Andra terus menemaniku mengobrol, dia berhasil membuat perasaanku lebih baik. Kami membicarakan banyak hal, paling banyak tentang masa SMA kami. Dia bilang, dulu aku sangat manis karena selalu menyapanya setiap pagi. “Pernah satu kali lo nggak nyapa gue, dan itu berhasil bikin gue bertanya-tanya apa lo marah sama gue atau nggak. Kenapa lo nggak nyapa kayak biasanya? Lo bikin gue penasaran, Dien.” “Oh, hari itu. Gue juga lupa, kenapa gue nggak nyapa lo, Ndra. Apa sebelumnya lo bikin gue kesal?” Aku menyengir saat melihat Andra menghela napas. “Lo aja lupa, apalagi gue.” “Oh, yaa?” Aku terkekeh. “Terus, apa dong yang lo inget?” “Lo ngaku rumah lo jauh banget, harus dua kali naik angkot. Padahal pas gue nga

