81. Aku Hanya Manusia

1837 Kata

Senyum Pevita terbit begitu dirinya terbangun dan menemukan sosok Gara terlelap di hadapannya. Mendekap tubuh mungilnya, memberikan kehangatan tiada terkira di pagi yang dingin di sana. Dari riak matanya yang tersenyum, membuktikan bahwa Pevita amat bahagia. Menemukan Gara, memiliki dan mendekap pria itu, adalah kebahagiaan yang tak pernah direncanakan sebelumnya. "Selamat pagi," gumam Pevita. Secepat kilat mencuri kecupan di bibir Gara ketika kelopak mata pria tersebut bergetar dan terbuka perlahan. Tampak pria itu terkejut sejenak atas apa yang Pevita lakukan secara tiba-tiba, di saat bahkan nyawanya belum terkumpul seutuhnya. "Kamu tidur nyenyak?" Gara bertanya serak, tersenyum lebar seraya mengelus pipi putih Pevita. "Menurut kamu?" Pevita membalas dengan kerlip jenaka di antara ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN