Misi Pertama

1104 Kata
"Jangan membuat Wiliam sulit dengan tingkah bodohmu, Emilie!" ujar Richard dengan sorot mata tajam penuh ancaman. Kala itu Emilie baru saja menuruni tangga dan kakinya belum menginjak lantai dasar sudah disambut dengan peringatan Richard. Emilie membalas dengan senyum cerianya, begitulah Emilie memancarkan kebahagiaan dan senyum pada semua orang. Air mata selalu disembunyikan dan ditumpahkan kala sedang sendiri. "Aku rasa Daddy akan sangat sedih saat aku pergi," seloroh Emilie dengan melingkarkan tangannya di lengan Richard. "Tidak akan pernah, Bodoh!" Richard memukul kening Emilie dan gadis berambut madu itu terkekeh dan menggelayut manja. "Aku akan sangat merindukan ocehanmu, Dad," kata Emilie dengan menyadarkan kepala di bahu Richard. "Dan aku rasa kondisi jantungku akan stabil saat kau tidak ada, Emilie." "Oh bukankah itu terlalu jahat, Dad?" Emilie mendongak dan mengecup pipi Richard sekilas. "Aku akan merindukanmu, Dad. Sungguh!" ucap Emilie dengan memiringkan wajahnya dan tersenyum manis. Richard mengacak pucuk kepala Emilie. "Jaga diri baik-baik. Asia sangat berbeda dengan Amsterdam. Dan, jaga etikamu. Jangan membuat malu, kau paham?" "Heum." Emilie mengangguk, kemudian memeluk Richard dengan erat. "Jaga diri baik-baik, Dad. Jangan gila kerja," celetuk Emilie. "Kau ini!" Richard melepas pelukan dan mencubit hidung mancung Emilie. Emilie mendongak menatap Richard dengan tertawa riang. Sedang Jennifer melengos tidak ingin melihat kedekatan Emilie dan Richard. "Nenek menitipkan syal ini untukmu, Em," ucap Charlotte yang baru datang dengan mengalungkan syal di leher putrinya. Emily melepas pelukannya dari Richard dan menghadap ke arah Charlotte. "Apakah dia tahu aku akan ke negeri yang tidak akan membutuhkan syal untuk berlindung dari hawa dingin? Oh ayolah, Indonesia itu sangat panas," ucap Emilie dengan membelitkan syal di leher. "Kau bisa menggunakan untuk mengusap keringat," ucap Cherlotte. "Bagaimana jika aku gunakan untuk nengelep ingus?" seloroh Emilie dengan terkekeh. "Sudikah kau melukai nenekmu dengan perbuatan keji itu?" jawab Charlotte dengan mendelik sinis. "Haha, marah?" Emilie memiringkan wajah dan mengedipkan sebelah mata di depan wajah Charlotte. "Kau ini terlalu menganggap aku serius wanita tua!" "Anak kurang ajar, kau berkata seperti itu pada mommy-mu," geram Charlotte dengan mengusap kasar wajah Emilie. "Apakah aku harus memanggil dengan sebutan anak remaja?" goda Emilie kembali mengajukan wajah dan menatap Charlotte lekat. Charlotte hanya menggelengkan kepala dan merentangkan kedua tangan, kemudian Emilie masuk ke dalam pelukan ibunya. Emilie memeluk kedua orang tua, tidak ada kebencian meski terkadang dia diperlakukan berbeda. Emilie menganggap semua kehidupan seperti sebuah candaan. Lalu dia mendekati Jennifer hendak memeluknya sebagai tanda perpisahan. Namun perempuan jangkung itu mundur dua langkah menghindari Emilie. Dia mengangguk mengerti dan menyembunyikan sesak di d**a atas perbuatan Jennifer dengan menyungingkan senyum. "Jaga dirimu, Jennifer," ucap Emilie tulus. "Harusnya kau katakan itu pada dirimu, sendiri, Emilie," jawab Jennifer ketus. "Terima kasih kau telah khawatir padaku." "Maaf, aku tidak sepeduli itu padamu, Emilie." Jennifer pergi meninggalkan Emilie. William yang menyaksikan itu pun berteriak memanggil Emilie. "Emilie, Ayo!" "Ya! Tunggu aku, William," jawab Emilie dengan berteriak. "Aku pergi ya," ucap Emilie pada kedua orang tua dengan menarik kopernya menghampiri William yang sudah berpamitan lebih dulu. "Selamat tinggal." Emilie melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil. "Jangan katakan itu, Emilie," ucap Charlotte. Namun Emilie tidak mendengar karena dia sudah masuk ke dalam mobil. Tidak ada yang mengantar mereka ke Bandara, karena Richard dan Charlotte ada pertemuan penting dengan klien. Sedangkan Jennifer yang sedang tidak sibuk pun lebih memilih melihat Emilie dari balik jendela kamarnya dengan tersenyum menyeringai dan tatapan sinis penuh arti. * Emilie dan William tinggal di rumah yang sama di temani lima orang pelayan dan sepuluh orang penjaga rumah yang berjaga bergantian. Rumah dua lantai bergaya Eropa telah disiapkan Richard sebelum dia datang. Tentu tinggal satu rumah hal yang sangat biasa bagi mereka yang terbiasa di negara barat. Namun jangan harap saat berada di negara timur. Nyatanya baru sehari tinggal satu rumah dengan Emilie dia dihampiri oleh RW setempat dan diminta untuk tidak tinggal serumah atau dinikahkan. Tentunya Emilie menolak menikah dengan William, karena tujuan kedatangan dia kesini untuk mencari Zahid. Akhirnya dia meminta Wiliam untuk mencari tempat tinggal yang tidak jauh dari rumahnya. Waktu cepat berlalu, Emilie sudah berada di kantor pusat yang da di Jakarta. Sedangkan pabrik beroperasi di Bekasi dan pemasaran mulai di sebar di berbagai negara. Tentunya Richard sudah membuat dealer-dealer resmi untuk mendukung proses perkembangan pemasaran produk yang diluncurkan empat bulan lalu. Ya, selama empat bulan di negara Indonesia. Saat ini Emilie datang ke ruangan Wiliam dengan wajah yang kusut. Pria yang sedang sibuk dengan layar laptop di hadapannya pun belum menyadari kehadiran Emilie, karena jika bekerja dia sangat fokus. Emilie duduk di sofa dengan bersedekap dan menyandarkan kepala di kepala kursi. "Wiliam, apa kau yakin orang siluruhanmu yang mengatakan bahwa dia kembali ke Indonesia?" ucap Emilie tapi tidak mendapatkan jawaban dari sahabatnya itu. "Wiliam!" bentak Emile. "Iya?" William mendongak menatap Emilie. "Kau bilang apa tadi?" "Oh Tuhan," desis Emilie dengan mengusap wajahnya dengan kasar. "Zahid aku belum menemukan dia!" ucao Emilie dengan nada keras. "Kau sudah mencairnya sungguh-sungguh? Indonesia itu luas, Emilie," ucap William dengan beranjak. "Bagaimana aku bisa mencari dia, sedangkan kau memberi banyak pekerjaan padaku!" keluh Emilie dengan mengerucutkan bibirnya. "Tunggu beberapa bulan lagi, aku sedang melakukan penyesuaian. Setelah itu aku akan membantumu, Emilie." Willian duduk di samping Emilie. "Kapan, Wil?" Emilie memasang wajah melas dan tentunya itu cukup berhasil membuat William tidak tega. Namun dia tidak bisa melakukan apa-apa karena saat ini dia benar-benar sibuk dengan peluncuran produk baru. Memantau semua pekerja agar semua berjalan seimbang dna bisnisnya berkembang pesat, memenuhi target penjualan yang pesat. "Bersabarlah, Emilie. Dan, selama aku belum bisa membantumu. Lakukanlah hal-hal yang kau sukai, semoga dengan begitu tidak sengaja bertemu dengan pria idaman itu." "Apalah aku boleh membantu anak jalanan? Aku ingin bermain dengan merka juga, aplah boleh?" "Asal kau senang lakukanlah tapi ingat setelah pekerjaan selesai." "Apa dengan begitu aku bisa bertemu dengan cinta pertamaku?" "Aku tidak menjamin tapi dengan kita mengenal banyak orang, mampu membuka peluang lebih besar. Dibandingkan kau hanya mengandalkan orang-orang suruhan kita untuk mencari. Ingat mereka juga memiliki ntugas utama, Emilie." Emilie mengangguk mengerti. Emilie pergi setelah dari ruangan William dengan semangat yang baru. Sedang William menyandarkan kepalanya di badan sofa dengan memejamkan mata. Dia merasa orang paling bodoh di dunia karena membiarkan perempuan yang sangat dicintai sedari kecil pergi dan mencari cinta yang semu. William tidak ingin egois dia tetep akan memendam Brass cinta itu pada Emilie, asalkan orang yang dicintai bahagia. "Emilie seandainya kau tahu betapa sakit hatiku saat engkau menyebut namanya. Haruskah aku egois? Meminta Tuhan Yesus agar tidak mempertemukan kalian, tetapi aku tidak akan menjadi orang yang jahat. Kebahagiaanmu adalah bahagiaku, meski sangat sulit jika aku harus merelakan engkau dekat dengan pria lain. Entah Sehancur apa jika engkau sampai menikah," gumam William dengan mengusap wajahnya dengan kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN