Emilie melempar tas ransel di atas ranjang, dia menghempaskan tubuh dan menelungkupkan badannya, membenamkan wajah di atas bantal berwarna merah muda. Misi yang sejak dua hari lalu dirancang bersama William, gagal total. William duduk di tepi ranjang, mengusap rambut Emilie dengan lembut, berusaha menghibur sahabatnya.
"Percayalah, kau akan bertemu pria itu, Emilie," ucap William.
"Bagaimana caranya?" Emilie beranjak dan duduk bersila dengan memeluk bantal. "Dua hari aku mencari dan tidak menemukan dia. Ah, ini sangat menyiksa, Wil," keluh Emilie.
"Aku akan membantumu, bagaimanapun caranya. Dan, bukankah dia dari Asia?"
"Heum, tepatnya dari Indonesia," jawab Emilie.
William tersenyum tipis, dan itu membuat Emilie geram.
"Kenapa kau tertawa? Kau sama seperti teman-temanku di Sorbonne yang tidak percaya adanya cinta pada pandangan pertama, apa ini lucu!" sembur Emilie, dia berpikir William menertawakan Emilie yang begitu percaya pada cinta pandangan pertama.
William hanya menghembuskan napas lelah, seraya berkata, "Aku akan menjalankan bisnis di Indonesia dan itu yang membuat aku tersenyum bukan tertawa," koreksi William.
"Apa kau serius, Wil?" Emilie menggoyang tangan William, matanya berbinar dan dia berjingkrak, meloncat di atas ranjang, saat William menganggukan kepala.
Tanpa segan Emilie memeluk William dengan erat, pria itu hanya tersenyum tipis, menyembunyikan rasa sesak. Namun, tawa dan kebahagiaan Emilie adalah tujuan hidupnya, dia akan melakukan apapun asal Emilie bahagia. William tidak akan pernah membuat sahabatnya itu sedih dan William berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan membiarkan satu tetes air mata kesedihan yang terjun dari mata indah Emilie.
"Kapan, Will, Kapan?" ucap Emilie antusias. Dia kembali menggoyang tangan William.
"Dua bulan lagi aku akan ke Indonesia," jawab William.
Namun, tiba-tiba wajah Emilie sendu dan itu menjadi pertanyaan yang besar bagi William. Emilie duduk dengan menyandarkan kepala di bahu sahabatnya itu. William merengkuh bahu Emilie dengan mengusapnya lembut seraya bertanya, "Kenapa, kau sedih?"
Emilie menghembuskan napas berat, "Aku tidak yakin, bahwa Daddy akan mengizinkan aku ke Indonesia," keluh Emilie.
William memegang kedua bahu Emilie, menatap netra biru itu dengan penuh rasa sayang. "Dengarkan aku, Emilie," ucap William.
Emilie mendongak menatap William, dengan bibir yang terkunci. William kembali berbicara.
"Aku akan membantumu, Emilie, apapun itu tapi dengan satu syarat," ucap William.
"Apa itu, Wil? Janganlah kau meminta mobil baru, aku tidak sekaya Jennifer," celetuk Emilie.
William menggeleng cepat, dia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. Tingkah Emilie selalu membuat dia tersenyum.
"Jadi apa, Wil, katakan?" desak Emilie.
"Hanya ada satu syarat, Emilie. Dan syaratnya cukup kau selalu bahagia, apapun yang terjadi nanti, ingatlah kau tidak sendiri. Ada aku yang akan menjagamu dan tempat kau kembali," tutur William.
Emilie tertawa terbahak dan itu membuat William menautkan alisnya yang tebal, dia sangat yakin, ucapnya tidak ada yang salah apalagi lucu, karena penasaran dia pun bertanya.
"Ada yang lucu?"
"Jelas, kau bodoh, Wil! Bagaimana bisa kau jadikan kebahagiaanku sebagai syarat. Kau harusnya minta mobil, rumah atau perusahaan. Aku ini kaya, Will," cerocos Emilie. "Eh, tepatnya, daddy-ku, hehe."
"Tidak ada yang lebih berarti selain kebahagiaanmu, Emilie," jawab William, seketika membuat Emilie bungkam. Dia sadar ini bukan waktunya bercanda.
"Kenapa kau baik sekali, Wiil?" Emilie memiringkan wajah ke satu sisi.
"Berjanjilah, kau akan bahagia bersama dia, jika aku membantumu, Emilie," ucap William. Dia tidak menjawab pertanyaan Emilie dan mengalihkan pada hal lain.
"Iya. Kau tenang saja, aku pasti bahagia, ko," jawab Emilie yakin.
"Apa kau yakin akan mendapatkan hati pria itu?"
"Yakin." Emilie mengangguk dengan cepat.
"Baiklah, jika kau yakin. Sekarang dengarkan aku, Emilie. Pria yang kau cinta adalah seorang muslim, adat mereka berbeda dengan kita. Mungkin, akan sulit bagimu menyesuaikan diri dan datanglah padaku jika suatu saat kau tidak mampu untuk bertahan," tutur William, sorot matanya menyiratkan kekhawatiran.
"Dari mana kau tahu dia Muslim, William?"
"Indonesia negara muslim dan menunjukan tinggi adat istiadat, apa kau yakin akan mengejar pria asing itu?"
"Aku tidak akan menyerah, kau tahu kan, selama empat tahun aku menunggu waktu ini," jawab Emilie penuh dengan keyakinan.
William sangat mengenal Emilie, dia tahu jika sahabatnya itu menginginkan sesuatu, maka itu harus di dapatkan. Dan, setelah mendapat apa yang diinginkan dengan cara apapun dia akan mempertahankan, maka sebelum William membantu Emilie menjalankan misi. Dia harus selalu memastikan Emilie akan baik-baik saja dan hidup bahagia kelak.
Disisi lain Emilie berusaha keras untuk berjuang mencari cara untuk bisa pergi ke Indonesia untuk mengejar cintanya pada Zahid. Dan, pria pujaannya itu telah sampai di Yogyakarta, tanah kelahirannya.
Baru saja tadi pagi Zahid sampai di rumah, kini ibunya—Khadijah, mengajak Zahid untuk berkunjung ke rumah gadis yang sangat mereka kenal. Sebenarnya Zahid enggan untuk berkunjung, tetapi dia tidak bisa menolak permintaan orang yang telah berjuang melahirkan dan membesarkan dia. Zahid tentu tidak ingin di cap menjadi anak durhaka.
"Nak, apa kau sudah siap?" tanya seorang perempuan paruh baya yang mengenakan gamis marun dengan Khimar berwarna senada yang menutupi perut.
"Tunggu sebentar ya, Buk," jawab Zahid yang baru saja melepas kopiah karena baru selesai melaksanakan salat Isya di masjid.
"Ya sudah, ibu tunggu di depan, ya, Nak."
Ibu dan anak ini berjalan menyusuri jalan berlumut karena habis hujan. Zahid menuntun ibunya, dia berjalan dengan pelan, mengimbangi langkah ibunya, karena takut terpeleset dan jatuh. Dengan telaten dan penuh kesabaran Zahid mengimbangi langkah ibunya, hingga mereka sampai di rumah sederhana yang asri dan terawat.
Seorang perempuan yang mengenakan gamis syar'i berwarna navy berjalan menghampiri Zahid dan Khadijah yang baru saja menutup pintu pagar yang terbuat dari bambu.
"Assalamualaikum, Nak Aisyah," ucap Khadijah.
Perempuan bergamis navy itu pun menjawab, "Waalaikumsalam." Begitupun dengan Zahid dia pun menjawab salah ibunya.
Dengan sangat ramah Aisyah, mempersilahkan Zahid dan Khadijah masuk ke dalam rumah. Dia mempersiapkan duduk di sofa dan pergi ke dapur untuk membuatkan minum dan jamuan. Aisyah tidak lagi bertanya apa yang diinginkan kedua tamu-nya, karena dia sudah tahu selera keduanya. Apalagi, Khadijah, karena selama ini Aisyah sering datang berkunjung ke rumah Khadijah.
"Silahkan diminum, Buk, Mas," seru Aisyah dengan menyodorkan jamuan-nya.
Khadijah memberikan paper bag pada Aisyah seraya berkata, "Ini untukmu, Nak."
"Apa ini, Buk?"
"Ambillah, ini oleh-oleh dari Zahid, calon imam-mu," ucap Khadijah. Aisyah menerima paper bag itu, dengan wajah bersemu merah, menahan malu.
"Buk," tegur Zahid yang tidak nyaman saat Ibunya mengatakan calon imam.