Rasa yang Tertinggal

1247 Kata
Empat tahun sudah Emilie dan William menghabiskan waktu di Sorbonne, Paris. Mereka resmi menyandang gelar Magister. Hari ini mereka berada di Schiphol Airport, Amsterdam, Belanda. Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan sempurna. Emilie merentangkan kedua tangan ke atas, menghirup udara kota kelahiran dengan memejamkan mata. Dia membiarkan angin nakal bermain dengan rambutnya yang berwarna madu, berkibar dan menari di udara. "Nona, Anda menghalangi jalan kami," ucap seorang perempuan tua yang berada di belakangnya. Emilie menoleh ke belakang dengan tersenyum cengengesan. "Oh, maafkanlah aku, Nyonya yang cantik," ucap Emile dengan membungkuk hormat dan mengangkat gaunnya. William yang sudah turun lebih dulu, hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya. Emilie jelas mendapatkan protes dari penumpang lain, karena sejak tadi dia berdiri di ambang pintu pesawat, menghalangi penumpang yang lain untuk keluar. Tanpa dosa Emilie melambaikan tangan bagai artis, penumpang yang tadinya kesal pun berubah menertawakan Emilie, saat gadis berambut madu itu jatuh tersungkur, karena kakinya menginjak gaunnya sendiri. William berlari membantu Emilie, bukan bangun gadis itu justru merentangkan kaki hingga William ikut jatuh. "Emilie!" William kesal. Emilie hanya tertawa puas dan berbisik di telinga William. "Aku senang bisa membuat orang tertawa, William." "Huft." William hanya menghembuskan napas kasar dan beranjak, begitupun dengan Emilie. Mereka berjalan beriringan dengan menarik koper. Emilie menarik kopernya yang berwarna merah muda, dia melambaikan satu tangan di udara saat melihat Charlotte dan Richard. Emilie berlari meninggalkan William, tas ranselnya bergoyang ke kanan dan ke kiri seirama langkah kaki. "Mommy, Daddy!" teriak Emilie. Membuat orang-orang melihat ke arahnya tapi Emilie tidak peduli. Lagi dan lagi William hanya menggeleng lemah melihat tingkah Emilie, sedang Charlotte merentangkan tangan, menunggu putri bungsunya. Emilie memeluk Charlotte dengan erat, tanpa segan gadis berambut pirang itu mencium pipi kiri dan kanan Charlotte dan beralih mencium pipi Richard dan memeluknya. "Aku harap kau tidak membuat ulah lagi, Emilie," ucap Richard yang baru saja melepas pelukannya. "Oh, ayolah, Dad. Aku baru datang, kenapa kau sudah berprasangka buruk. Tidakkah kau merindukanku?" Emilie memiringkan wajah ke satu sisi dan mengedipkan mata. "Kesehatanku sangat baik, saat kau tidak ada, Emilie," sahut Richard. "Aku rasa kata-katamu sangat jahat, Dad," timpal Emilie dengan mencucutkan bibirnya. "Apa kalian akan berbincang hingga datangnya petang?" sindir Charlotte yang sejak tadi diabaikan. Emilie terkekeh pelan, "Sepertinya ada yang cemburu aku dekat-dekat denganmu, Dad," goda Emilie. Charlotte hanya merotasikan mata. Pandangan Emile menjelajah, dia mencari seseorang. Charlotte pun mengerti siapa yang dicari putrinya. "Jennifer tidak bisa datang, dia sedang ada meeting," kata Charlotte. "Aku pikir dia akan cepat tua, jika terus menghabiskan waktu dengan bekerja," celetuk Emilie dengan wajah yang kecewa. Emilie berjalan beriringan dengan Charlotte, sedang Richard dan William berjalan di belakang Emilie. Dua pria hebat itu berbincang di sepanjang jalan. Richard sangat berterima kasih pada William karena bersedia menjaga putrinya. Tentunya William tidak keberatan. Pembicaraan mereka menjarah pada bisnis, Richard meminta William untuk menemui dia malam ini, membicarakan bisnis barunya. William hanya mengangguk mengiyakan. Emilie duduk di kursi penumpang bersebelahan dengan Charlotte, dia melihat ke luar jendela. Empat tahun sudah dia pergi meninggalkan Amsterdam dengan rasa yang tertinggal. Selama itu pula dia tidak pernah kembali ke Amsterdam, karena Richard melarangnya untuk pulang. Emilie menghabiskan waktu bersama anak-anak jalanan di Paris saat liburan. Di negara itu, dia lebih bebas melakukan bakti sosial dan tentunya ada William yang setia menemani. Ada rasa yang masih tersisa di sini, cintanya pada pria Asing. Emilie mengantongi informasi penting, bahwa pria itu berkebangsaan Indonesia. Bayangan Zahid tidak pernah bisa hilang dari ingatan. Emilie membuka jendela kaca, mobil miliknya, dia memejamkan mata, membiarkan angin menerpa wajahnya yang cantik. Tanpa disadari Zahid pria yang saat ini mengisi hati dan kepala Emilie itu sedang berada di dalam mobil yang melaju melewati mobil Emilie, saat itu Zahid sedang melihat ke arah temannya, membelakangi kaca mobil yang terbuka. Dia berbincang hingga tidak melihat Emilie yang saat itu berada tepat di sampingnya. Tepat di lampu merah, Charlotte meminta Emilie menutup kaca mobil, kemudian dia mengajaknya berbicara. Emilie tidak tahu saat dia membalikan tubuh memunggungi kaca mobil. Diwaktu yang sama, mobil yang ditumpangi Zahid bersisian dengan mobilnya. Zahid melihat ke arah mobil Emilie, tetapi kaca mobil itu berwarna hitam dan gelap, hingga dia kembali menutup kaca mobil. "Aku tidak tahu dia dimana," keluh Zahid dengan menyandarkan tubuhnya di badan kursi dan memijat pelipisnya. "Kau tidak akan mencari dia sehari lagi?" tanya seorang pria berambut ikal, yang duduk disebelahnya. "Selama tinggal di Amsterdam, sepanjang itu pula perjalananku mencari Nona Emilie," ucap Zahid dengan nada pasrah. "Apa dia masih hidup?" "Maksudnya?" Zahid menautkan kedua alis, sesak rasanya mendengar kata itu. "Begini, selama tinggal di Amsterdam, kita hanya mendengar Jennifer sebagai putri dan pewaris yang sah. Tidak ada yang menyinggung nama Emilie, apa mungkin dia bukan putri Richard atau sudah …." "Jangan katakan itu, aku yakin Emilie masih hidup. Dan, di surat itu …." Ucapan Zahid terputus. "Mungkin hanya mengaku saja," sela temannya. Zahid mulai penasaran dengan gadis yang mengaku bernama Emilie itu, bahkan dia tidak begitu kenal dengan wajahnya. Malam itu dia melihat dengan samar di balik kesadaran yang minim. Selama empat tahun Zahid mencari Emilie, tentunya dia tidak tahu bahwa perempuan yang selalu mengisi hati itu, tinggal di Paris dan hari ini dia kembali. Namun, esok hari Zahid memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Kembali ke negara tercinta dengan menyandang gelar sarjana. Zahid tidak bisa tinggal di Amsterdam lebih lama, mengingat beratnya biaya hidup dan pergaulan yang tidak sesuai dengan agamanya. Emilie pulang dan melihat Jennifer sedang duduk di sofa dengan memangku laptopnya. Emilie meninggalkan koper yang sejak tadi dibawa, melempar tas ransel sembarang dan memeluk Jennifer. Dia sangat senang akhirnya bisa kembali bertemu dengan kakak satu-satunya, akhirnya kerinduan Emilie terobati. Namun, Jennifer tidak senang. Dia melepaskan pelukan Emilie dan mendorong tubuh adiknya dengan kasar. "Untuk apa kau memelukku, seperti anak kecil, saja!" sembur Jennifer dengan beranjak dari duduk, membawa laptop dan tasnya, pergi meninggalkan Emilie yang duduk termangu. Melihat itu William menghampiri Emilie, tentunya dia akan menghibur Emilie, dia tidak ingin Emilie sedih. "Mungkin Jennifer sedang capek," ucap William dengan mengusap pundak Emilie. "Jangan sedih, ya." William menyungingkan senyum. "Sedih? Kenapa aku harus sedih, Wiliam. Kau ini berlebihan." Emilie mengusap wajah William dengan kasar. William tersenyum tipis, dia lupa bahwa Emilie orang yang tidak akan pernah peduli dengan perlakuan tidak baik orang lain. Dan, itu yang membuat Emilie istimewa di matanya. Emilie berbisik pada William, dia meminta bantuan sahabatnya itu untuk melakukan misi penting bersamanya. Emilie mengajak William ke kamarnya. Tentu saja, William tidak akan pernah menolak apapun permintaan Emilie. Dan, tanpa mereka sadari, Jennifer melihat dari lantai dua dengan tatapan sinis. Sedangkan Charlotte dan Richard tidak pulang ke rumah, karena tiba-tiba Richard mendapatkan panggilan, bahwa ada pertemuan penting terkait bisnis baru yang akan diluncurkan Richard di Asia. Emilie berjalan menuju balkon dan duduk di kursi kayu. Sedang William berdiri menatap jendela kamarnya yang berseberangan dengan kamar Emile. "Aku ingin kita mencari pria asing itu mulai malam ini!" ucap Emilie. "Tidak, Emilie. Kita akan mencarinya besok!" "Kenapa? Cukup sudah empat tahun aku menunggu, William!" geram Emilie. "Aku ada pertemuan dengan daddy-mu," jawab William. "Oh ayolah, William. Kau batalkan pertemuan itu. Misiku lebih penting," bujuk Emilie dengan mengatupkan kedua tangan di depan wajah dan mengedipkan kedua matanya dengan cepat, sehingga bulu mata lentik itu seperti boneka barbie yang lucu. William segera menggeleng cepat tidak boleh terhipnotis oleh wajah Emilie yang polos dan menggemaskan. "Besok aku akan antar kau, Emilie. Berhentilah membuat masalah jika tidak ingin daddy-mu mengirimmu ke Afrika!" "Istirahatlah! Kau pasti lelah," seru Richard dengan menepuk pundak Emilie dua kali sebelum dia berlalu meninggalkan Emilie yang mengerucutkan bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN