Kencan Mendadak

1300 Kata
Ciel, mau kemana? Buru-buru amat," tanya Nayla menyusul Cielo. "Aku mau ke perpustakaan, Nay." "Ini khan hari Jumat, ngapain ke perpustakaan? Mending kita jalan ke mall atau nyalon bareng." "Aku ikut juga donk," sambung Tobi menyusul kedua temannya. "Sorry, aku gak bisa ikut, Nay. Aku ada janji dengan Morgan. Kami harus membahas soal untuk asistensi Selasa depan." "What? Kamu sekarang janjian ketemu Morgan? Hati-hati Ciel, lama-lama kalian bisa jadian kalau sering berduaan," goda Tobi. "Kami cuma bertemu untuk urusan asistensi. Gak ada kaitannya dengan masalah pribadi. Aku duluan ya, bye..." seru Cielo meninggalkan Nayla dan Tobi. Cielo sadar jika tidak segera pergi, maka ia pasti akan terlambat. Cielo sangat paham bagaimana kedua sahabatnya itu akan terus membicarakan banyak hal yang tidak masuk akal. Dengan langkah cepat, Cielo turun ke basement untuk menuju perpustakaan kampus. Ia menempelkan kartu mahasiswanya di pintu masuk, lalu masuk ke dalam ruang perpustakaan. "Dimana Morgan?" gumam Cielo mengedarkan pandangannya. Sebuah tepukan ringan di bahunya membuat Cielo menengok ke belakang. "Mor..gan? ucap Cielo terkejut. "Aku ada di belakangmu. Kenapa tidak melihatku? Ternyata kebiasaanmu belum berubah," kata Morgan menyindir Cielo. "Aku kira kamu sudah menungguku dari tadi." "Aku ada kuliah di tempat lain, makanya sedikit terlambat." Morgan berjalan mendahului Cielo ke deretan meja dan kursi yang tersedia di perpustakaan. Ia ingin mencari meja kosong yang bisa digunakan sebagai tempat untuk berdiskusi. Namun tak ada satu tempat pun yang tersisa. Semua meja dan kursi sudah penuh terisi oleh mahasiswa lain. "Kenapa di hari Jumat perpustakaan ini penuh sesak?" gerutu Morgan. "Lalu kita harus bagaimana?" tanya Cielo kebingungan. "Aku akan meminjam buku bank soal akuntansi. Kamu juga pinjam salah satu buku yang berisi kumpulan soal. Lalu kita keluar." "Iya," jawab Cielo menyetujui usul Morgan. Cielo dan Morgan berpencar ke deretan rak yang berbeda, untuk mencari buku yang mereka perlukan. Tidak berapa lama, Morgan berhasil menemukan buku yang akan dipinjamnya. Sedangkan Cielo baru menyusul Morgan lima menit kemudian. "Bu, saya pinjam buku ini," ujar Cielo menyerahkan buku tebal yang dipegangnya kepada petugas perpustakaan. Petugas itu meminta kartu mahasiswa Cielo, lalu mengetikkan data di komputernya. Setelah memberikan catatan dan stempel tanggal, petugas perpustakaan menyerahkan buku tebal itu kepada Cielo. "Lama sekali kamu mencari buku?" tanya Morgan tidak sabar. "Ada beberapa buku yang bagus, jadi aku agak bingung memilihnya." "Lain kali ambil keputusan dengan cepat. Jangan membuang waktu." "Sekarang kita mau kemana?" tanya Cielo penasaran. "Ikut aku ke Kafe Garden Sky. Kita akan membahas soal disana." "Kita mau ke kafe?" "Iya, dimana lagi kita bisa bicara dengan tenang," ucap Morgan sembari berjalan meninggalkan Cielo. "Kenapa dia mengajakku ke kafe? Nanti orang lain bisa salah paham kalau melihatku berduaan dengan dia," batin Cielo gelisah. Morgan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan melihat Cielo yang masih diam terpaku di tempatnya semula. "Sampai kapan kamu mau berdiri disitu? Kamu mau kita pulang kemalaman?" "Ti...dak," jawab Cielo ragu-ragu. "Kalau begitu ayo berangkat. Jangan buang waktu lagi." Dengan berat hati, Cielo akhirnya menuruti permintaan Morgan. Ia naik ke atas mobil Morgan tanpa banyak bicara. Sepanjang jalan, Cielo memilih untuk diam hingga mereka sampai di Kafe Garden Sky. Di dalam kafe itu, ada beberapa pasangan muda mudi yang sedang menghabiskan waktu bersama. Meskipun begitu, Kafe Garden Sky tidak begitu ramai di sore hari. Suasana kafe yang dikelilingi taman dan kolam ikan, memang cocok bagi siapa saja yang ingin mencari ketenangan. Cielo mengikuti Morgan ke meja paling ujung yang dekat dengan kolam ikan. Morgan membawa laptop dan bukunya, sementara Cielo membawa catatan beserta alat tulisnya. "Sore Tuan dan Nona. Ini buku menunya," sapa seorang gadis pelayan kafe dengan ramah. "Saya pesan caffe latte satu," jawab Morgan. Pelayan itu mengarahkan pandangannya kepada Cielo. "Nona mau pesan apa?" "Saya milk tea." "Baik, silahkan ditunggu. Saya akan segera mengantarkan minumannya." Setelah pelayan kafe itu pergi, Cielo mulai membuka buku untuk menghilangkan rasa canggungnya. Tampaknya kecanggungan itu tidak dirasakan oleh Morgan. Ia malah sibuk menyalakan laptop sambil menuliskan beberapa soal di kertasnya. "Kita masing-masing buat lima soal sekaligus kunci jawabannya. Nanti kita bertukar kertas untuk menentukan soal mana yang akan kita pilih." "Iya," jawab Cielo sambil mengangguk. Cielo dan Morgan menyibukkan diri dengan tugasnya masing-masing. Selama kurang lebih tiga puluh menit mereka bergelut dengan pikirannya sendiri. "Apa kamu sudah selesai?" tanya Morgan melihat Cielo masih sibuk menulis. "Hampir selesai, aku tinggal menulis jawaban untuk soal nomor lima." Morgan meminum kopinya sambil memperhatikan gerak-gerik Cielo yang duduk di hadapannya. Entah mengapa, pandangan mata Morgan membuat Cielo jadi salah tingkah. Cielo tidak sadar jika ia menjatuhkan pena yang dipakainya ke bawah meja. "Uups...," kata Cielo menunduk untuk memungut penanya. Tanpa disadari oleh Cielo, Morgan telah bergeser dari kursinya. Tangan mereka berdua saling bersentuhan, ketika secara bersama-sama hendak mengambil pulpen yang jatuh itu. "Maaf," ucap Cielo dengan wajah memerah. Ia buru-buru menyingkirkan tangannya dari tangan Morgan. Morgan meletakkan pena Cielo di atas meja dan kembali ke kursinya. "Cielo, kenapa tingkah lakumu memalukan sekali," batin Cielo merutuki dirinya sendiri. Cielo berusaha menyelesaikan bagian terakhir dari jawaban soalnya secepat mungkin. "Ini sudah selesai, kamu bisa membacanya," kata Cielo menyerahkan kertasnya. Morgan menerima kertas dari tangan Cielo lalu menukar dengan kertasnya. "Periksa saja soalku dan lingkari mana yang menurutmu bagus." Setelah saling mengecek soal yang dibuat, Morgan meminta kembali kertasnya dari tangan Cielo. "Kamu melingkari semua soalku?" tanya Morgan keheranan. "Kamu juga melakukannya. Kalau begitu soal mana yang akan kita pilih?" balas Cielo merasa bingung. "Pakai saja soalmu. Aku akan mengetikkan soalnya di laptop. Tunggu," jawab Morgan tiba-tiba. "Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia sekarang mau mengalah padaku?" batin Cielo bertanya-tanya. Cielo memandang jari jemari Morgan yang bergerak dengan lincah di atas keyboard laptopnya. "Aku sudah selesai. Coba lihat kemari, kalau ada yang salah aku akan merevisinya," ucap Morgan meminta Cielo berpindah duduk di sampingnya. "Putar saja laptopnya ke arahku. Aku akan mengeceknya." "Aku bilang kamu yang kesini, supaya aku lebih mudah mengetahui bagian mana yang salah." "Iya," jawab Cielo mengalah. Cielo bangkit berdiri dari kursinya. Ia terpaksa duduk tepat di samping Morgan agar bisa melihat layar laptop dengan jelas. "Bagaimana apa semuanya sudah benar?" tanya Morgan menatap mata Cielo. Cielo menoleh untuk memberikan jawaban. Namun pandangan mata mereka justru saling bertemu. "Deg," jantung Cielo berdegup kencang ketika wajahnya berada dalam jarak sedekat itu dengan Morgan. "Eh, iya sudah benar. Kamu bisa mencetaknya." "Bagus, aku akan mencetaknya di rumah." Morgan mematikan laptopnya dan menyimpannya di dalam tas. "Apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Cielo memberanikan diri. Ia hanya berharap bisa segera mengakhiri situasi yang membuatnya harus berdekatan dengan Morgan. "Kita makan saja dulu sebelum pulang. Aku lapar." "Tapi...," "Tapi kenapa? Apa kamu ada janji dengan pacarmu?" tanya Morgan tanpa basa-basi. "Tidak, aku belum pacar," jawab Cielo spontan. Cielo tidak mengerti mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Seharusnya ia tidak perlu menjawab pertanyaan Morgan dengan begitu gamblang, apalagi menyangkut masalah pribadi. "Kamu tidak perlu khawatir. Setelah makan aku akan mengantarmu pulang." Morgan memanggil pelayan kafe untuk memesan makanan. "Saya pesan spaghetti bolognese dua." "Baik, Tuan," jawab pelayan kafe bergegas pergi. "Aku memesan spaghetti juga untukmu, karena spaghetti merupakan menu andalan di kafe ini," ucap Morgan memberikan penjelasan. "Sepertinya dia sudah sering mengajak pacarnya berkencan disini sampai hafal menunya," batin Cielo berasumsi sendiri. Entah mengapa membayangkan Morgan memiliki seorang kekasih membuat Cielo menjadi kesal. Tak berapa lama, pelayan kafe datang mengantarkan makanan mereka. Cielo mencicipi spaghetti yang dipesankan Morgan untuknya. Ternyata rasanya benar-benar lezat apalagi di saat perutnya sedang lapar. "Apa rasanya enak?" tanya Morgan mengamati cara Cielo menyantap makanannya. "Hmmm, iya." "Pantas saja kamu makan seperti itu." Morgan mengambil selembar tissue dan tiba-tiba tangannya bergerak mendekati bibir Cielo. Detik selanjutnya, tindakan Morgan membuat Cielo terkejut sekaligus malu. "Ada saus menempel di bibirmu," kata Morgan mengusap bibir Cielo lembut menggunakan tissue. "A..apa saus?" "Sudah hilang," jawab Morgan meletakkan tissuenya di atas meja. "Kenapa Morgan bersikap mesra padaku? Dan kenapa aku merasa gugup setiap berdekatan dengannya?" batin Cielo dengan perasaan tak menentu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN