Bagai Pungguk Merindukan Bulan

1273 Kata
Wiliam berjalan dengan membawa berkas di tangan. Dia juga melempar senyum tipis bke arah Emilie sebelum duduk dan saling berhadapan. "Tidak adakah tempat yang lebih nyaman selain meja makan?" tanya William dengan nada sedikit menyindir. "Aku sudah nyaman di tempat ini, lagi pula semua sudah diputuskan," jawab Jennifer ketus, karena memang begitulah sikap Jennifer. William menoleh ke arah Richard dan pria paruh baya itu pun mengatakan hasil kesepakatan. "Aku memutuskan untuk mengirim Jennifer ke Indonesia." "Apa Anda yakin, Tuan?" "Apa masalahmu, William. Apa kau meragukan cara kerjaku? Aku sudah terbiasa dengan dunia bisnis, memangnya dia …." tukas Jennifer dengan mendelik ke arah Emilie dengan tersenyum meremehkan. Charlotte menghembuskan napas kasar dengan sikap keras anaknya Jenifer. Sedang Emilie justru terlihat lebih tenang dari tadi sebelum Wiliam datang. Dia mengabaikan semua ucapan Jennifer yang jika di masukan ke dalam hati akan sangat melukai. "Apa Anda yakin mempercayai Emilie untuk mengelola semua bisnis hotel yang ada di Amsterdam? Bukankah itu akan sangat menyulitkan Anda, Tuan? Tepatnya Tuan akan bekerja dengan Emilie," urai William memberi gambaran. Richard terdiam. Dia memang terlalu cepat mengambil keputusan tanpa menunggu William. "Di Indonesia hanya ada satu dan di Belanda Anda bisa bayangkan banyak yang harus diurus oleh orang yang baru terjun ke dunia bisnis," sambung William. "Silahkan Anda pertimbangkan kembali." "Dengan kata lain kau ingin Emilie yang pergi ke Indonesia?" sela Jennifer. "Bukan Emilie, jika ada orang lain silahkan saja. Namun aku hanya khawatir jika bisnis yang di Belanda dipegang Emilie. Kau tahu apa yang dilakukan Emilie setiap sore apalagi di bulan Desember." "Kau benar William tapi apakah Emilie bisa dipercaya jika ikut dan memimpin perusahaan di Indonesia? Aku tidak yakin." Richard menggeleng penuh keraguan. Sedang Emilie tersenyum padahal dia sedang diremehkan. Tentu saja Emilie sangat senang karena pintu kebahagiaan akan terbuka lebar. Dan satu langkah lagi di akan bertemu dengan Zahid. Sedang Chellote meringis melihat anaknya yang sedang tersenyum padahal jelas dia sedang diremehkan. Charlotte selalu menganggap bahwa Emilie memiliki sifat yang unik. "Aku akan membantu Emilie, bukankah selama jauh dari keluarga dia lebih bertanggung jawab. Buktinya dia mendapat nilai yang bagus saat menyelesaikan kuliah di Sorbonne." "Jelas dapat nilai bagus aku yakin kau yang membuat dia mendapat nilai bagus," sela Jennifer dengan bersedekap dan membuang wajah ke satu sisi. "Aku sangat mengenal Emilie, jika dia bersungguh-sungguh akan melakukan pekerjaan dengan maksimal," ucap William penuh keyakinan. "Apa kau mau ke Indonesia atau di Amsterdam?" tanya Richard. "Tentunya aku ingin Amsterdam agar bisa merawat anak jalanan dan …." "Kau yang ke Indonesia!" tukas Richard tidak ingin mendengar kelanjutan ucapan Emilie. "Dad! Bukankah tadi bilang aku dan William yang pergi ke Indonesia!" Jennifer beranjak dari duduk, berdiri dan menatap tajam ke arah Richard menunjukan protes. "Daddy tidak ingin adikmu terus membuang waktu dengan melakukan pekerjaan tidak berguna!" sahut Richard. "Tapi ini tidak adil, Dad!" "Ini langkah terbaik. Lagipula Daddy lebih senang jika bekerja denganmu dibandingkan dengan Emilie!" "Terserah!" Jennifer menggebrak meja dan pergi berlalu. "Aku curiga ada yang kau rencanakan Emilie," tuduh Jennifer pada Emilie. "Huh bagaimana bisa aku merencanakan sesuatu, sedang kau tahu aku tidak tahu dimana negara itu, Jennifer," jawab Emilie dengan santai. Jennifer menghentakkan kaki dua kali sebelum akhirnya pergi meninggalkan meja makan dengan penuh kekesalan. Seperginya Jennifer Richard terus menasehati Emilie agar segera mempelajari semua tentang produk yang akan diluncurkan di Indonesia. Tentunya Richard meminta William untuk banyak mengajarkan Emilie mulai dari sekarang, karena tidak mungkin dia menjadikan putrinya karyawan biasa karena dia rasa pendidikan S2 dan William yang ada di sampingnya akan sangat membantu Emilie. Namun Richard memutuskan untuk menjadikan William CEO dan Emilie yang bekerja menjadi direktur utama, karena dia tahu Wiliam sejak kecil sudah terjun ke dunia Industri bersama ayahnya. Dia percaya di tangan William pabriknya akan berkembang pesat. Mulai dari malam itu William mulai memberikan banyak materi pada Emilie. Bahkan dia memberikan segudang pekerjaan agar terbiasa. Tidak memberikan kesempatan pada Emilie untuk berleha-leha. Saat Emilie akan menyerah tentunya Wiliam akan memberi semangat bahwa dia akan bertemu dengan Zahid sang pria idaman sekaligus cinta pertamanya. Satu bulan waktu terlewatkan, Emilie sedang berjuang keras untuk pergi ke Indonesia dan mencari Zahid. Namun siapa yang menyangka sang pria idaman akan menyelenggarakan pertunangan satu minggu lagi. Di ruang tengah yang tidaklah begitu luas, Zahid dan Khadijah sedikit adu argumen. Meski tidak ada kata-kata kasar tapi banyak penekanan di sana. "Setidaknya kau pergi setelah menjadikan Aisyah calon istrimu, Zahid." "Jika memang berjodoh maka tidak perlu hal seperti ini, Bu. Kita akan tetap menikah dengan jalan Allah. Percayalah. Apa ini tidak yakin pada ketentuan Nya?" "Justru ibu tidak yakin padamu, Zahid. Jika memang kau tidak memiliki perempuan yang kau cintai. Maka tidak mungkin kau bersikukuh menolak pertunangan ini." "Aku bukan menolak hanya saja tidak ingin menyiksa dan mengekang Aisyah, Buk. Untuk kali ini Zahid minta maaf." "Tidak! Aku ingin minggu depan kau harus mengikat Aisyah." "Aku akan mengkhitbah Aisyah jika memang nanti berjodoh. Tidak ingin mengikat dia dan biarkan tangan Allah yang berbicara." "Zahid, Asiyah rela menunggumu." "Maaf aku tidak ingin menyiksa dia, karena Jujur aku telah memiliki janji pada diriku sendiri. Aku harap ibu mengerti." "Maaf, Nak. Minggu depan kau tetap akan menikah ini keputusan ibu. Ibu yakin Aisyah akan mengerti," tekan Khadijah dengan berlalu. Zahid kembali dibuat tidak memiliki pilihan. Namun getaran rasa yang kuat pada cinta yang semu tak mampu membuat dia berpaling. Nama Emilie telah terukir indah di hati Zahid tapi menolak permintaan ibunya pun tidak mampu dilakukan, karena menyadari bahwa surganya ada di bawah kaki Ibu. Dan, Ridho Allah terletak pada Ridho orang tua. Takut akan kehilangan kebahagiaan saat menentang orang tua. Namun menikah dengan perempuan tanpa dicintai Zahid takut tidak setia, karena pernikahan bukan ajang uji coba. Hari-hari berlalu, Zahid seperti lelaki yang tidak memiliki harga diri. Ketika dia akan melamar Aisyah sedang dalam kondisi tidak bekerja. Semua barang-barang yang dibeli adalah uang hasil kerja keras ayahnya—Ibrahim. Satu malam yang dingin di kota Yogyakarta. Zahid memutuskan untuk berbicara dengan ayahnya. Pria paruh baya berkulit sawo matang dan memiliki banyak garis halus di wajah itu terlihat sedang duduk di kursi kayu dengan melihat bintang yang bertaburan. Zahid berjalan mendekat dan duduk tepat di samping pria tua yang sejak kecil bekerja keras untuk mewujudkan anak semata wayangnya. "Pak," panggil Zahid. Pria itu menoleh dan mematikan lilitan tembakau yang dibungkus dengan papir secara manual olehnya. Zahid masih sangat mengingat, saat kecil dia selalu melilitkan tembakau untuk ayahnya. "Duduklah." Dia menepuk kursi kayu panjang tepat di sampingnya. "Apa yang kau pikirkan, Nak? Tidak biasanya kau terlihat murung," selidik Zahid. "Bolehkah seorang anak menolak permintaan ibunya, apakah itu berdosa?" Pria itu terkekeh pelan. "Bukankah tugas seorang anak menurut pada orang tua sebagai baktinya?" Ibrahim justeru balik bertanya. Zahid menunduk dan melenguh pasrah. "Bicaralah baik-baik pada ibumu, Nak. Dan, berdoalah jangan kecewakan dia wanita yang telah melahirkanmu," seru Ibrahim dengan menepuk pundak Zahid. "Apa bapak tidak bisa membantuku?" Pertanyaan Zahid mengandung harapan yang besar pada pria itu. Namun dia kembali dibuat kecewa saat Zahid menggeleng. "Maaf, Nak." Zahid sadar tidak ada satu orang pun yang mampu merubah keputusan ibunya yang keras. Apalagi Ibrahim yang sejak dulu selalu mendukung keputusan istri dan menghargai langkah apapun yang diambil Khadijah, karena tentu dia percaya apa yang dilakukan Khadijah adalah yang terbaik. Terlebih dari sikapnya yang keras dia adalah istri yang penyayang dan melakukan tugasnya dengan baik sebagai seorang ibu. Dan, sebagai seorang suami yang menyadari belum mencukupi sepenuhnya kebutuhan Khadijah, Ibrahim berusaha keras membahagiakan Khadijah dan mendukung semua keputusan sang istri. Jadi memang sangat percuma Zahid meminta bantuan Ibrahim untuk menentang keputusan Khadijah, apalagi untuk mendidik anak Ibrahim mengikuti cara istrinya yang cerdas. Itu terbukti hingga Zahid mendapatkan beasiswa. Namun sebagai seorang pria yang berjiwa muda, pemikiran Zahid tentu sangat berbeda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN