Tepat pukul sembilan malam Khadijah dan Zahid sudah sampai di rumah. Perempuan paruh baya itu meminta Zahid untuk duduk di ruang keluarga. Pria berkulit kuning langsat dan berhidung mancung itu menurut permintaan ibunya. Mereka duduk bersisian di kursi panjang yang terbuat dari kayu jati.
"Nak," panggil Khadijah dengan nada yang sangat lembut.
"Iya, Buk."
"Bagaimana menurutmu dengan Aisyah?"
"Bagaimana apanya, Buk?"
"Dia sangat cantik, sholehah, pintar masak lagi. Subhanallah, menantu idaman. Omong-omong kapan kamu akan melamar dia, Nak?"
"Buk." Zahid memegang punggung tangan ibunya.
"Jangan paksa Zahid untuk menikah sekarang. Saat ini izinkan putramu bekerja di kota dan membahagiakan ibu dan bapak. Setidaknya Zahid nanti bisa membelikan bapak sawah biar hanya satu petak daripada terus bekerja menjadi buruh tani di saudaranya sendiri," tutur Zahid dengan mengelus punggung tangan ibunya.
"Justru itu. Ibu ingin sebelum kau pergi setidaknya bertunangan terlebih dahulu dengan Aisyah."
"Maaf, Buk. Zahid tidak bisa."
"Kenapa?" Khadijah melepas tangannya dari genggaman Zahid. "Kamu mau merantau ke Jakarta dan memilih wanita kota? Tidak! Ibu tidak akan pernah setuju, mereka tidak bisa menjaga aurat, akidah dan …."
"Jangan menilai sesuatu dari luar, Buk. Banyak yang berbeda keyakinan tapi masih memiliki hati."
"Jangan bilang kau memiliki pacar berbeda keyakinan, Zahid!" Wajah Khadijah berubah merah, sorot matanya penuh kecewa dan amarah.
.
"Bukan soal itu, Buk. Hanya saja aku ingin ibu lebih terbuka, karena tidak semua gadis kota seperti yang ada dipikiran Ibu."
"Pokoknya ibu hanya ingin Aisyah menjadi menantu ibu, titik!" tekan Khadijah dengan beranjak berdiri dan pergi ke kamar meninggalkan Zahid begitu saja.
Zahid menyandarkan tubuhnya di kepala kursi. Dia memejamkan mata dan bayangan empat tahun silam kembali berputar. Setiap teringat kejadian itu, Zahid hanya bisa menyesali dirinya, karena tidak bisa mengingat wajah Emilie. Hanya suara lembut dengan bahasa yang dulu tidak dimengerti. Bahasa Belanda yang baru dipahami saat dia tinggal dua bulan di negara itu.
"Nona, apakah kau merasakan hal yang sama denganku?"
"Bodoh!" Zahid menepuk keningnya. "Mana mungkin? Sadar Zahid kau bagai pungguk merindukan bulan." Zahid berbicara sendiri menyadarkan dirinya bahwa memang mereka memiliki perbedaan kasta dan derajat yang jauh.
*
Satu minggu berlalu kini waktunya William membicarakan keberangkatan dia ke Asia. Selepas pulang kerja dia berjalan bersisian dengan Jenifer, wanita jangkung dan berambut pirang itu berjalan dengan sangat elegan. Berbeda dengan adiknya Emilie yang tengil dan urakan.
"Oik, William," panggil Emilie dengan berlari menuruni tangga.
"Jangan lari nanti jatuh, Emilie," tegur William dengan sangat khawatir.
"Kau pikir aku anak kecil, hem?" Emilie terkekeh pelan.
"Oik, Jennifer," sapa Emilie pada kakaknya yang berdiri di samping William.
"Kau itu cantik tapi tak pernah senyum, cobalah tersenyum, Jennifer!" cicit Emilie dan mendapatkan lirikan sinis dari Jennifer.
"Aku cukup waras dan tahu kapan aku harus tersenyum!"
"Oh ayolah, kau akan cepat tua jika terus bekerja tanpa menikmati hidup. Iya tidak, Wil?" Emilie merangkul pundak William dengan berjinjit dan mengedipkan sebelah mata.
"Dasar tidak berguna!" umpat Jennifer pada Emilie.
William melihat tidak suka pada Jennifer yang selalu mengatakan Emilie tidak berguna.
"Kau tidak marah Jennifer mengataimu sebagai orang yang tidak berguna?"
Emilie melepas tangannya dari pundak William. "Yang dikatakan Jennifer itu memang benar, aku tidak berguna, jadi untuk apa aku marah?"
Mendengar jawaban Emilie William tersenyum tipis dan mengacak rambut Emilie yang berwarna madu itu. "Dasar bodoh!"
"Hey, jangan bilang begitu!"
"Lalu aku harus berkata kau pintar, begitu?"
"Berdustalah agar aku bahagia Wil," jawab Emilie dengan melingkarkan tangannya di lengan William.
Emilie menyodorkan puding yang dibuatnya. William akan menikmati puding buatan Emilie yang tidak memiliki perubahan dalam rasa tepatnya—tidak enak dan bercita rasa tidak karuan. Kendati begitu William tidak pernah mematahkan semangat sahabatnya itu untuk belajar masak. Dia akan memberikan tips cara membuat puding meski hasilnya akan sama.
"Bagaimana sekarang sudah enak?"
"Setidaknya ini bisa dimakan oleh manusia," jawab William dengan terkekeh dan kembali menyuapkan puding ke dalam mulutnya.
"Jadi tidak enak?"
"Lebih baik dari hari kemarin," jawabnya.
Emilie duduk di sisi Wiliam, melipat kedua tangan di atas meja dan kembali membuka suara. Dia menanyakan pada William tentang perkembangan perusahaan ayahnya yang ada di Indonesia. Dan, Richard mengatakan akan membicarakan semua usai makan malam. Jantung Emilie berdebar tidak sabar dan William memperingati Emilie agar bersikap biasa saja agar Richard tidak curiga. Emilie mengangguk tanda mengerti dan William meminta izin untuk pulang setelah menghabiskan puding buatan Emilie.
Gadis ceria berambut madu itu menyuapkan puding yang tersisa di dalam cetakan setelah Wiliam pergi. Dan, baru satu suap dia memuntahkan kembali puding itu.
"Apanya yang bisa dimakan oleh manusia. Ini kau dari kata enak." Emilie memiringkan piring bekas William dengan tersenyum getir.
"Bagaimana bisa dia menghabiskan m
puding yang memiliki cita rasa tidak enak ini," gumam Emilie.
Waktu berlalu dengan diiringi jantung Emilie yang berpacu lebih cepat. Debarannya semakin terasa karena dia yakin akan bertemu pria misterius itu ketika sampai di Indonesia. Mentari telah pulang dan meninggalkan kegelapan. Tepat pukul tujuh malam, Emilie membantu para maid untuk menyusun makan malam di meja makan.
Charlotte merasa heran dengan putrinya yang mendadak rajin. Dia pun duduk dan memiringkan wajahnya, menatap Emilie dengan memangku dagu dengan satu tangan.
"Roh suci mana yang hinggap dan merasuki tubuhmu, Emilie?"
Mendengar itu Emilie mendesis dan tersenyum sinis.
"Harusnya kau bersyukur pada Tuhan aku telah lebih baik, bukan diejek. Ibu macam apa jika seperti itu!"
"Haha." Tawa Charlotte pecah.
"Aku rasa dokter rumah sakit masih buka sekarang," celetuk Emilie dan mendapatkan tatapan tajam dari Charlotte.
"Kau pikir aku gila!"
"Ya hanya orang yang memiliki kewarasan minim menertawakan anaknya berubah," sahut Emilie.
"Karena aku tahu pasti kau ada mau," ucap Charlotte. "Duduklah!" titahnya.
"Jangan ganggu aku yang sedang membantu para pelayan."
Mendengar jawaban putri bungsunya Charlotte hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
Makan malam telah usai dan Emilie gelisah saat William belum juga datang. Sedang sejak tadi asisten ayahnya telah mulai membuka topik tentang perusahaan pabrik sepeda motor yang telah didirikan di Indonesia dan resmi akan dibuka kurang dari dua bulan. Richard sengaja membicarakan ini semua di depan keluarga karena dia dengan terpaksa akan mengirimkan salah satu putrinya untuk mendampingi William. Besar kemungkinan dia akan meminta Jennifer untuk menjadi CEO di perusahaan baru itu. Mendengar itu wajah Emilie pucat sedang tanpa William dia tidak akan pernah berani membuka suara, karena dia tahu tidak akan mampu menjawab semua tanya.
"Kau sakit, Emilie?" tanya Charlotte saat melihat Emilie yang sejak tadi diam membisu dengan wajah pucat pasi.
"Aku baik-baik saja, Mom."
Jennifer melirik ke arah Emilie dan kembali fokus pada pembicaraan Richard dan asistennya.
Emilie menuduh pasrah, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Richard telah memutuskan untuk mengirim Jennifer ke Asia bersama William. Emilie harus mengubur cinta dan harapan untuk hidup bersama Zahid.
"Maaf aku terlambat."
Mendengar suara yang sangat dikenal, Emilie pun mendongak dan senyum terbit dengan indah. Kini dia hanya berharap William bisa merubah keputusan Richard.