Hari ini Arini mendapat kunjungan dari Ibu mertuanya.
"Assalamu'alaikum."
Arini terpaku saat mendengar ucapan salam dari Mama mertuanya.
"Wa'alaikumsalam, Ma. Ayo masuk ke dalam." Ucap Arini kemudian menyalami Mama mertuanya.
"Eh, Gak usah nak. Kita berangkat aja langsung ya. Takut acara sebentar lagi mulai." Ucapnya.
Semalam Arga sudah memberitahu Arini jika Mamanya mengajak Arini untuk datang ke acara Muslimatan yang biasanya Mamanya hadiri. Dia sengaja mengajak Arini untuk memperkenalkan dia pada semua teman-temannya. Di sesi akhir juga akan ada arisan.
"Baik, ma. Mari berangkat." Ucap Arini.
Keduanya berangkat bersama dengan menaiki sebuah taksi. Saat pulang nanti Arga yang akan menjemput mereka berdua. Dan dia telah berjanji.
Arini memasuki sebuah rumah megah. Sudah dapat dia tebak kalau pemiliknya sangat Kaya.
"Assalamu'alaikum." Ucap Arini dan Mama mertuanya.
"Waalikumsalam. Eh jeng Dini sudah datang. Ini toh menantunya? Cantik sekali." Ucap seseorang yang bernama Rahma.
"Iya jeng Rahma. Ini menantu saya. Istrinya Arga." Jawab Bu Dini.
"Mari masuk." Ucapnya
Arini menyalami semua tamu yang datang. Sebenarnya rumah itu dekat dengan rumah mertuanya. Acara itu dilakukan tiap bulan untuk lebih mempererat tali silaturrahmi antar tetangga. Dan baru sekarang Bu Dini bisa membawa Arini bersamanya.
Acara dibuka dengan pembawa Acara yang menyampaikan kata-katanya.
"Eh, Ustadzah Sofia gak datang ya? Lalu siapa yang akan memimpin Tawassul. Kita semua belum ada yang bisa." Ucap beberapa Ibu-ibu.
Semuanya bingung saat ini. Jika tidak ada yang memimpin maka acara tidak jadi dilakukan.
"Bu, jika di perkenankan saya bisa memimpin acaranya." Ucap Arini.
Bu Dini mengulas senyum. Dia senang karena ternyata menantunya bisa melakukan itu. Putranya benar-benar tidak salah memilih istri.
Arini mulai membaca tawassul kemudian memimpin membaca surat Yaasin dan dilanjutkan dengan bacaan tahlil. Dan acara terkahir membaca Diba'iyah yang tak pernah lupa selalu ada di setiap acara.
Saat membaca Shalawat semua tertegun mendengar betapa merdunya suara Arini. Semua kagum mendengar bacaan Shalawatnya.
Bu Dini tersenyum puas saat semua teman-temannya memuji menantunya.
"Bu, kalau Arini punya saudara boleh jodohkan dengan putraku." Kata salah satu Ibu.
"Senangnya Bu Dini punya menantu cantik, sholihah dan suaranya pas baca shalawat bikin adem ati. Nemu dimana Arga istri kayak gitu." Imbuh lainnya.
Bu Dini tersenyum. Selama empat bulan menjadi menantunya, Arini bahkan tidak menunjukkan satu sifat buruknya. Dia selalu menghormatinya sebagai mertua.
"Ah, kalian bisa saja. Menantu saya biasa saja kok. Tapi, Alhamdulillah. Selama empat bulan jadi istri Arga, dia selalu hormat sama saya.". Jawab Bu Dini.
"Eh, Arini kamu punya adik perempuan, nak?" Tanya salah satu Ibu-ibu.
"Ada, Bu. Dia sedang kuliah semester empat sekarang." Jawab Arini
"Wah, asyik nih. Kenalin sama putra ibu ya? Ibu mau juga punya menantu kayak kamu. Beruntungnya jeng Dini punya mantu kamu." Kata Bu Rahma.
Arini membalas ucapan setiap orang dengan senyuman. Mereka selalu memuji sikap Arini.
Kini saatnya mereka mengadakan Arisan. Botol arisan di kocok dan jatuh satu nama. Semua Ibu-ibu di sana merasa deg-degan. Dan saat membuka namanya ternyata bertuliskan 'Dini'.
"Wah, Bulan depan di rumah Jeng Dini. Selain cantik dan sholihah, Arini juga bawa keberuntungan." Ucap Bu Rahma.
Bu Dini tiada henti menyunggingkan senyum karena Arini. Dia merasa beruntung karena Arini menjadi menantunya.
Suara mobil terdengar. Arga sudah menjemput keduanya. Bu Dini menceritakan segala yang terjadi pada putranya. Sedangkan Arga tersenyum saat mendengar cerita dari mamanya. Tentu saja Arga tahu kalau Arini itu adalah lulusan pesantren. Dan Arga juga tahu kalau Arini itu memiliki suara yang merdu.
.....
Arga memasuki kantor. Baru saja dia duduk, seseorang telah memanggilnya.
"Pak Arga, disuruh ke ruangan pak Direktur sekarang juga." Ucap seseorang.
Arga melangkah dengan malas menuju ruangan direkturnya.
"Masuklah." Andre menyuruh Arga masuk ke dalam.
Bukan hanya ada Arga di sana tapi ada yang lain juga. Wanita itu tengah duduk di sana. Dia terlihat antusias saat melihat kedatangan Arga.
"Arga, saya gak tahu harus bagaimana. Semestinya ini tugas saya. Tapi, kamu tahu sendiri kan kalau sebentar lagi istri saya akan melahirkan, jadi saya tugaskan kamu menggantikan saya untuk menghadiri pertemuan di luar kota bersama Ziva. Saya harap kamu mau. Perusahaan bergantung padamu sekarang." Ucap Andre.
Lidah Arga rasanya kelu. Ingin sekali menolak akan tetapi sangat sulit. Pekerjaannya dipertaruhkan untuk saat ini.
"Baiklah, pak." Jawab Arga.
Melihat Arga menyetujui itu membuat Ziva tersenyum karena ini waktunya Ziva untuk kembali mengambil hati Arga.
Seperti biasanya Arga pulang dan Arini menyambutnya. Membuat hati dan pikiran Arga lupa akan beban yang dia hadapi.
"Mas, kamu gak selera makan ya? Apa masakan ku gak enak? Sampai kamu kayak gitu." Kata Arini menegur Arga.
"Enggak, sayang. Mas cuma lelah aja." Kata Arga.
"Mas, lihat ini." Ucap Arini menunjukkan sebuah cincin di jarinya.
"Itu cincin baru ya?" Tanya Arga.
"Tebak, mas. Ini dari siapa?" Tanya Arini.
Jika sudah disuruh menebak, Arga pastikan itu cincin dari Mamanya. Kemarin Mamanya sempat bilang ingin memberi Arini hadiah karena sudah membanggakan Mamanya.
"Mama, kan?" Ucap Arga.
"Iya mas. Betul. Mama tadi kesini cuma mau kasih hadiah aja." Ucap Arini.
Arga tersenyum melihat Arini yang teramat bahagia karena mendapat hadiah berupa cincin itu.
"Mama ya begitu kalau sudah suka sama seseorang." Kata Arga.
Baru berbincang sesaat, Arga mendapat sebuah telepon.
"Halo?" Ucap Arga.
Yang menelepon adalah Papanya.
"Arga, Mama kamu sekarang ada di rumah sakit." Ucap Dirga, Papa Arga.
Mendengar itu Arga panik. Tubuhnya lemas dan dengan cepat Arga dan Arini segera pergi ke rumah sakit.
"Papa..!!" Ucap Arga.
Pak Dirga terlihat sedih.
"Mama kenapa pa? Tadi pagi dia masih baik-baik saja kok." Kata Arga.
"Dokter bilang dia terkena stroke ringan. Untung saja cepat ditangani, jadi belum terlambat." Jelasnya.
Arga terlihat sedih kemudian Arini menenangkannya.
"Sabar ya, Mas. Mama pasti sembuh." Ucap Arga
Semuanya kemudian masuk dan melihat Mama Dini yang tertidur pulas. Padahal besok Arga akan ke luar kota, tetapi malah ada kejadian ini.
"Besok kayaknya aku batalin aja tugas ke luar kota." Kata Arga.
"Jangan, nak. Kamu sudah berjuang dan ada di posisi ini dari nol. Kamu pergi saja." Ucap Dirga.
"Iya mas. Biar Arini saja yang rawat Mama. Mas Arga gak perlu khawatir. Aku akan rawat Mama dengan baik seperti ibuku sendiri." Ucap Arini tersenyum.
Arga tahu kalau wanita itu sangat baik. Arga memang tak pernah salah memilih wanitanya ini.