Author POV.
Arini membereskan barang-barangnya. Setelah ini dia akan pindah dan tinggal di rumah suaminya. Sesuai kesepakatan, kini Arini resign dari pekerjaannya. Dia bekerja di sebuah bank sebagai administrasi. Arini benar-benar menghargai suaminya. Dia kini menjadi istri yang penurut.
Arini menatap ibunya yang kini tengah menangis. Arini tahu ibunya tidak akan rela jika putrinya meninggalkannya.
"Ibu, Arini akan sering berkunjung jika mas Arga libur." Ucapnya.
"Ibu tenang saja ya? Saya dan Arini akan berkunjung. Jaga kesehatan, Bu. Kalau ada masalah telepon kami." Ucap Arga.
Dini tersenyum. Dia menghapus air mata di pipinya lalu memeluk Arini.
"Jangan lupakan shalat ya, nak. Kamu harus jaga diri. Layani suami kamu dengan baik. Jaga kehormatannya. Jadi istri yang penurut." Ucap Dini.
"Iya, Bu. Arini mengerti." Jawab Arini.
Dini melepaskan pelukannya. Mengantar putrinya pergi dan naik dalam mobil. Sebelum pergi, Arini mencium tangan ibunya. Arini juga menangis saat ini. Melihat bayangan ibunya dari kaca spion.
"Jangan sedih lagi, sayang. Andai saja ibu mau ikut dengan kita." Ucap Arga.
"Iya, mas. Kalau ibu ikut, gak ada yang ngurus sawah disini. Perkebunan juga. Itu peninggalan Ayah satu-satunya." Ucap Arini.
"Iya, mas ngerti. Tiap bulan mas usahakan kesini. Lagi pula kan gak terlalu jauh. Hanya beda kabupaten saja." Ucap Arga.
Arini tersenyum. Dia senang atas perhatian suaminya itu. Lelaki yang dia pilih untuk mendampinginya sampai mati. Lelaki yang diam-diam dia pinta di sepertiga malam. Lelaki yang dia cintai dalam diam dan lelaki yang selalu dia panjatkan dalam doanya.
Empat jam perjalanan dan kini mereka telah sampai. Rumah yang cukup besar untuk mereka berdua tempati. Rumah yang nantinya akan menjadi tempat keduanya saling berbagi kasih. Tempat yang nantinya akan terdengar tawa dan tangis seorang malaikat kecil. Rumah yang Arini harapkan akan menjadi surga kecil untuk dirinya.
Kehidupan keduanya diliputi kebahagiaan selama tiga bulan ini. Sampai seseorang datang dan membuat hati Arga menjadi bingung. Seseorang dari masa lalu Arga datang dan siap membuat kekacauan.
....
"Mas, bekalnya aku taruh tas." Ucap Arini.
"Makasih sayang." Ucap Arga.
Arini memasangkan dasi Arga. Aktifitas yang biasa Arini lakukan. Menyiapkan bekal makan siang suaminya dan juga memasang dasinya.
"Aku berangkat ya, sayang." Pamit Arga.
"Iya, mas. Hati-hati dijalan ya?" Ucap Arini.
"Assalamu'alaikum." Ucap Arga.
"Wa'alaikum salam." Jawab Arini kemudian mencium tangan suaminya.
Hal itu selalu dia lakukan setiap pagi.
Arini tersenyum sambil melihat kepergian suaminya.
Arga tiba di kantornya. Di usia yang masih muda ini, Arga sudah menjabat menjadi manager keuangan. Dia pandai dan berbakat, makanya dia di angkat menjadi manager. Itu pula sebabnya dia melarang Arini bekerja. Karena dia mampu menafkahi istrinya itu.
"Dengar gak? Katanya wakil direktur yang baru akan datang. Menggantikan Pak Satya yang ke luar negeri. Dia wanita." Kata seseorang.
"Wah, keren ya. Aku dengar dia itu keponakan pemilik perusahaan. Dia baru datang dari luar negeri. Katanya dia muda dan cantik." Ucap yang lain.
"Eh, pak Arga. Selamat pagi." Ucap semuanya.
Arga terbiasa mendapat hormat. Itu di karenakan dirinya yang sopan pada bawahannya.
Arga sudah mendengar kabar kalau hari ini wakil direktur yang baru akan datang menggantikan pak Satya.
"Arga, sebentar lagi kita ke depan. Briefing sekaligus menyambut keponakan saya. Dia wakil direktur yang baru." Ucap pak Andre, Direktur utama perusahaan.
Dia lelaki yang amat sangat Arga hargai dan hormati. Dia pula yang menunjuk Arga sebagai manager keuangan. Karena dia melihat kinerja Arga yang cakap dan juga baik.
"Baik, pak." Ucap Arga.
Semuanya kini berbaris. Menunggu wakil direktur yang baru tiba. Mereka semua penasaran seeperti apa wanita muda itu. Jika dibilang keponakan Direktur, maka semuanya sudah dapat menebak se kaya apa perempuan itu.
Suara langkah sepatu hak tinggi menggema memasuki ruangan. Semua mata tertuju padanya. Arga hanya menunduk tanpa ingin tahu seperti apa wanita itu.
Semua mulai membisikkan kata-katanya.
"Kalian semua. Perkenalkan, namanya Ziva Keponakan saya." Ucap Andre.
Mendengar nama itu, Arga segera mendongakkan kepalanya. Dia terkejut saat melihatnya. Begitu pula Nayla, dia sama terkejutnya.
"Nayla Zivanya Mikail. Dia lulusan universitas Oxford." Kata Andre.
Arga diam. Dia tak menyangka jika harus satu kantor dengan wanita itu. Wanita yang pernah menyakiti hatinya. Wanita itu mantan kekasihnya sekaligus cinta pertamanya. Mereka bertemu waktu SMA dulu. Ziva memutuskan hubungan dengan Arga saat kuliah di Oxford. Dia tak mengatakan alasannya. Wanita itu yang membuat Arga menjadi dingin dan cuek saat kuliah dulu.
"Arga, kamu antar Ziva menuju ruangannya." Suruh Andre.
Tanpa kata, Arga bergegas menunjukkan ruangan Ziva.
"Ini ruangan anda, Bu." Ucap Arga.
"Mas Arga. Apa kabar? Lama kita tidak bertemu. Aku rindu." Ucap Ziva.
Ucapan wanita itu membuat Arga kaget. Bisa-bisanya setelah enam tahun, wanita itu berkata rindu.
"Maaf, Bu. Ini kantor. Tidak seharusnya kita bicarakan masalah pribadi." Ucap Arga lalu keluar.
Ziva terdiam. Lelaki di hadapannya masih sama. Dia tetap tampan dan berwibawa. Dulu Ziva memutuskannya karena ingin fokus pada study-nya. Dia ingin mengejar karirnya. Tanpa Ziva tahu kalau dia menjadi kesepian tanpa cinta. Arga lelaki pertama yang memberikannya cinta. Dia lelaki pertama yang mampu membuat Ziva merasakan cinta.
Terkadang Ziva menyesal karena telah memutuskan Arga. Dia juga tahu jika itu sangat menyakitkan untuk dia dan juga Arga. Namun kini takdir malah mempertemukan mereka kembali. Kenangan saat dia dan Arga dulu kembali muncul di ingatannya.
"Ziva, berjanjilah jika di sana kamu akan terus mengingatku. Jangan lupa untuk menghubungi aku." Ucap Arga.
"Aku janji, mas. Kamu juga harus kuliah yang benar. Jadi lelaki sukses setelah itu kamu lamar aku di depan orang tuaku. Buktikan cintamu." Ucap Ziva.
Arga tersenyum.
"Pasti. Aku akan sukses. Demi kamu. Demi cinta kita. Aku akan datang dan melamar kamu." Jawab Arga.
Namun Ziva yang egois sama sekali tak mempercayai Arga. Dia pikir Arga tak akan bisa sukses melihat status sosial lelaki itu sangat berbeda dengannya. Siapa sangka sekarang Arga malah menjadi bawahannya. Ziva juga tak menyangka kalau lelaki hebat yang di ceritakan Om-nya adalah dia. Lelaki yang bisa menaikkan profit perusahaan selama dua tahun ini. Arga telah membuktikan jika dia bisa dan mampu. Ziva menjadi salut pada Arga.
Arga kembali ke ruangannya. Dia menghela nafas kasar. Hari ini sangat berat untuknya. Entah kenapa Arga masih sulit melupakan Ziva. Yang Arga pikirkan saat ini adalah segera pulang. Dia ingin segera melihat Arini. Dengan itu dia bisa melupakan Ziva.
Saat kuliah dulu, Arini yang mampu membuat Arga perlahan-lahan membuka hati dan mulai melupakan Ziva.