Tangis Evelyn pecah di sepanjang koridor ketika paramedis membawa tubuh Pevita dengan brankar menuju UGD. Pasalnya, tidak ada tanda-tanda kesadaran dari adiknya tersebut sejak tadi. Wajahnya kian pucat, denyut nadinya semakin melemah, dan napasnya begitu sulit. Evelyn tidak tahu mengapa Pevita melakukan hal ekstrem ini lagi. Dia sudah berjanji padanya tidak akan melakukan perbuatan yang akan membuatnya merugi seperti dulu. Tapi sekarang ... Evelyn tidak tahu mengapa Pevita melakukan ini lagi. Apakah dia benar-benar melakukannya dengan sengaja, atau karena dirinya setengah sadar melakukan ini semua? Evelyn tidak tahu, tetapi yang pasti, rasa sakit dan takut yang amat pekat begitu menggerogoti dirinya saat ini. Dia tidak ingin kehilangan Pevita. Dia tidak ingin kehilangan satu-satunya angg

