Keputusan Zahid

1018 Kata
Assalamualaikum. "Kelu bibirku untuk berkata padamu langsung, Ibu. Namun, menikah bukanlah sebuah percobaan. Saat ini izinkan aku pergi untuk mewujudkan cita. Dan, tidak berjanji untuk menikahi Aisyah, karena telah memiliki hutang budi pada perempuan yang saat ini mengisi hati. Maafkan Zahid yang berani membangkang. Tidak sedikitpun berniat menjadi anak durhaka." Zahid Ibrahim. Kedua tangan Khadijah bergetar tatkala membaca sepucuk surat yang tergeletak di atas meja belajar putra tunggalnya. Dia tidak menyangka, Zahid memilih pergi tanpa berbicara pada Khadijah di hari pertunangannya dengan Aisyah. Keputusan itu tentu membuat Ibrahim yang sedang berdiri tepat di samping sang istri pun dibuat kecewa. Tidak pernah menyangka bahwa anaknya akan senekat itu. Satu jam sudah Khadijah duduk di depan meja belajar anaknya dengan wajah menunduk. Surat permintaan maaf dan banyak bait kata yang tertulis di sana. Halus dan sangat jelas Zahid menolak perjodohan dengan Aisyah. Sebagai seorang pria, Zahid akan menepati janji meski hanya pada dirinya sendiri. Ibrahim yang yang baru saja membaca surat yang ditinggalkan Zahid pun mencoba menenangkan Khadijah dengan mengusap lembut bahu istrinya. "Ikhlas, Buk. Anak kita sudah menjadi pria dewasa. Doakan saja agar dia bahagia," kata Ibrahim. "Ndak!" Khadijah menjawab dengan cepat. "Astaghfirullah, Bu. Eling, ndak boleh begitu. Kita sebagai orang tua harus mendukung dan mendoakan anak kita. Apapun keputusan dia, terlebih mengecewakan karena bertentangan dengan kita." "Tapi Pak, aku udah janji pada Aisyah. Sekarang aku harus bagaimana? Kasihan, kan dia," keluh Khadijah. "Lagian ibu mudah berjanji, harusnya tanya dulu pada anak kita. Mau apa ndak?" "Pikir ibu, pria mana yang menolak Aisyah, dia itu sangat cantik, sopan, sholehah dan pintar masak. Mau mencari seperti apa lagi? Bukankah dia sangat sempurna!" "Cinta tidak bisa dipaksakan, Buk. Cobalah untuk mengerti." "Buktinya kita dijodohkan dan langgeng sampai sekarang, bahkan tidak saling mengenal. Sedang Zahid sejak kecil mengenal Aisyah. Ibu tidak habis pikir dengan jalan pikiran anak kita," desis Khadijah wajahnya jelas menyiratkan kekecewaan yang mendalam. Ibrahim terus berusaha menenangkan Khadijah yang tersulut emosi dan diselimuti kekecewaan. Meskipun dalam surat Zahid mengatakan bahwa akan mencari pekerjaan tapi jelas dituliskan bahwa dia memiliki hutang budi pada perempuan yang telah menolongnya. Zahid pun berkata jujur bahwa dia tidak bisa menjanjikan pernikahan pada Aisyah. "Pak," panggil Khadijah dengan nada lirih. Dia mendongak menatap wajah suaminya. "Tidak sampai hati ibu menyakiti Aisyah dan mengatakan Zahid tidak menjanjikan pernikahan." "Katakanlah yang sejujurnya. Temui Aisyah, Buk. Insya Allah dia akan mengerti," seru Ibrahim dengan merengkuh pundak istrinya. Khadijah diam dengan pikiran yang jauh melayang. "Aku sudah berjanji pada ibunya untuk menjaga Aisyah dan menjodohkan mereka. Berat, Pak." Khadijah membenamkan wajahnya di d**a Ibrahim. * Sedang di kediaman Aisyah yang sederhana, jamuan sudah tersedia dengan aneka kue basah dan kering. Dia mengenakan pakaian syar'i berwarna putih dengan sedikit brokat sebagai layer gamisnya. Sejak tadi senyum tidak pernah lepas dari bibirnya yang tipis dan berwarna merah jambu. Kecantikan alami yang memancar meski kulitnya sawo matang khas jawa. Manis satu kata yang cukup melukiskan visual Aisyah. Duduk di sofa yang warna kainnya sudah memudar dengan gelisah bersama paman dan bibinya yang membantu dia mempersiapkan acara pertunangan itu. Namun waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan keluarga Zahid tidak kunjung datang. Padahal janjinya selepas salat Dzuhur mereka akan datang berkunjung. "Aisyah apa kamu yakin mereka akan datang?" tanya Sang bibi yang saat ini duduk tepat di samping Aisyah. "Pastikan dulu, Nak. Pak Lik tidak enak dengan Pak ustaz Somad. Sejak tadi menunggu keluarga dari calonmu datang," seru Sang paman yang baru saja masuk, sejak tadi dia dan para tokoh yang dituakan di desa itu menunggu di luar rumah. "Tunggu sebentar lagi. Sepertinya aku salah mendengar. Apa mungkin mereka mengatakan ba'da Isya tapi aku mendengar selepas salat Dzuhur." Aisyah mencoba memberikan pandangan lain. "Aisyah mohon paman dan bibi menunggu hingga pukul delapan saja," pinta Aisyah dengan wajah yang sendu. "Selama apapun itu, paklik dan bulik akan tetap menunggu," jawab Sang bibi dengan mengusap punggung tangan Aisyah. "Tapi ndak enak dengan pak ustaz dan jajarannya," sambung Sang paman. Aisyah diam menunduk dengan perasaan campur aduk. Kebahagiaan perlahan memudar dan berganti kekecewaan dan kecemasan yang menjalar. Wajah Aisyah pucat pasi saat tepat waktu menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit, semua tamu pulang beberapa menit lalu. Sedangkan wanita paruh baya itu mengusap punggung tangan. "Mungkin Zahid dan orang tuanya berhalangan datang," ucapnya menenangkan. Aisyah mengangguk lesu. "Aisyah," panggil Sang paman. "Ya, Pak Lik?" "Ainun di rumah sendiri, apa kamu tidak apa kami tinggal? Atau paklik jemput Ainun dan menemanimu di rumah ini?" Aisyah menggeleng. "Ndak usah, Paklik." "Kamu beneran ndak apa, Ndo?" Wanita yang saat ini memegang kedua tangan Aisyah pun memastikan kembali. "Iya, ndak apa. Kasihan Ainun sendiri." Kedua paman dan bibinya itu pergi meninggalkan rumah Aisyah dengan sedikit ragu. Sebenarnya mereka khawatir meninggalkan Aisyah saat ini, karena mereka tahu. Bahwa Aisyah sedang tidak baik-baik saja. Namun menyadari putrinya sendiri dari rumah sehingga tidak bisa menemani Aisyah lebih lama. Aisyah menatap punggung tangan kedua orang yang menjadi satu-satunya saudara. Adik dari ayahnya yang telah tiada. Aisyah menutup pintu ketika bayangan paman dan bibinya itu telah hilang di telan pohon besar yang da di tepi jalan. Aisyah menutup pintu, menyandarkan tubuhnya dan berangsur turun. Tidak kuasa menahan kecewa dan malu. Hujan di mata tidak kuasa dibendung, tumpah ruah membasahi pipi. Dia menenggelamkan wajah di kedua lutut dengan bahu yang baik turun. Isak tangis terdengar begitu pilu. Mimpinya runtuh, harapannya sirna. Tatkala dia tersadar bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Sang mentari datang menyinari bumi, sinar keemasan mencoba menerobos masuk melalui tirai jendela yang tertutup rapat. Ruma sederhana itu tampak seperti tidak berpenghuni, sepi dan sunyi. Bahkan lampu depan pun masih menyala. Di sebuah kamar bernuansa sangat sederhana, dengan dinding yang terbuat dari susunan bilik yang rapuh. Seorang perempuan berhijab putih masih meringkuk. Ranjang besi menjadi saksi bisu rasa sakit yang merajam hati Aisyah. Sejak semalam dia menangis meratapi nasib cinta yang tidak terbalas. Mencoba ikhlas. Ketukan pintu depan membuat dia tersadar, bangun kesiangan. Beruntung masih datang bulan sehingga tidak perlu melaksanakan kewajiban salat subuh. Aisyah beranjak dari tidur dengan mata yang sembab. Dia berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Seorang wanita paruh baya memeluk Aisyah dengan tangisan saat pintu terbuka. Aisyah hanya diam tidak bergeming.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN