Pagi-pagi sekali, di saat mentari bahkan belum berani menampakkan diri, dan orang-orang yang lain bahkan mungkin masih tidur, Pevita sudah terjaga dan keluar dari kamar. Berjalan dengan langkah yang agak berjinjit untuk meminimalisir suara, mengendap-endap. Hingga dia tiba di salah satu kamar di lantai dua, yang diketahuinya sebagai kamar Gara dan juga salah seorang staf. Pevita menyandarkan punggung pada dinding, di sisi kusen pintu kamar tersebut. Dengan agak kaku sebab udara yang begitu dingin, wanita tersebut membuka ponsel dan mendial nomor kekasihnya. Dering keras ponsel Gara lantas terdengar. Dalam dering kedua panggilan sudah terangkat. "Aku di depan kamar kamu. Di belakang tangga tempat kita pernah bicara ada ruangan kosong, aku tunggu di sana. Jangan lama-lama atau aku bakal ma

