Mata Iloya yang semula sayu, otomatis terbuka lebar saat menyadari pupil mata orang yang saat ini merengkuhnya erat sudah berganti menjadi kuning keemasan lagi. Iloya tertawa kaku karena saat menyadari kesalahannya dalam memanggil Rainer malah menjadi Allard. "Jadi namanya Allard?" Rainer mengulang pertanyaannya karena Iloya belum menjawab pertanyaan dari dia yang pertama. "Iya," Iloya menjawab agak takut. Rainer menaikan sebelah alisnya, "kenapa kamu terlihat takut saat menjawab?" "Kamu... tidak marah saat tadi saya salah memanggilmu?" "Kenapa harus marah?" Rainer malah balik bertanya. "Em, enggak sih. Hanya takut saja, solanya kamu kan susah ditebak. Bipolar, suasana hatinya cepat sekali berubah. Saya hanya berharap kamu tidak mengalami gangguan kejiwaan." Rainer menatap datar

