Daniel kembali membuka matanya, ketika ia merasa bahwa ia mengambil istirahatnya terlalu lama. Daniel dengan perlahan menggerakkan tangan kanannya ke atas, namun selang yang terpasang membuatnya mengurungkan niat itu. Ia beralih pada tangan kirinya dan menggerakkannya berulang kali. Sehingga ketika ia rasa tangan tersebut cukup kuat, Daniel menjadikan tangan kirinya sebagai penopang untuk membantu tubuhnya bangkit dari posisi tidur.
“Aahhkk!” Daniel mengerang kesakitan saat ia bangkit dari posisi tidurnya. Ia merasakan sakit di bagian kaki, dan punggungnya. Nafasnya tersengal-sengal karena sakit yang ia rasakan, keringat mulai keluar dari pelipisnya. Pusing, itulah yang Daniel rasakan saat ini. Ia tidak mampu untuk sekedar menggerakkan kepalanya, ia takut itu akan membuat anggota tubuh lainnya merasakan sakit.
Satu menit ia terdiam dengan posisi yang sama, ia tidak bergerak dari posisi itu. Sampai saat ia merasa ia harus mencoba kembali bergerak, maka Daniel menggerakan kepalanya untuk menengok ke arah kanan di mana meja dan gelas berada. Tidak ada rasa sakit yang ia rasakan, itu membuatnya bersyukur. Setelah itu ia berniat untuk mengulutkan tangan kananya untuk mengambil gelas tersebut, namun dengan pergerakan yang sangat pelan, dan berhasil ia berhasil menggapai gelas tersebut. Daniel mengambilnya dengan tersenyum dan meminum air itu. tetapi tenggorokannya begitu sakit, ia merasa bahwa air yang ia minum menyakiti tenggorokannya.
Daniel kembali menaruh gelas itu karena kehilangan selera untuk minum, meskipun ia merasa haus. Daniel kembali mencoba untuk menggerakkan anggota tubuh yang lainnya dengan perlaha, ia menggerakan kaki kanannya. Menurunkannya dari ranjang agar ia bisa berdiri, “Aahhkk!” namun Daniel merasakan rasa sakit itu kembali, bahkan lebih sakit. Membuatnya mengerang lebih kencang. Daniel terdiam tidak melanjutkan pergerakkan kakinya, ia bernafas dengan mulut agar merilekskan dirinya.
Pintu kamar itu pun terbuka, ketika seluruh orang yang ada di rumah tersebut mendengar teriakan Daniel. Eliot berlari dan menghampiri Daniel, kemudian ia terdiam di hadapan lelaki itu menatap posisi Daniel yang terduduk dengan satu kaki menggantung di ranjang. Eliot membantu Daniel membenarkan posisinya dan mengangkat kaki tersebut kembali ke atas ranjang.
“Aahhkk!” Daniel meringis pelan, merasakan sakit di kakinya. Eliot menatap pada Daniel dengan satu alis terangkat.
“Kau mau kabur?” Pertanyaan tersebut seperti sebuah kecurigaan yang Eliot rasakan pada Daniel. Lelaki itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, ia hanya berniat untuk berdiri dan menemui timnya. Bukan kabur dari tempat ini.
“Dengarkan aku Daniel, kau belum cukup kuat untuk berjalan dengan kondisimu yang seperti ini. Beberapa tulangmu patah dan kami belum bisa memastikan apakah operasi yang kami lakukan telah berhasil ataukah kau harus kami rujuk ke rumah sakit.” Daniel terdiam, mebelalakan matanya. Ia berusaha untuk bertanya pada Eliot dengan membuka mulutnya, tetapi suaranya belum juga dapat keluar. Eliot mengangguk paham, ia menepuk pundak kiri Daniel dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Tenanglah Daniel, semua akan baik-baik saja. Kau berada di tempat yang aman, aku bukan seseorang dari pihak yang bermusuhan dengan W.A.E dan kau tidak perlu terburu-buru untuk mengatakan pada mereka bahwa kau baik-baik saja. Karena Ketuamu sudah memeberikan konfirmasi.” Daniel mengangguk paham, kemudian ia mengangkat tangan kirinya untuk menunjuk pada tenggorokannya. Bertanya pada Eliot kenapa dirinya tidak dapat berbicara?
“Sebuah benda berukuran tiga puluh lima sentimeter… Menusuk tepat pada bagian tenggorokanmu. Tapi kami sudah berhasil mengeluarkannya, dan kemungkinan itu hanyalah efek sementara yang akan kau alami. Berdo’alah…” Ucapan Eliot di akhiri dengan saran agar Daniel berdoa untuk dirinya sendiri. Daniel terdiam, dia terkejut dengan hal yang sebenarnya dia alami, ia menengok ke arah pintu dan berharap bahwa tim nya ada disini bersamanya.
“Kau ingin berbicara dengan ketua tim mu?” Eliot yang melihat hal tersebut, menanyakan apa yang Daniel inginkan. Lelaki itu mengangguk sebagai jawaban, dan Eliot segera keluar dari ruangan untuk memanggil Brian.
Daniel hanya terdiam menunggu dan merenung ketika Brian datang ke dalam ruangannya. Brian mendorong kursi roda miliknya dan berhenti tepat di samping Daniel, dan ia hanya menunggu Daniel sadar dari lamunannya.
Daniel menatap pada Brian, dia menggunakan isyarat untuk berkomunikasi dengan ketuanya tersebut. Isyarat yang hanya di gunakan oleh para anggota tim W.A.E yang sebenarnya digunakan saat mereka berada di saat yang tidak memungkinkan untuk berteriak atau untuk berbicara. Namun kali ini Daniel menggunakan itu untuk berkomunikasi terbuka dengan Brian, karena suaranya belum kembali.
‘Bagaimana keadaan yang lain? Apakah kau sudah memberitahu kantor pusat mengenai keadaan kita? Mengapa mereka belum juga menjemput kita?’ Brian terdiam ketika ia membaca isyarat yang diberikan oleh Daniel, ia menundukkan kepalanya untuk beberapa saat. Membuat Daniel yang melihatnya, merasa sedikit curiga.
“Hanya kita berdua yang tersisa, Daniel.” Daniel terdiam ketika mendengar hal tersebut, jantungnya berdetak sangat kencang dan ia berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi buruk untuknya.
“Aku belum melapor pada kantor pusat karena kita tidak memiliki alat apapun disini, Eliot dan Vani hanyalah sepasang dokter yang memiliki klinik kecil di daerah ini. Dengan kondisiku yang seperti ini Vani mengatakan bahwa aku belum boleh keluar untuk mencari alat-alat komunikasi lainnya.” Brian tetap menjawab semua pertanyaan Daniel, meskipun lelaki itu tidak terlihat mendengarkannya. Ia terlalu terkejut dengan kenyataan bahwa kini tinggalah mereka berdua yang tersisa.
“Daniel?” Brian memanggilnya, mencoba menyadarkan Daniel dari lamunanya. Daniel yang mendengar namanya terpanggil, melirik pada Brian dengan wajah yang sangat sedih.
“Maafkan aku, karena telah melakukan hal yang sangat membahayakan untuk kita. Yang pada akhirnya membuat Padhil dan Kahar…” Brian tidak melanjutkan kata-katanya, ia menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan miliknya. Dia menangis di atas kursi rodanya, dengan bahu yang bergetar.
“…” Daniel yang berusaha mengucapkan sebuah kata, pada akhirnya ia hanya menepuk-nepuk pelan bahu Brian. Menenangkan lelaki yang menangis seraya menyalahkan dirinya sendiri tersebut.
Daniel ingin mengatakan bahwa ia tidak menyalahkan Brian, dan itu memanglah resiko yang harus mereka terima. Meskipun pada akhirnya mereka telah kehilangan anggota tim mereka.
“Itu bukan salahmu!” Bukan Daniel yang mengucapkan hal tersebut, melainkan seorang lelaki yang kini berdiri di ambang pintu yang terbuka dengan sebuah nampan di tangannya. Eliot… Lelaki itu berjalan masuk ke dalam ruangan Daniel, menatap pada Daniel yang mengangguk padanya, membenarkan hal yang ia katakan.
“Dan kurasa Daniel juga setuju denganku. Brian… Saat ini yang harus kau pikirkan adalah bagaimana caramu menghubungi kator pusat W.A.E tanpa ketahuan oleh pihak militer pemerintah. Karena saat ini, kau masih memiliki satu anggota yang merupakan tanggung jawabmu.” Brian berhenti menangis, dan mengangkat wajahnya untuk menatap Eliot juga Daniel yang ada di hadapannya. Daniel mengangguk dengan yakin dan penuh keteguhan disana. Tangannya kembali menepuk Brian, meskipun ia merasa tubuhnya melemas.
“Makanlah, sudah beberapa hari ini kau tidak memakan apapun. Karena saat ini kau sudah berbicara dengan Daniel, kuharap sekarang kau makan.” Eliot menyodorkan nampan berisi makanan itu pada Brian. Daniel melirik pada sang ketua yang memang terlihat pucat dan tidak bertenaga, tangan Brian menerima nampan tersebut dan mengangguk pada Eliot.
To be continued