"Itu putri Clarissa," pangeran Dar menghampiri putri Clarissa yang baru menoleh saat dia sebut namanya. Terlihat putri Clarissa melebarkan matanya begitu menatap wajah Iloya. Tubuhnya kaku dengan bibir yang rapat membentuk garisan sejajar. Dengan alasan yang pasti, jantung putri Clarissa berdebar keras. Telapak tangannya yang terkepal erat mengeluarkan keringat dingin seiring kekesalannya yang semakin besar. Kenapa? Kenapa harus dia yang pangeran Dar tolong kemarin? Kalau saja putri Clarissa tahu gadis yang kemarin dibopong pangeran Dar adalah mantan sahabatnya yang sudah dia kelabui, tidak akan dia biarkan berada lebih dari satu jam di istana ini. Dulu putri Clarissa memang berteman baik dengan Mariana, tapi itu hanya sebagian tujuannya untuk mempermudah masuk ke dakam kawasan istana.

