Sepenuh Hati

1131 Kata
Arini POV Aku tersadar dari tidurku saat aku mendengar suara Mama memanggilku. Dia menatapku dengan perasaan Iba. Dan itu sangat terlihat di matanya. "Arini, kenapa kamu gak pulang, nak?" Tanya Mama. "Enggak, Ma. Arini mau nemenin Mama disini. Sampai Mama benar-benar pulih." Ucapku. Aku melihat jam di dinding dan menunjukkan pukul dua dini hari. Sudah sehari Mas Arga pergi keluar kota. Dan aku belum mendapat kabar darinya. "Terima kasih ya, nak. Bahkan kamu hanya menantuku. Tapi kamu dengan ikhlas merawat ku." Ucapan wanita di depanku ini membuat aku terharu. Walau aku dan Mas Arga baru saja menikah, tapi aku sudah menganggap Mama dan Papa mertuaku seperti orang tua kandungku. Aku tersenyum ke arahnya. " Mama sudah Arini anggap seperti ibu kandung Arini." Ucapku. "Arga emang gak salah pilih kamu sebagai istri. Terima kasih ya nak." Ucap Mama. Mendengar ucapan Mama membuat aku tersentuh. Orang tua Mas Arga juga berarti orang tuaku. Dan aku ikhlas dalam menjaganya. Selagi aku bisa dan mampu, aku takkan mengecewakannya. Setelah menikah, surga istri ada pada suami, tetapi, surga suami tetap berada pada ibunya. Dan aku tak mau membiarkan Mas Arga jauh dari Mamanya. **** Aku terus menatap layar ponselku. Sudah satu hari Mas Arga tidak bisa di hubungi. Dia bilang jika di tempat itu sangat sulit untuk mendapatkan sinyal. Dan aku tak ingin terus menghubunginya karena hanya sebuah keinginan dan kecemasan tak beralasan ini. "Arini? Apa Arga sudah bisa di hubungi?" Pertanyaan Mama membuatku bingung harus menjawab apa. Sementara aku tak ingin dia khawatir. "Mas Arga masih sibuk, Ma. Tapi dia bilang akan pulang secepatnya setelah urusannya selesai." Jawabku berbohong. Karena sama sekali tak ada pesan darinya. Aku tidak tahu sesibuk apa dia sampai tak bisa memberikan kabar. Aku juga tidak tahu, seberapa terpencil-nya tempat dia bertugas sampai dia sama sekali tak bisa menghubungiku. "Baiklah kalau begitu. Kamu sudah siapkan semuanya? Mama akan pulang sore ini." Aku tersenyum menatapnya. Mama sangat antusias akan kepulangannya hari ini. Dan aku juga ikut senang mendengarnya. "Sudah, Ma. Arini juga sudah ke apotik rumah sakit untuk menebus obat Mama." Jawabku. Mama terlihat terkejut mendengarnya. "Lho, Mama belum kasih uang buat kamu, nak." Ucapnya "Udah, Ma. Semua biaya sudah Arini bayar. Mas Arga kasih uang sama Arini kok." Jawabku apa adanya. "Duh, Mama jadi gak enak nak." Ucapnya "Kenapa gak enak? Mas Arga anak Mama, kan? Kewajibannya untuk semua ini, Ma." Ucapku. Dia terlihat seperti memendam satu perasaan dalam hatinya. Dan aku mampu melihatnya. "Tapi, nak. Dia sudah berkeluarga. Gak seharusnya dia lakukan itu." Aku kini tahu apa yang Mama rasakan. Dan aku tak mau melihatnya merasa tidak enak lagi. "Mama, jangan begitu. Arini mengerti semuanya, Ma. Di dalam penghasilan Mas Arga ada hak Mama dan juga Kalila sampai dia menikah. Dan Arini gak mau mengambil hak itu, Ma." Ucapku. Mama malah menangis saat mendengarnya. "Arini, di ciptakan dari apa hati kamu itu, nak. Mama benar-benar merasa beruntung memiliki menantu seperti kamu." Ucapnya. "Mama, Arini dibesarkan oleh seorang Ibu juga. Sudah selayaknya Arini memperlakukan Mama dan Papa selayaknya orang tua Arini." Ucapku. Lagi-lagi Mama terlihat sedih. Aku tahu dia menyimpan kesedihan karena saat dia sakit, Kalila justru tak ada di sampingnya. Bahkan saat pernikahanku dan Mas Arga dia juga tak datang. "Beruntungnya Ibu kamu nak. Dia menyekolahkan kamu di sebuah pesantren sampai tercipta kebaikan di dalam diri kamu. Berbeda dengan Kalila. Semenjak dia di luar negeri dan menjalani kuliahnya, dia jadi lupa. Bahkan untuk sekedar menanyakan kabar kedua kedua orang tuanya." Untuk sekarang , Mama mulai menceritakan sedikit apa yang dia rasakan dalam hatinya. "Mama gak boleh berpikiran begitu. Kalila sedang sibuk karena tahun ini tahun terakhir dia, Ma. Bukan berarti dia enggak peduli lagi sama Mama atau Papa." Aku mengatakan itu agar dia sedikit tenang dan tak menerka-nerka apa yang tidak seharusnya dia pikirkan. "Ini semua karena Arga. Seharusnya dia gak nurutin permintaan Kalila buat ke Australia. Karena pergaulannya, sekarang dia lupa segalanya." Aku rasa Mama merasakan kesepian dan kerinduan yang amat dalam pada Kalila. Bukan hanya dia saja. Aku yang sebagai istrinya Mas Arga saja belum pernah bertemu langsung. Hanya terkadang bertegur sapa lewat video call. Itupun karena permintaan Mas Arga. Entahlah, hanya perasaanku saja atau tidak. Nyatanya, setiap kali dia melihatku, dia lekas-lekas menyudahi video call itu dengan berbagai alasan. "Oh iya, Mama lupa ya? Mama harus segera sehat. Ingat, arisan di rumah Mama sebentar lagi lho." Aku sengaja mengucap itu agar Mama tak lagi terpaku pada pemikiran tentang Kalila. "Duh. Hampir saja Mama lupa itu. Padahal Mama udah ada rencana. Oh iya, kamu tahu gak? Semua teman Mama memuji kamu. Mereka iri karena menantu mereka tidak seperti kamu. Mama jadi makin bangga. Arga memang benar-benar memilih istri yang tepat." Apa aku bilang, Mama akan lupa pada kesedihannya. Karena Mas Arga bilang kalau Mama sangat suka mencari hiburan dengan perkumpulan bersama teman-temannya. Bahkan terkadang suka menghadiri pengajian dan juga acara-acara keagamaan lainnya. Mas Arga bilang Mama terlalu religius. Padahal, aku sendiri cukup antusias dalam hal itu. Pernah juga Mas Arga bilang kalau Mama menemukan pasangan yang tepat. Karena aku juga suka dalam hal keagamaan itu. Bukannya apa, hanya saja aku terbiasa sejak di pesantren dulu. Akhirnya, setelah menyelesaikan semuanya kami diizinkan untuk pulang. Aku melihat sorot kebahagiaan yang terpancar di wajah Mama. "Mama, setelah ini ingat ya? Kurangi makan berlemak dan juga yang manis-manis." Kini Papa membuka mulut dan mulai menasehati Mama. "Iya, Pa." Jawab Mama singkat. Aku hanya tersenyum melihat keduanya. Dimana Papa yang cukup perhatian dan Mama yang cuek. "Jangan iya aja. Papa sudah sering bilang kalau Mama gak boleh kebanyakan makan yang berlemak. Tensi Mama sering tinggi dan apa yang Papa takutkan terjadi. Karena penyebab utama Stroke itu karena Hipertensi, Ma." Papa malah semakin memanjangkan nasehatnya. Mama menatapku sambil menggelengkan kepalanya. "Alhamdulilah, Ma. Masih diberi kesembuhan. Allah masih memberikan umur yang panjang." Tak berhenti disitu, Papa masih berbicara. "Iya, Pa. Alhamdulillah." Jawab Mama. Kami akhirnya sampai di rumah. Tak selang beberapa lama, beberapa tetangga dekat Mama datang untuk menjenguk. Aku sibuk membuat minuman dan membawakan cemilan. Tapi, aku bisa mendengar sedikit apa yang mereka perbincangkan. "Jeng, beruntungnya ada menantu yang peduli. Ingat jeng Rina gak? Waktu sakit yang ngerawat malah suaminya. Anak dan menantunya gak peduli." Ucap salah satu Ibu-ibu. "Iya jeng. Mana ada menantu sebaik Arini. Kamu beruntung jeng. Aku lihat Arini itu udah sopan, berjilbab juga. Duh, jauh sama anak menantuku. Sering aku tegur karena pakaian minimnya. Eh, malah marah. Malas jadinya mau negur lagi." Sahut yang lain. "Dimana nemu wanita kayak Arini ini. Mana ngajinya pintar. Ini namanya definisi menantu idaman." Ucap yang lain. Aku hanya tersenyum lalu keluar dengan membawakan teh untuk mereka semua. Tak lupa menyuguhkan cemilan. "Ya, ini keberuntunganku jeng, semua. Alhamdulillah menantuku memang yang terbaik." Lagi-lagi Mama menyanjungku. Apakah aku harus besar kepala untuk semua ini? Karena aku tahu kalau ini sebuah kewajiban untuk menjadi menantu yang baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN