“Aku pikir-pikir dulu,” kata Danendra terpatah-patah, menanggapi tawaran Maderat. Sontak, Leong menoleh ke arahnya dengan air muka hitam memerah. Ia bermaksud mengamuk sang anak, tetapi keberadaan dua lelaki di hadapannya membuat maksud itu tertunda. Lelaki paruh baya itu kemudian mohon ampun pada Maderat atas sikap Danendra. “Tidak masalah,” kata ketua Laskar Cahaya itu. Ia memperhatikan sosok Danendra dengan saksama. “Kita memang harus berpikir sebelum bertindak. Apalagi tindakan ini nanti adalah untuk menumpas kehidupan manusia lain. Aku mengerti,” “Seharusnya kau mengatakannya dengan lebih sopan. Bukan begitu, Danendra?” kata sang ayah sembari tertawa. Tawanya kering. Ia merangkul bahu sang anak lalu meremasnya kuat-kuat. Maderat terbahak-bahak. Begitu pula Igon. Tawa itu memeca

