa yang kamu lakukan? Ini ciuman pertamaku. Kita berdua tidak boleh melakukan hal ini. Kamu bahkan bukan pacarku." "Maafkan aku," ucap Morgan mengatur nafasnya yang masih tak beraturan. "Jangan mendekati aku lagi. Kamu akan membuatku salah paham. Aku bisa mengira kalau kamu suka padaku," ucap Cielo membalikkan tubuhnya membelakangi Morgan. Morgan memeluk pinggang Cielo dari belakang dan berbisik di telinga Cielo. "Kamu tidak salah paham. Aku memang jatuh cinta padamu. Aku bisa merasakan kamu juga punya perasaan yang sama padaku. Jadilah kekasihku, Cielo." "Tapi,..." "Cukup katakan apakah kamu bersedia jadi pacarku?" bisik Morgan sekali lagi di telinga Cielo. Cielo bingung harus menjawab apa, tapi dia tidak bisa mengingkari perasaannya sendiri. Dia hanya terdiam di dalam pelukan Morgan. "Kamu diam saja artinya kamu mengatakan iya." Morgan memutar posisi Cielo sehingga wajah mereka saling berhadapan. "Mulai sekarang kamu adalah pacarku. Cielo adalah milik Morgan Renato," ucap Morgan dengan mata redup. Hati Cielo benar-benar merasa bahagia mendengar kata-kata romantis dari Morgan. Ia hanya berharap momen indah ini akan bertahan selamanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN