Keyakinan pada Tuhan

1548 Kata
"Selamat malam, Emilie," ucap William saat pintu rumah terbuka. "Apakah kau sakit, William? Kau tampak begitu tidak sehat." Emilie memegang kening William. "Kita ke dokter!" ajak Emilie. "Tidak!" tolak William. "Apa maksudnya dengan kata tidak, Wil? Kau ini sakit. Lihatlah wajahmu tampak pucat, aku tidak mau kalau kau ...." Ucapan Emilie terhenti. "Tidak untuk sekarang, bukankah kau sudah ada janji akan ke panti asuhan?" sela William. "Bisa ditunda!" "Tidak! Janji tetaplah janji, jangan dibiasakan kau bersikap abai pada hal sekecil apapun," seru William. "Baiklah. Apa kau bisa berjanji akan ke dokter setelah kita kembali?" "Jika aku tidak lebih baik, Em." "Apa kau sudah siap? Sebaiknya kita bergegas." William kembali berucap. "Heum." Emilie mengangguk. Seorang pelayan menutup pintu dan dua pengawal berjalan di belakang Emilie. Mereka berjalan beriringan dengan obrolan kecil. Emilie sangat senang saat mendengar kabar bahwa asisten pribadi Emilie akan menyusul ke Indonesia. Tentunya itu kabar yang sangat menyenangkan. "Aku meminta pada Tuan Hovell, agar Antonie kembali melayanimu. Semoga dengan adanya Antonie kau bisa menemukan pria itu, Emilie," ujar William. "Benarkah? Apakah dia akan segera datang?" Mata Emilie berbinar penuh kebahagiaan. "Ya." Tidak bisa menahan rasa bahagia Emilie memeluk William. Namun ada satu hal yang janggal, jika William meminta Antoni untuk kembali menjaga dia. Pikirannya melayang pada hal-hal yang buruk. Apalagi wajah William begitu pucat. "Kau baik-baik saja, kan?" Emilie bertanya dengan penuh kekhawatiran. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir padaku." "Apa kau sedang memiliki kanker stadium akhir? Hingga kau meminta Antoni menemaniku?" celetuk Emilie dan mendapatkan pukulan kecil di kening. "Cepat masuk mobil!" "Kau belum menjawab aku, Wil." "Emili!" William memelototi Emilie. "Huh!" Emilie Memilih duduk di kursi depan berdampingan dengan William, sedang dua mobil pengawal membuntuti di belakang. Emilie datang ke panti asuhan bunda kasih. Itu atas rekomendasi teman-teman yang dulu satu Gereja dengannya. Namun dua minggu lalu temanya itu telah memeluk Islam, sehingga meminta Emilie untuk berdonasi di panti ini. William tentu sangat heran saat melihat pemilik panti asuhan itu seorang muslim, kendati begitu dia tidak bertanya apalagi memprotes Emilie. Emilie disambut oleh perempuan paruh baya berhijab putih. Dia tersenyum ramah dan mempersilahkan Emilie dan William untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Tanpa mereka tahu, saat ini Zahid juga sedang berada di panti asuhan ini. Dia berada di sebuah ruangan yang berbeda. Dia sedang bermain dengan anak-anak malang. Emilie banyak bertanya tentang beberapa hal, berbincang dengan sang pemilik panti. Bahkan dia mengatakan akan menjadi donatur tetap. Mendengar itu tentu perempuan paruh baya itu sangat senang. Tanpa diduga Emilie merasakan perut yang tidak nyaman dan meminta izin ke kamar mandi. perempuan paruh baya meminta seorang anak perempuan mengantar Emilie. Baru saja Emilie pergi meninggalkan ruang tamu. Zahid datang ke ruang tamu dengan seorang anak lelaki, dia meminta izin untuk membawa anak kecil itu keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Zahid sempat bertegur sapa dengan William tapi memang mereka tidak saling mengenal. Zahid pergi membawa anak kecil itu dan sudah berlalu meninggalkan pekarangan rumah. Tidak berselang William meminta izin untuk menunggu di luar. Emilie datang dan kembali duduk, tidak banyak lagi yang mereka bicarakan. Emilie meminta nomor rekening panti itu dan memberikan sejumlah uang dalam amplop coklat. Perempuan itu menatap penuh kekaguman, sedang William memilih menunggu di luar. Mengingat akan pergi menemani William ke dokter, Emilie pamit undur diri. Seperginya Emilie dan William, Zahid kembali dengan anak kecil dan makanan di tangan. "Assalamualaikum," ucap Zahid. "Waalaikum salam." Zahid masuk dan memberikan satu kotak martabak pada perempuan paruh baya yang masih duduk. Sedangkan anak kecil itu membawa kotak yang sama masuk ke dalam untuk dibagi dengan teman-temannya. "Zahid duduklah," pinta perempuan itu. Zahid mengangguk dan duduk. Mereka duduk berhadapan, perempuan pemilik panti itu duduk di kursi tunggal, sedang Zahid duduk tepat di tempat yang tadi duduki oleh Emilie. "Sepertinya ibu membatalkan meminjam uang ke Bank," ucapnya. "Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak, Buk? Jujur Zahid belum bisa bantu." "Alhamdulillah, ada orang baik. Tamu yang tadi datang memberikan sejumlah uang dan akan menjadi donatur tetap panti ini." "Alhamdulillah," pekik Zahid, mengusap wajah dengan kedua tangan penuh rasa syukur. "Iya, Nak. Allah memberi jalan pada kita." "Tapi aku melihat pria itu seperti orang asing, tepatnya bule ya?" "Mereka non muslim dan sepertinya memang dari Eropa." "Subhanallah. Seandainya semua orang kaya memiliki kepedulian seperti dia, mungkin akan sejahtera." "Istrinya yang memberikan santunan." "Jadi dia bersama istrinya? Aku tidak melihat." "Saat kau tadi izin membawa Dian pergi, dia sedang meminjam kamar mandi." "Oh pantas saja. Mereka bagai malaikat yang datang diwaktu yang tepat. Semoga kebahagiaan menyertai mereka." Doa Zahid tercurah. Ibu Ustazah Latifah—Perempuan pengelola yayasan itu, menganggap bahwa Emilie dan William adalah sepasang suami istri, karena melihat kedekatan mereka dan cara Wiliam menatap Emilie penuh dengan rasa cinta dan pengertian. Apalagi saat kaki Emilie tersandung, dia begitu khawatir. Siapapun yang melihat kedekatan Emilie dan William akan berpikir seperti itu. Karena waktu semakin larut, Zahid memutuskan untuk meninggalkan panti asuhan. Dia tidak langsung pulang ke Bekasi, melainkan menemui temannya yang tinggal di Jakarta. Dengan bermodalkan motor matic dia akhirnya sampai di rumah kos sahabatnya. Rumah kos yang lebih tepatnya timah petakan yang hanya terdiri dari satu kamar dapur dan kamar mandi, jadi saat membuka pintu depan Zahid sudah langsung masuk ke dalam kamar. "Assalamualaikum," ucap Zahid. "Masuklah, kau!" jawabnya dari dalam rumah. "Kau akan pergi ke Bekasi lagi, kah?" tanya Barto dengan membawa piring berisi nasi dan menggenggam air putih. Dia menyapa saat Zahid baru saja membuka pintu kosan. "Iya." Zahid mengangguk dengan membuka alas kaki. "Harusnya kau tak perlu bolak-balik pergi ke Jakarta hanya untuk bertemu aku. Tak apalah aku kau tinggal sendiri," ucapnya penuh percaya diri. Duduk bersila. di depan kipas angin. "Aku ke Jakarta bukan untukmu tapi datang menemui Ustazah Latifah," jawab Zahid dengan menahan senyum saat melihat temannya itu tersenyum cengengesan. Kala itu Barto mengajak Zahid melamar pekerjaan pabrik motor terbaru. Zahid sudah diterima bekerja tapi tidak dengan Barto, hingga Barto bekerja serabutan di ibu kota. Zahid berjuang keras mengais rezeki bukan hanya untuk mengirim uang dan merubah hidup keluarga. Namun, dia juga menabung untuk kembali ke Amsterdam dan mencari wanita pujaan. Dia tidak ingin menyerah, karena nama itu masih setia mengukir di hati. Rasa penasaran pun hinggap, dalam bayang semu dia mengingat surai madu, mata biru dan suara yang begitu lembut milik Emilie. PT Khanza Motor itulah pabrik tempat Zahid bekerja. Dan, tanpa dia tahu bahwa itu adalah pabrik milik keluarga Van Hovell. Sengaja tidak memberikan nama keluarga, karena nama itu diambil dari nama ibu kandung William. Dulu sebelum orang tua William pergi, ayahnya yang adalah sahabat Richard berencana akan membuat perusahaan itu. Namun, terhenti karena Khanza mengalami kecelakaan pesawat dalam perjalanan bisnis. Dan sekarang Richard bertekad untuk membangun mimpi bersama sahabatnya itu dengan William dan Emilie. Zahid masuk ke dalam kamar kos dan mengambil gelas di dapur, kembali dan berjongkok di depan dispenser setelah dia meminum air mineral. "Apa kau tak ingin pulang ke Jogjakarta? Pulanglah, kasihan mamak kau, Zahid," kata Barto dengan menyuapkan nasi dengan tangannya ke dalam mulut. "Aku memang merindukan mereka tapi tidak bisa menikahi Aisyah," jawab Zahid dengan menundukkan kepala. "Alamak, wanita secantik itu kau tolak? Kenapa kau lebih memilih wanita asing itu, Zahid? Tak yakin aku dia merasakan apa yang kau rasakan! Ingatlah kalian beda kasta dan keyakinan!" "Tapi aku sangat yakin, hati kecil tak pernah bohong." Zahid bersikukuh. Barto tidak lagi menjawab, dia memilih melanjutkan kembali makanya. Sudah lelah menasehati Zahid yang terus mencari bidadari yang hadir diambang bawah sadarnya. Usai makan Barto kembali mengajak bicara Zahid yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur tak berdipan itu. "Aku hanya ingin kau mengerti, bagaimana kau bisa cinta padanya Zahid? Sedangkan kau tak tahu seperti apa wajahnya, bagaimana pula kau cari dia?" "Allah!" jawab Zahid cepat. "Maksudnya?" "Allah yang akan mempertemukan kita dengan cara-Nya, aku sangat yakin dengan kekuasaan-Nya." Barto mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sudah bosan mendengar jawaban Zahid yang sama. "Empat tahun lebih, Zahid dan kau tak menemukan petunjuk apapun tentangnya. Dan, asal kau tahu Tuhan-Mu bukan hanya mengurus satu orang!" tandas Barto. "Tapi TuhanKu tidak pernah tidur, mendengar doa yang kupanjatkan. Aku yakin kami akan bertemu kembali," ucap Zahid. "Dan bukan kamu saja yang berdoa pada-Nya. Mungkin saja ada orang lain yang berdoa untuk memiliki perempuan itu!" "Terserah! Aku kan tetap meyakini apa yang aku percaya!" "Jangan terlalu berharap nanti kecewa." "Berharap pada Allah tidak akan pernah kecewa, karena Allah akan memberikan apa yang kita pikirkan. Berbeda dengan kita berharap pada manusia, jaminannya pasti akan kecewa. Tidak percaya? Coba aja!" "Gak! Aku tidak suka berharap pada apapun dan siapapun! Hidup sesuai logika saja!" "Dan cara kerja Tuhan-Ku tidak bisa ditebak dengan logika," jawab Zahid. "Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu!" "Tidak perlu dimengerti, karena aku bukan matematika yang harus kau pahami agar bisa menguasai ilmu eksak lainnya," sahut Zahid. "Sudahlah, terserah kau saja! Aku capek bicara dengan orang seperti dirimu!" "Aku tidak meminta kau untuk berbicara denganku." Barto hanya merotasikan mata dia lebih memilih meninggalkan Zahid daripada berdebat tidak ada ujungnya dan tidak pernah sekalipun menang. Seperginya Barto Zahid menghembuskan napas dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Ya Allah, jangan biarkan aku kecewa dengan keyakinanku ini. Berilah aku jalan untuk bertemu dengan bidadari yang engkau ciptakan, jika memang kami berbeda keyakinan. Bukalah pintu hatinya agar senantiasa memeluk Islam. Aamiin." Barto yang berada dibalik tembok pembatas antara kamar dan dapur hanya tersenyum getir. "Semoga Tuhan-Mu mengabulkan semua doa, agar kau bahagia," gumamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN