Tak Sengaja

1542 Kata
Author POV Arga menatap jam di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Dia mengutuk keadaan di sekitarnya. Dia tak tahu jika tugas ini benar di adakan di sebuah pelosok dan sedikit terpencil. Beberapa kolega juga sempat mengeluh. Apalagi di Vila tempat mereka tinggal tidak ada akses Wifi. "Selamat malam tuan Arga." Sapa salah satu kolega yang cukup berpengaruh. Namanya Mr. Samuel. Semua kerap memanggilnya Sam. "Selamat malam Mr. Sam." Jawab Arga. "Kenapa hanya melamun disini? Ayo ikut kita. Sedang ada Party di tempatku. Mari bergabung." Ucap Sam. Arga enggan menolak dan akhirnya ikut ke tempat Sam berada. Alangkah terkejutnya dia saat melihat begitu banyak kolega yang ikut. Sam berkata jika hari ini adalah terakhir mereka disini. "Mari bergabung Pak Arga." Ucap yang lain. Arga hanya bisa tersenyum dan duduk saja. Dia hanya tersenyum melihat semua lelaki yang sedang berbincang itu. Namun, Ziva justru tak terlihat. "Hei, kalian tahu tidak? Mrs. Ziva itu. Dia cukup seksi dan cantik untuk kategori wanita karir." Arga tentu saja mendengarnya. Setiap lelaki sama saja, tak bisa melihat wanita cantik sedikit saja. "Ingat, kamu sudah punya istri." Ujar yang lain. "Kenapa? Hubungan seperti itu sudah biasa. Lagi pula, siapa yang tak tertarik pada wanita secantik dia. Sayang ya, dia masih single. Aku akan mencoba mendekatinya nanti." Kini Arga mulai menoleh. Mencari tahu siapa lelaki yang banyak bicara itu. Salah satu yang lainnya berkata jika ia sudah beristri, tapi kenapa malah masih mengincar wanita lain. Arga menatapnya. Setahu dia, lelaki itu bernama Aldo. Arga tak menyangka jika lelaki itu punya niat buruk. Semua mata tertuju pada sosok Ziva yang baru saja datang. Wanita itu mengenakan gaun merah yang cukup mencolok. Bahkan Arga saja tak bisa melepaskan pandangan darinya. Arga akui jika Ziva terlihat cukup cantik malam ini. "Selamat malam Nona Ziva..!!"Sapa Samuel. Ziva memberikan sebuah senyuman yang mampu membuat semua orang luluh terhadap pesona dirinya. "Selamat malam semuanya."Ucap Ziva. Semua lelaki di tempat itu menatap ke arahnya. terkecuali Samuel dan Arga saja. Sosok Samuel di kenal sangat setia terhadap istrinya, jadi lelaki itu takkan mudah terpengaruh pada kecantikan dan kemolekan tubuh wanita lain. Ziva sedikit kesal karena semua lelaki menatapnya tak berkedip sementara tujuannya berpenampilan seperti itu karena ingin menarik perhatian dari Arga. "Anda terlihat sangat cantik malam ini, Nona."Ucap Aldo mulai merayunya. "Terima kasih Pak Aldo.""Jawab Ziva. Wanita itu mulai mengobrol dengan banyak lelaki maupun perempuan. Tapi, hanya dia yang mampu menjadi pusat perhatian di tempat ini. Tak lain karena dia bagaikan sosok yang sangat sempurna. Sudah cantik, menarik dan tentunya adalah putri dari keluarga kaya raya. Arga merasa bosan mendengar perbincangan para kolega tentang seputar pekerjaan maupun soal perempuan. Arga kemudian bangkit dari tempat duduknya dan pergi menuju toilet. "Do, kamu masukin apa ke minuman itu?" Tanya salah seorang yang kebetulan juga ada disana. "Udah, kamu diam aja." Ucapnya. Arga benar-benar jengah melihat salah satu kelakuan lelaki itu. "Jangan bilang buat Nona Ziva? Ingat ya? Dia itu putri siapa?" Ucapnya. "Kenapa? Ingat juga, mertuaku siapa. Demi kehormatan putrinya, dia akan melakukan apapun untukku." Jawab Aldo dengan santainya. Arga terus berpikir sampai ia tahu apa yang Aldo rencanakan. Arga tak bisa membiarkan hal itu terjadi karena yang bersama dengannya saat ini adalah dirinya, yang berarti bahwa Ziva adalah tanggung jawabnya. Arga terus menyusul Aldo dan hendak menghentikan semuanya. Namun, sayangnya ia tak melihat keberadaan keduanya. Arga terus mencari keberadaan keduanya dan saat itulah ia melihat Aldo tengah berbincang dengan Ziva. Arga melihat satu gelas bir di tangan Ziva, dan sudah ia pastikan kalau wanita itu sudah meminumnya. "Maaf, Nona Ziva. Sebaiknya anda kembali sekarang." Ucapnya. Aldo menatap tajam ke arah Arga. Rencananya gagal karena lelaki itu. Aldo terpaksa membiarkan Arga membawa Ziva pergi bersamanya. " Apa yang Mas Arga lakukan?" tanya Ziva. " Apa anda tidak meilhat bahwa dia sudah punya istri? Dia ingin mencelakai kamu." Ucap Arga. " Mas, kamu masih peduli denganku, kan?"Tanya Ziva. Keduanya kini berada di depan kamar Ziva, karena Arga mengantarnya sampai ke tempatnya. "Anda salah." Jawab Arga. Lelaki itu hendak pergi sampai Ziva memekik kesakitan. "Awwww.... Kepalaku sakit." Ucapnya. Arga berbalik dan mendapati Ziva yang tengah bersandar ke tembok. Arga tahu kalau obat itu telah bereaksi. "Sudah saya bilang, dia punya niat buruk." Ucap Arga. Arga kembali mendekat dan membawa Ziva masuk ke dalam kamarnya. "Tidurlah, setelah tidur sakit kepala anda akan lebih baik." Ucap Arga. Arga melangkahkan kaki dan hendak pergi dari tempat itu, namun seketika itu juga tubuhnya mulai memanas dan ia merasakan sesuatu bangkit dari dirinya. Arga mengutuk kebodohannya. Bukan hanya Ziva, tapi dirinya juga meminum minuman itu, dan kini ia tak tahu apa yang terjadi. Arga merasakan tubuhnya di peluk dari belakang. "Mas Arga, maafkan aku. Aku menyesal mengakhiri hubungan kita padahal aku sendiri masih mencintaimu, Mas. Maafkan aku." Ucap Ziva lirih. Arga menahan nafasnya sesaat. Hal yang Ziva lakukan bahkan lebih membangunkan sesuatu dalam dirinya. " Tolong, hentikan ini...!!" Ucap Arga. Tubuhnya semakin memanas dan Arga tahu kalau Ziva juga merasakannya. Arga kemudian membalik tubuhnya dan menatap wanita itu. Sama sekali tak menduga jika Ziva akan menangis. Hati Arga sedikit luluh melihat hal itu. "Aku mohon, maafkan aku..." Ucap Ziva memohon. " Aku bahkan masih mengingat segala hal tentang kita." Ucap Arga. Sekali lagi, Ziva mulai memeluk Arga. Dan entah kenapa, Arga justru diam dengan perlakuan Ziva. Karena sebenarnya beberapa bulan ini ia juga ada dalam keadaan bingung tentang bagaimana perasannya itu. Ziva mulai berani dan sedetik kemudian ia melayangkan ciuman itu di bibir Arga. Ingin sekali Arga menolaknya, tapi ia juga tak bisa memungkiri hati dan perasaannya sekaligus karena saat ini ia ada dalam pengaruh obat. Arga merasakan sensasi yang berbeda dari apa yang Ziva lakukan, bahkan saat wanita itu makin memperdalam ciuman itu, sampai akhirnya pertahanan Arga lumpuh. Lelaki itu memegang era pinggang Ziva dan mulai membalas hal yang Ziva lakukan. Arga mulai terbawa hasrat yang salah itu, karena dengan sadarnya ia justru melangkah ke hal yang lebih dari sekedar ciuman. Hasratnya tak terbendung terlebih karena Ziva yang juga menginginkan hal serupa. Apa yang Arga takutkan terjadi, ia mulai melangkah ke dalam hubungan terlarang itu. Tubuh keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benang. Malam ini mereka berdua sama-sama siap menyatukan cinta yang sempat tertunda di masa lalu. "Lakukanlah, karena ini yang aku inginkan." Ucap Ziva Lirih. Arga lupa segalanya, ia telah lupa jika memiliki Arini yang selalu setia. Arga juga lupa tentang janji setia yang ia ucapkan. Arga juga lupa bahwa ia telah memotong satu daun dari bunga mawar yang ia miliki. ***** Arga merasakan sebuah tangan sedang melingkar di perutnya. Perlahan, lelaki itu membuka matanya dan mengingat apa yang terjadi. Arga langsung menatap wanita di sampingnya. Wanita yang telah melewati malam panas saat bersamanya semalam. Arga duduk dengan rasa bersalah yang menghinggapi hatinya. Bagaiman mungkin ia melakukan itu dan malah mengkhianati Arini? Padahal saat ini Arini merawat ibunya yang tengah sakit. "Ya Allah, apa yang aku lakukan? Ucapan Arga berhasil membuat Ziva bangun dan menatapnya. " Selamat pagi, Mas." Ucapnya. Arga bergegas bangun dan memungut semua pakaiannya. Sementara Ziva merasa aneh dengan apa yang Arga lakukan. "Setelah apa yang kita lalui, kenapa kamu masih seperti ini, Mas?" Ucapnya. Ziva juga bangun dan segera memungut pakaiannya dan segera ia kenakan. Arga mendesah perlahan, dia benar-benar salah karena semalam ia justru larut dalam dosa itu. "Maafkan aku.." Ucap Arga sembari menatap Ziva. " Gak perlu minta maaf, Mas. Kita melakukan itu atas dasar sama-sama suka, kan? Ucapnya. Arga menatap Ziva dengan tatapan bersalahnya. "Ziva, semalam aku dalam pengaruh obat perangsang." Ucap Arga. Ziva terdiam. Dia juga menyadari sesuatu yang aneh malam itu. "Gak masalah , Mas. Lagi pula aku juga menikmatinya." Ucap Ziva. "Tapi, ini salah." Ucap Arga. "Apanya yang salah, Mas? Kita saling suka. Kamu juga gak akan menikmati itu kalau kamu gak ada perasaan sama aku. Dan kini aku yakin kalau kamu masih cinta sama aku." Ucap Ziva. Arga tak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia sudah merasakan penyesalan itu. Bagaimana nanti ia bisa menatap mata Arini? Dan bagaimana nanti ia bisa melihat senyum istrinya itu? Dia telah berkhianat padanya. "Ini salah, aku sudah menikah dan punya istri." Ucap Arga. Ziva membeku. Dia terdiam cukup lama. Mencoba mencerna apa yang terjadi. Sungguh, ia tak tahu kalau Arga sudah menikah. Bahkan orang-orang di kantor tak pernah membicarakan hal itu. "A-apa? Kamu sudah menikah? Kamu gak bercanda, kan?" Tanya Ziva. "Tidak. Aku benar-benar sudah menikah." Ucap Arga. Ziva merasa lemas seketika. Harapannya hancur saat ini. Niat ingin menjalin kasih kembali dengan lelaki itu malah sirna seketika. Cintanya seakan terbang seketika tanpa arah. Andai ia tahu hal itu, tak mungkin ia melakukan hal itu semalam. "Maafkan aku." Ucap Arga. Hanya itu yang bisa Arga lakukan saat ini. Meminta maaf pada Ziva karena perbuatannya. Ziva mencoba untuk tersenyum dan berpura-pura kuat. "Sudahlah, lupakan semua ini. Anggap ini gak pernah tejadi. Dan kita tetap bersikap seakan-akan ini tak pernah terjadi. Aku akan melupakan apa yang terjadi di antara kita." Ucap Ziva. Arga tersenyum. Dia tak menduga kalau ternyata Ziva akan mengatakan hal itu dan justru tidak marah seperti dugaannya. "Terima kasih banyak, Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi, sekali lagi aku minta maaf." Ucap Arga. "Pergilah, Mas. Setelah ini kita harus pulang dan kembali." Ucap Ziva . Setelah itu, Arga keluar dan segera kembali ke kamarnya untuk menyiapkan kepulangannya. Dan setelah kepergian Arga, Ziva justru meneteskan air matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN