Tanda Cinta

1468 Kata
Di dalam mobil Emilie terus memaksa William pergi ke dokter, padahal pria itu terus menolak, sebab bagi William memeriksa kesehatan hanya membuang-buang waktu. "Wiliam jangan menganggap sepele, bagaimana kalau kau punya penyakit kronis! Kanker stadium akhir. Aku harus pastikan kau sehat! Kalau sakit dan mati, aku dengan siapa?" cerocos Emilie. "Kau sangat berharap aku mati, Em!" "Jangan bodoh!" bentak Emilie dengan menoyor kepala William yang sedang menyetir. "Lalu kenapa kau selalu menyumpahi aku memiliki penyakit kanker!" berang William. "Aku hanya takut kehilanganmu, Wil! Itu penyakit berbahaya kau tahu?" "Anak kecil juga tahu, Emilie!" William tidak sabar dengan sikap Emilie yang terkadang sangat menyebalkan seperti sekarang. "Jadi kau tidak punya penyakit kanker?" "Tidak!" "Oh, syukurlah." Emilie tersenyum lebar dan memeluk William. "Jangan peluk aku." "Kenapa aku wangi." "Kau menghalangi pandanganku, aku sedang menyetir!" "Haha. Kau benar." Emilie melepas pelukan dan kembali duduk di kursinya. William hanya menggeleng lemah. "Jadi kita tidak perlu ke dokter ya?" "Tetap saja kau harus ke dokter!" tekan Emilie. William hanya menuruti semua keinginan Emilie datang ke rumah sakit swasta yang mahal agar tidak banyak pasien yang datang. Rumah sakit untuk orang-orang elite. Emilie berjalan beriringan dengan Wiliam memasuki rumah sakit, Emilie duduk di kursi tunggu saat William pergi ke ruang pendaftaran. William mendapat tatapan heran dari petugas pendaftaran saat William yang sakit yang sibuk mendaftarkan dirinya untuk diperiksa, sedang Emilie duduk santai. Mamang begitu Emilie tidak mengerti prosedur apapun karena selama ini dia hidup dilayani. "Sudah?" tanya Emilie saat melihat Wiliam menghampiri dia. "Kita ke IGD, yuk!" ajak William. "Lho kamu sakit parah?" "Ya aku bingung mau ke Dokter spesialis apa, aku kan gak apa," cicit William. "Spesialis kandungan aja, gimana?" celetuk Emilie. "Emilie!" geram William dengan mencekik leher Emilie dengan siku dan menariknya menuju ruang IGD. "William, lepaskan! Aku bisa mati!" Emilie memberontak dan menggigit tangan William. Pria itu mendesis kemudian mengacak rambut Emilie. "Kau itu nyebelin, Em!" Emilie hanya membalas dengan senyum cengengesan. Disini William bertemu dengan Dokter umum, menolak diperiksa di ruang IGD yang terbuka. "Sudah kubilang, jangan masuk IGD!" protes Emilie. "Biar cepat ditangani!" Usai melakukan pemeriksaan Emilie pun bertanya pada sang dokter tentang kesehatan William, dokter itu mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Wiliam hanya kurang Istirahat saja. "Tidak ada kanker kan, Dok?" tanya Emilie. William hanya merotasikan mata—jengah. "Tidak ada, Nyonya." "Oh, syukurlah. Aku sempat takut tadi," cicit Emilie. "Tuan William baik-baik saja, hanya butuh istirahat." "Nah kamu dengar itu, Wil! Sudah mulai besok jangan kerja!" "Masih banyak yang harus aku selesaikan, Em. Mana mungkin tidak kerja!" "Kamu lebih sayang pekerjaan apa diri kamu sendiri, hah!" omel Emilie. William merasa tidak nyaman berdebat di depan dokter, dia pun beranjak setelah mengucapkan terima kasih dan mendapatkan resep obat. Dia menarik tangan Emilie keluar dari ruangan dokter. Sedan Emilie terus menasehati William di sepanjang melewati koridor rumah sakit hingga masuk ke dalam mobil. Hanya William yang sangat mengerti karakter Emilie dan mencintainya apa adanya. Di dalam mobil Wiliam berusaha mengalihkan perhatian Emilie pada hal lain. "Em, apa ada titik terang dengan pencarian pria asing itu?" Emilie yang sedang mengomel tiba-tiba menghembuskan napas kasar. Dan memiringkan tubuhnya menghadap William yang sedang mengemudi. "Apa kau percaya cinta yang kuat?" "Maksudnya?" "Ikatan batin atas perasaan yang kita miliki," tutur Emilie. "Tidak!" "Ah, aku lupa kau kan dingin. Mana pernah jatuh cinta. Harusnya kau jatuh cinta dulu, Wil biar mengerti apa yang aku rasakan," cicit Emilie. "Jangan membawa namaku, kau katakan saja ikatan yang kuat seperti apa?" "Entahlah!" "Hah!" William mengangkat satu alis merasa heran dengan jawaban Emilie. "Bagaimana kau berkata entahlah, Em. Sedang kau tadi mengatakan bahwa memiliki ikatan yang kuat." "Jadi begini, Wil. Saat di panti asuhan aku merasa jantungku berdegup lebih kencang hingga perut tiba-tiba mulas tidak karuan. Di kamar mandi aku tidak melakukan apapun tapi perasaan aneh itu datang menyerang," urai Emilie. "Aneh?" "Iya, Wil. Aku baru merasa hal seperti ini. Apa Tuhan Yesus sedang membersihkan aku tanda kalau saat itu kota sedang berdekatan?" "Mana ada begitu, Em." "Tapi itu yang aku panjatkan dalam doa saat di gereja. Meminta pada Tuhan Yesus untuk memberikan aku tanda yang aneh saat berada di dekat dia," tutur Emilie. "Benarkah bisa begitu?" "Bisa saja. Mukjizat Tuhan." "Aku tidak yakin." "Ya karena kau tak pernah berdoa!" "Untuk apa aku harus berdoa Em?" "Misalnya meminta jodoh gitu." "Apa itu tidak memaksa?" "Ya tidak! Bukankah itu termasuk usaha?" "Aku cukup bahagia asal dia bahagia, Em." "Dia siapa? Kau sudah punya pacar? Katakan siapa dia?" desak Emilie menggoyang tangan William. "Jangan menggoyang tanganku jika kau tidak ingin kita kembali ke rumah sakit!" William memberi peringatan. "Siapa dia Wil? Aku penasaran dan ingin tahu, beruntung sekali dia bisa dicintai pria sebaik kau," cicit Emilie. "Sayangnya tidak seperti itu." "Apa maksudnya, Wil?" "Dia mencintai pria lain," jawab William dengan lirih. "Haha. Kau ini miris sekali, Wil!" Emilie tertawa terbahak. "Dasar wanita bodoh! Dia tidak tahu siapa dirimu, bisa-bisa menolak sahabatku!" "Ya dia memang bodoh," jawab William dengan nada pelan nyaris tidak terdengar. "Oh, maafkan aku, Wil. Aku tidak bermaksud menertawakan. Sebenarnya kita sama-sama sedang berjuang mendapatkan cinta. Bagaimana Minggu ini kita ke gereja, Wil. Minta pada Tuhan agar orang yang kita cintai bisa didapatkan!" "Aku tidak akan memaksa!" sahut William. "Bukan maksa tapi usaha," koreksi Emilie. "Sama aja, Em." "Kau tahu, Wil?" "Apa?" "Jika kita berdoa pasti akan mudah. Buktinya aku minta diberikan tanda dan aku yakin rasa mulas itu adalah tanda aku sedang berada disekitar pria itu." "Kau salah makan Em, bukan tanda pertemuan." "Kau tidak percaya." "Tentu saja tidak, buktinya kau tidak bertemu dengannya." "Kau benar tapi aku sangat yakin." William tidak lagi menjawab, meski dia tidak percaya apalagi meyakini asumsi Emilie tapi tidak ingin menentang apa yang menjadi keyakinan sahabatnya. Namun, ada perasaan egois yang menggelitik hati William. "Apakah aku harus meminta pada Tuhan, agar Emilie mencintaiku? Tidak! Aku bisa berbuat licik dengan menentang doa Emilie. Aku hanya ingin dia bahagia dengan pria yang dicintai. Meskipun rasanya sangat sulit tapi itu pilihan yang terbaik," batin Emilie. Usai mengantar Emilie pulang, William tidak lagi membawa mobilnya sendiri. Emilie memaksa William untuk pulang dengan menggunakan sopir, padahal rumah mereka sangat berdekatan. Namun Emilie tidak membiarkan William mengendarai mobilnya sendiri. Dia juga meminta William untuk banyak istirahat. * Tepat pukul satu malam, Zahid terbangun dari tidurnya. Dia pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu, melaksanakan salat malam sebelum akhirnya kembali ke Bekasi. Zahid memang terbiasa memilih pulang lewat tengah malam karena jalanan sepi. Sedang jika pagi hingga malam, rute Jakarta Bekasi selalu padat. "Kau pulang sekarang, kah?" tanya Barto yang masih duduk dengan mengucek kedua matanya. Zahid yang kala itu sedang melipat sajadah pun menoleh dan mengangguk. "Tidak ngantuk?" "Tidak!" "Ya sudah hati-hati, mau diantar sampai depan?" "Memang kau pikir aku perawan harus diantar!" sahut Zahid. "Apa tidak tunggu pagi saja? Aku takut akan ada begal. Kau tahu kan, berita di televisi begitu mengerikan." "Jalanan Bekasi ramai, banyak karyawan yang pulang jam sekarang. Lagipula jika pagi macet." Zahid beranjak dari duduk dan menyimpan sajadah di atas lemari kayu. "Masukkan ke dalam lemari, aku tak menggunakan itu, Zahid." "Aku pikir kau akan salat," goda Zahid dengan terkekeh. "Enggan aku masuk agama kau!" "Kenapa?" "Ibadah seminggu sekali saja aku tak enggan, apalagi setiap hari. Enak tidur harus bangun, huh!" "Kau belum merasakan kenikmatan ibadah yang menenangkan, makanya kau melihat aku berat tapi setelah terbiasa kau akan merasa ada yang tertinggal saat meninggalkan," urai Zahid. "Mungkin." Barto mengedikan bahu. "Aku pulang ya," pamit Zahid dengan menggendong tas ransel miliknya. "Hati-hatilah kau!" "Insyaallah." "Ya, aku tahu kau akan katakan itu padaku." "Assalamualaikum." "Salam," jawab Barto. Meski berbeda keyakinan, tetapi Zahid tidak pernah lepas mengucap salam untuk sahabatnya. Tentu dia ingin sahabatnya itu selamat. Meski dia tahu tidak sepatutnya mengucap itu pada orang yang berbeda keyakinan. Namun sejak dulu Zahid tidak pernah mempermasalahkan beda kasta dan keyakinan, asalkan saling menghargai dan tidak mengusik satu sama lain. Dia berprinsip bahwa semua agama mengajarkan hal-hal yang baik. Seperti halnya Emilie dia menjalani kehidupan dengan pemikiran dan keyakinan berbeda dengan keluarga yang notabenenya fanatik terhadap agama. Karena benar atau tidaknya seseorang bukan karena agama yang mereka anut, melainkan individu itu sendiri. Seperginya Zahid Barto membuka lemari kayu dan mengambil sajadah milik Zahid. Dia mencium alat ibadah itu yang masih terasa wangi. "Aku tidak mengerti tentang agamamu, Zahid. Sejauh yang aku kenal kau adalah pria yang taat dan selalu menolong siapapun. Aku masih berhutang budi padamu, tentu akan aku bantu kau bertemu dengan perempuan itu tapi bagaimana caranya? Sedang aku tidak mengenal dia. Surai madu dan suara lembut, hanya itu yang kau katakan padaku sebagai petunjuk," gumam Barto. "Apakah benar ibadah tengah malam tidak merepotkan? Tapi yang kulihat kau terlihat senang dan wajahmu selalu bercahaya setelah mencuci muka sebelum salat." Sejak dulu Barto selalu penasaran dengan agama yang dianut sahabatnya tapi dia merasa tidak pantas masuk Islam karena teringat masa lalu yang begitu kelam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN