Bahkan di dalam taksi, aku terus mencengkram lengan Rio. Baru kali ini perutku terasa sesakit ini. Biasanya, tidak apa-apa. Paling perih sedikit, lalu setelah aku minum s**u, rasa perihnya pun hilang. Ah, aku lupa membeli s**u tadi. “Tahan ya, Dien. Sebentar lagi kita sampai.” Rio terus berusaha membuatku tenang. Tapi perutku tidak bisa diajak kompromi lagi. Perih, panas, dan sakit bercampur menjadi satu. Aku terus meringis kesakitan. Keringat mulai bercucuran di dahiku, dan Rio dengan sigap mengelap keringatku dengan tissue yang tersedia di taksi. “Sakit banget, ya? Ya ampun.” “Pakai nanya lagi.” Aku berdecak, terus mencengkram lengan jaket Rio. Rio meringis menyesal. “Ya, maaf. Gue bingung mau ngomong apa biar lo lebih tenang.”

