Kebencian Tanpa Landasan

1093 Kata
Khadijah masih setia memeluk Aisyah diambang pintu dengan sejuta penyesalan. Dan, perempuan berhijab putih itu mengangguk memaafkan. Dia mempersilahkan Khadijah duduk dan membuatkan teh hangat. Ibrahim yang duduk di samping Khadijah pun menjelaskan bahwa Khadijah tidak sadarkan diri saat akan pergi ke rumah Aisyah. Pria yang berkulit hitam itu pun menjelaskan bahwa Zahid tidak bisa melangsungkan pertunangan. Baru saja dia akan mengatakan sejujurnya tapi Khadijah menyala ucapan suaminya. "Memangnya kemana Mas Zahid?" tanya Aisyah. "Tiba-tiba ada panggilan kerja, Nak. Eum … apakah Nak Aisyah mau menunggu?" tanya Khadijah dengan memegang tangan Aisyah. "Buk," tegur Ibrahim. Khadijah membalas dengan melirik sinis dan mengedipkan mata, memberikan isyarat agar diam tidak ikut campur. Ibrahim hanya menghembuskan napas kasar dan menggeleng lemah saat mendengarkan ucapan Khadijah pada Aisyah yang memberikan banyak harapan. "Nak Aisyah mau menunggu Zahid, kan?" desak Khadijah. Wajah Aisyah bersemu merah menahan malu, dia pun mengangguk. "Insyaallah, Buk. Aisyah sudah berjanji pada almarhumah ibu untuk menikah dengan Mas Zahid," jawab Aisyah. "Alhamdulillah." Khadijah tersenyum lega. Sedang Ibrahim menggelengkan kepala dengan menatap istrinya penuh kekecewaan. Janji antara Khadijah dengan ibu Aisyah—Khasanah adalah menjodohkan Aisyah dan Zahid sejak kecil. Hingga Khadijah bertekad akan melakukan apapun agar anaknya mau menerima perjodohan itu. Sedangkan Aisyah selain dia menerima perjodohan itu karena permintaan ibunya yang akan meninggal. Dia juga sangat mengagumi Zahid dari kecil dan perasaan itu berkembang menjadi benih cinta yang memenuhi hati Aisyah. * Bermodalkan tekad yang kuat dan rasa bersalah pada kedua orang tua karena meninggalkan perempuan yang dijodohkan, Zahid pergi ke ibu kota saat mendengar kabar dari temannya bahwa ada perusahaan yang baru di bangun di kawasan industri daerah Bekasi. Zahid sampai di stasiun kota tua dan disambut oleh seorang pria berambut ikal, berkulit hitam legam yang melambaikan tangan di udara seraya berteriak. "Zahid! Aku disini!" Pandangan Zahid bersirobrok dengan teman SMAnya itu. Zahid tersenyum dengan menampakan lesung pipi. Dia berjalan menghampiri dengan membenarkan tas ransel yang bertengger di bahu kanan dan menarik koper kecil berwarna hitam. "Gagah kali kau pakai koper segala? Biasanya kau bawa-bawa tas butut berwarna coklat tua dan usang. Kemana tas legendaris itu?" godanya dengan merangkul bahu Zahid. Namun tidak mendapatkan jawaban dari pria tampan dan manis kala tersenyum itu. "Aku dengar kau sedang kasamaran, Zahid?" Zahid terkekeh pelan. "Kasmaran bukan kasamaran," koreksi Zahid. "Apalah itu aku tak mengerti urusan percintaan. Oh iya, apa kau sudah siapkan semua? Besok kita ke Bekasi untuk melamar pekerjaan." "Alhamdulillah, sudah. Hanya saja …." "Hanya saja apa?" "Aku tak yakin." "Itu pabrik baru, Zahid kau bisa mencobanya. Lagipula kau lulusan luar negeri. Tidak seperti aku yang hanya lulusan lokal." "Sama saja, Berto." "Kau panggil saja aku Roberto," koreksinya. "Aku rasa terlalu berat nama itu bersandang dengan wajahmu," jawab Zahid dengan tertawa mengejek. "Makam mana pula kau bilang nama itu tak cocok? Aku ganteng begini," cerocosnya dan membuat Zahid tak kuasa melebarkan senyuman. Emilie memasukan baju ke dalam koper berwarna violet, salah satu warna kesukaan. Jennifer masuk ke kamar Emilie dengan bersedekap, duduk di tepi ranjang adiknya dan mengangkat batu kali. Dia duduk dengan elegan dan wajahnya diangkat sedikit, tampak angkuh dan penuh percaya diri. "Apa kau tidak memiliki pelayanan hingga kau berkemas sendiri?" ucap Jennifer, Emilie menoleh dan menyungingkan senyum. "Aku terbiasa hidup mandiri." "Bukankah kau terbiasa hidup membuat onar?" Jawab Jennifer dengan melirik sinis. Emili tidak menjawab dia lebih mengeraskan suaranya untuk bernyanyi. "Emilie apa yang kau rencanakan?" "Maksudnya?" Emilie menjawab tanpa menoleh. "Aku tidak yakin kau di sana akan bekerja. Aku tahu siapa dirimu, Emilie," ucap Jennifer tersenyum meremehkan. Emilie menghentikan aktivitasnya dan meminta perlahan untuk melanjutkan pekerjaan. Emilie menghampiri Jennifer, duduk di tepi ranjang dengan bersila dan menghadap Jennifer yang berada di sampingnya. "Apa kau tidak ingin aku pergi, karena kau akan merindukanku?" cetus Emilie dengan memiringkan wajah ke satu sisi. Menatap wajah Jenifer dari samping. "Jangan mimpi kamu Emilie. Aku bersyukur kau tidak ada di sampingku. Bukankah kau tahu, sejak kau lahir aku sangat membencimu!" "Ya, ya. Aku tahu karena kau sudah mengatakan padaku ribuan kali, karena aku merampas semua Kebahagiaan yang kai punya. Sebenarnya apa yang aku rampas, Jennifer?" selidik Emilie. "Ck! Harusnya kau tidak pernah hadir di dunia ini Emilie! Dan jika kau pergi, maka jangan kau bawa satu orang pun yang aku miliki!" ucap Jennifer dengan beranjak dari duduk. "Siapa? Aku tidak membawa Daddy ataupun Mommy. Kau bisa memiliki mereka sepuasmu!" jawab Emilie dengan menahan sesak di hati. "Kau memang perampas kebahagiaan, Emilie. Sikapmu yang tidak peka selalu menyakiti orang lain. Dan, kau tidak menyadari itu." "Katakan apa salahku Jennifer, kenapa kau begitu benci!?" teriak Emilie. Jennifer yang sudah berada diambang pintu pun menghentikan langkah tanpa berbalik seraya berkata, "Salahmu adalah kau hidup dan berada diantara orang-orang yang seharusnya menjadi milikku seutuhnya!" Jennifer pergi berlalu sedang Emilie duduk memaku, dia meminta maid untuk pergi meninggalkan kamar. Emilie mengunci pintu dan memegangi dadanya yang sesak. Sejak kecil Jennifer tidak pernah menyukai dia, mengambil apapun yang diberikan oleh orang tua. Emilie masih ingat saat dia mendapat peringkat yang lebih jauh bagi dari Jennifer. Sejak saat itu, Jennifer semakin membenci Emilie. Dia sangat tidak suka saat Richard dan Charlotte memuji Emilie. Dari sana Emilie berpikir untuk tidak lagi berprestasi dan melakukan hal-hal yang dibenci orang tua. Dia berharap dengan selalu dimarahi kedua orang tua akan membuat Jennifer menerima dia dan memperlakukan dia selayaknya saudara. Namun, semua itu tidak merubah apapun. Emilie hidup seperti benalu di keluarga Van Hovell, hidupnya menjadi aib Richard. Beruntung ada William yang selalu ada menemani dan menghibur dan menerima apa adanya. Emilie beranjak dari duduk, berjalan menuju nakas dan membuka laci. Disana dia melihat foto keluarga. Empat orang yang sangat disayangi. William juga ada di sana duduk diantara Emilie dan Jennifer. Sedang Richard dan Charlotte berdiri di belakang mereka. Foto itu selalu Emilie bawa kemanapun, karena hanya itu satu-satunya foto yang ada dirinya di sana. Bagai anak tidak dianggap, Emilie tidak pernah dikenalkan pada teman-teman ayahnya. Sehingga namanya seperti tidak ada di keluarga Van Hovell. Semua sangat mengenal Jennifer, apalagi sekarang Jennifer telah ditunjuk resmi sebagai pewaris sah harta keluarganya. Emilie tersenyum getir mengingat perlakuan tidak adil Richard terhadapnya. Emilie memeluk bingkai foto dengan erat dengan air mata yang terus mengalir deras. "Harusnya aku yang iri dan benci padamu, Jennifer. Kau adalah putri kesayangan yang dibanggakan, sedangkan aku? Bahkan aku tidak dianggap ada. Hadirku hanya menjadi aib keluarga. Apa yang kulakukan selalu salah. Terkadang aku nakal untuk mendapatkan perhatian tapi semua tak merubah apapun dan hanya menambah kebencian daddy padaku." "Jennifer aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara seperti orang lain, bermain bersama dan berbagi. Namun kenapa kau begitu membenciku tanpa landasan yang jelas?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN