Arini sudah rapi. Memakai Gamis katun yang sedang musimnya saat ini. Tak lupa jilbab langsung pakai agar tidak repot. Dia juga selesai memasak untuk makan malam. Menunggu suami tercintanya untuk pulang dan makan malam bersama.
"Assalamu'alaikum." Ucap Arga.
Arini berlari sambil menjawab salam.
"Wa'alaikumsalam, mas." Jawabnya.
"Arini, ngapain kamu lari-lari begitu? Kalau nanti jatuh bagaimana?" Tanya Arga.
Arini segera mengambil tas Arga dan meletakkannya di atas meja. Dia sengaja lari takut keduluan Arga yang menaruhnya sendiri.
Arga tersenyum melihat tingkah istrinya. Dia merasa beruntung mendapat istri yang sempurna seperti Arini. Ya, Arini sangat sempurna di mata Arga. Arga kembali teringat saat bertemu Arini untuk pertama kalinya. Dia jatuh cinta pada suara Arini yang teramat merdu saat menyanyi di acara kampus.
Seorang wanita di atas panggung menyanyikan lagu islami dari Sabyan Gambus. Yang sekarang sedang booming. Lagu shalawat dengan judul ya Habibal Qalbi.
Arga baru kali ini menatap seorang wanita untuk pertama kalinya. Sama sekali tak menyangka jika yang menyanyi adalah seorang gadis berjilbab dan sangat cantik. Semua lelaki kala itu bersorak kagum.
"Namanya Arini. Beruntung banget lelaki yang bisa jadikan dia istri, nanti. Udah cantik, suara merdu dan aku dengan dia pintar. Dia masuk dengan beasiswa disini." Ucap teman Arga.
"Aku jadi gak pengen kuliah setelah lihat dia." Ucap yang lain.
"Emangnya kenapa?" Tanya semua.
"Pengen berhenti kuliah terus halalin dia." Ucapnya.
Sontak semua tertawa kala itu. Selain cantik dan pintar, Arini sangat ramah pada semuanya. Budi pekertinya tak perlu di ragukan lagi. Dia sosok wanita yang tangguh dan baik hati. Saat itu Arga mulai tertarik dengannya.
Arga menatap Arini yang sedang sibuk mengambilkan makanan untuknya. Wajah Arini sangat tidak membosankan untuk di pandang. Bahkan Arga saja tidak bosan memandangnya.
"Mas, kenapa sih? Kok lihatin aku terus. Ada masalah?" Tanya Arini.
"Enggak, sayang. Lagi capek aja." Jawab Arga.
"Kalau capek nanti malam aku pijatin ya, mas?" Ucap Arini.
Ucapan Arini membuat Arga tersenyum. Tingkah polos Arini membuat Arga gemas. Benar dugaannya, melihat Arini membuat Arga menjadi lupa dengan kejadian tadi di kantor.
Arga memakan makanan Arini dengan lahap. Satu lagi, Arini juga pandai dalam memasak. Itu yang membuat Arga jarang makan di luar.
...
Arga kembali ke kantor pagi harinya. Sebenarnya ingin sekali dia tidak masuk kerja, akan tetapi sangat tidak mungkin. Pekerjaan menumpuk dan dia harus menyerahkan laporan keuangan karena ini sudah hampir akhir bulan.
"Pak Arga. Bu Zifa bilang suruh bapak ke ruangannya." Kata Sinta.
Arga melenguh. Dia sebenarnya sangat malas untuk menatap Zifa. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa. Dia tak mau ada urusan lagi dengan wanita itu.
Arga mengetuk pintu ruangan Zifa. Dia menatap Zifa yang tengah melihat berkas-berkasnya.
"Masuk." Ucapnya.
Arga kemudian masuk. Duduk di depan wanita itu.
"Ada apa, Bu?" Tanya Arga.
Zifa menatap Arga dengan seksama.
"Aku butuh laporan keuangan bulan ini. Bisa selesaikan sampai besok?" Tanya Zifa.
Arga hanya mengangguk.
"Baik, Bu. Akan saya selesaikan. Kalau tidak ada lagi, saya pamit." Kata Arga.
"Tunggu dulu. Mas Arga, apa segitu gak sukanya mas sama aku?" Tanya Zifa.
"Maaf, Bu. Ini di kantor. Kita harus profesional dalam bekerja. Jangan bahas masalah pribadi." Kata Arga.
"Satu menit aja, mas. Dengarkan aku." Kata Zifa.
"Baiklah, satu menit saja." Kata Arga.
"Maaf, mas. Sebenarnya bukan niatku untuk memutuskan hubungan kita waktu itu. Aku terpaksa." Kata Zifa.
"Aku masih punya perasaan sama kamu. Dan itu gak pernah berubah." Lanjutnya.
"Maaf, Bu. Sudah satu menit. Saya keluar dulu." Kata Arga.
Zifa menghela nafas panjang. Dia sangat percaya kalau Arga mungkin masih mencintainya. Kini Zifa ingin memperbaiki segalanya. Membangun hubungan kembali dengan lelaki itu.
"Mas, kita putus aja, ya? Aku gak bisa lanjutin hubungan ini. LDR kayak gini aku gak bisa. Lagi pula aku yakin kamu gak akan bisa maju kalau sekarang kamu cuma kerja jadi Salesman begini." Kata Zifa melalui Video call.
"Zifa, jangan begitu. Aku janji akan bekerja yang lebih baik dari ini. Demi kamu dan demi hubungan kita." Kata Arga.
"Maaf, tapi aku gak bisa." Ucap Zifa lalu menutup telepon.
Setelah itu dia memutus segala kontak dengan Arga. Memblokir akun sosmed dan segala tentangnya. Zifa berharap agar bisa melupakan lelaki itu. Nyatanya lelaki itu terus saja mengusik hidupnya. Dan kini takdir malah mempertemukan mereka dalam satu kantor.
Keputusan Zifa membuat Arga bangkit. Kuliah dengan serius tanpa pernah pacaran. Bahkan dia bekerja sambil kuliah. Arga juga tak pernah membuka hati pada siapapun setelah itu. Hanya Arini satu-satunya wanita spesial itu di hati Arga. Dan kini Zifa malah datang kembali membuat Bimbang hati seorang Arga Dirgantara.
Hari ini hujan turun sangat deras. Arga mengemudikan mobilnya keluar dari area parkiran kantor. Namun mata Arga menatap sosok wanita yang berdiri di depan sambil menatap sekeliling. Dia adalah Zifa yang masih bingung. Ponselnya mati dan saat ini hujan deras. Dia tak bisa menelepon supir ataupun orang rumah. Menunggu taksi pun tak bisa. Tak mungkin bagi Zifa menuju gerbang depan dan hujan-hujanan hanya untuk menunggu taksi.
Jiwa kemanusiaan Arga timbul. Dia tak tega melihat seorang perempuan sendirian dikala hujan. Apalagi sekarang keadaan kantor sunyi sepi tanpa seseorang. Arga menyelesaikan laporan keuangan yang Zifa minta sehingga dia harus lembur malam ini. Tanpa Arga sadari hanya tersisa dia dan Zifa di luar kantor.
Arga menepikan mobilnya. Memberi isyarat agar Zifa masuk ke dalam mobil. Zifa tersenyum karena Arga rupanya masih peduli terhadapnya. Zifa segera masuk ke dalam mobil. Untung saja dia bertemu Arga sehingga tidak harus menunggu lebih lama lagi.
"Mas Arga. Kamu..."
"Saya cuma menolong saja. Saya juga akan melakukan itu jika itu wanita lain. Ini malam dan jika ada sesuatu terhadap anda, maka saya akan menyesal karena tidak memberi tumpangan." Ucap Arga.
"Mas, sampai kapan kamu mau seperti ini sama aku?. Aku kan sudah bilang, aku punya alasan waktu itu mutusin kamu." Kata Zifa.
"Dan saya tidak mau dengar alasan itu." Kata Arga.
"Bagaimana kalau alasan aku mutusin mas Arga waktu itu karena terpaksa?" Tanya Zifa.
"Sudah sampai. Ini rumah anda kan?" Kata Arga.
Zifa menatap ke depan. Ternyata Arga masih ingat rumahnya. Dimana dulu saat SMA lelaki itu suka mengantarnya dengan motor vespa-nya. Hal sederhana namun tetap berkesan di hati Zifa.
Zifa akhirnya turun dari mobil Arga. Merasa kecewa karena Arga sama sekali tidak mendengarkan ucapan dan alasannya.