Ziva mengingat kembali apa yang Mamanya katakan saat itu. Kini, ia berada dalam kebingungan yang besar. Antara bertahan ataupun memberi kesempatan. Kala itu, Ziva baru tiba dan ia mengurung diri di kamarnya. "Sayang, bukalah. Mama ingin berbicara dengan kamu." Ucap Lydia. Ziva tak menggubris dan masih saja menangis tanpa henti. "Kamu ingat gak? Dulu, saat kamu sedih kamu selalu cerita. Kenapa sekarang kamu berubah dan malah menanggungnya sendirian?" Tanya Lydia. Ziva kemudian membuka pintu kamar dan mempersilahkan Mamanya masuk ke dalam. "Ada apa, sayang? Cerita sama Mama. Kamu boleh merahasiakan ini dari Papa. Tapi ingatlah, aku Mama kamu. Bahkan, saat kamu melakukan kesalahan sekalipun, aku tetap mendukung kamu. Ingat itu." Ucap Lydia. Ziva kemudian memeluk Mamanya dengan erat. "

