Bab 49

1373 Kata
Rio, Bima dan Arial memarkirkan Carflying mereka di salah satu tempat perbelanjaan terdekat. Di dalam mobil, Arial memastikan keberadaan Luis terlebih dahulu sebelum mereka turun dan mendatangi lokasi tersebut. Dia menandai kemana mereka harus berjalan dan menyimpan itu ke file yang ada di dalam layar virtual yang akan mereka bawa. “Jadi, Luis di tahan di salah satu kantor di gedung perdagangan mata uang?” Pertanyaan Bima tersebut terucap ketika mereka melihat apa yang tertera di layar Tracker Hostage yang terpasang pada Luis.   “Aku tidak bisa memastikannya, kita harus terjun ke lokasi.” Ucap Arial pada mereka berdua, Rio dan Bima menganggu. Arial masih sibuk mengurusi hal tersebut, sementara Rio memasukan beberapa senjata ke dalam tas yang akan ia bawa, sedangkan Bima mengecek keadaan penyangga yang sudah ia kenakan agar tidak bergeser nantinya. “You good?” Rio bertanya saat ia melihat Bima yang mengerenyitkan dahinya ketika mengencangkan penyanggah tersebut. Lelaki itu mengadah dan menatap pada Rio yang terlihat khawatir. “Ya… I’m good!” Bima kembali duduk dengan tegap dan berpura-pura bahwa ia baik-baik saja. Sebenarnya tadi saat dirinya mengencangkan penyanggah itu, ia merasa jahitan kakinya terbuka. Namun ia tidak berpikir bahwa itu benar-benar terbuka, karena pihak dokter organisasi W.A.E telah menutupnya menggunakan laser. “Okay, let’s go!” Arial membuka pintu mobil nya dan menunggu keduanya keluar dari dalam mobil. Mereka kini terlihat seperti orang-orang pada umumnya yang akan membeli suatu barang di pusat perdagangan tersebut. “Bagaimana?” Tanya Rio, saat Arial hanya melihati seluruh gedung-gedung tinggi itu. Banyak sekali papan-papan iklan yang besar yang terpasang hampir di setiap gedung. Layar-layar itu masing-masing menampilkan produk-produk yang mereka iklankan. Ada salah satu di antaranya adalah produk terbaru yaitu sebuah properti anti gravitasi yang belum lama ini telah di rampungkan. “Ayo!” Arial berjalan ke arah sebelah kanan, mengikuti lokasi yang sudah ia simpan pada layar virtual miliknya, yang kini ia gunakan sebagai kaca mata. Rio menyusulnya tepat di samping Arial, dan Bima berjalan di belakang keduanya dengan tangan yang ia masukan kedalam saku. Ia menggunakan masker kesehatan yang menutupi seluruh mulut dan hidungnya, berbeda dengan Rio yang hanya menggunakan itu di bagian mulut dan dagu. Sementara Arial dengan beraninya tidak menggunakan masker apapun. Karena ia berpikir bahwa tidak akan ada yang menyadarinya di wilayah ini. Wilayah yang terfokus hanya pada penjualan, yang tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di pemerintahan maupun sektor lainnya. “Orang-orang disini terlalu sibuk dengan Uang, dan tidak akan mengurusi kita yang berjuang!” Arial mengucapkan sebuah kalimat yang terdengar seperti sebuah sindiran keras untuk orang-orang yang ada di kota super sibuk tersebut. Bima hanya terkekeh di belakang mereka berdua, membuat Rio yang mendengar kekehan itu melirik ke arahnya. Sebuah senyuman terlihat di wajah tampan Rio, dan melihatnya membuat Bima penasaran. “Apa kau sangat bahagia aku berada di sini, Rio?” Pertanyaan Bima tersebut sukses membuat Arial tertawa terbahak-bahak membuat beberapa orang yang juga sedang berjalan dan berbelanja menatap padanya. “Apa yang kau tertawakan?” Tanya Rio pada Arial, lelaki itu mengibas-kibaskan tangannya seraya menggelengkan kepala. “Tidak, hanya saja… Bima benar, kau terlihat seperti sangat bahagia mendapati Bima bersamamu. Siapa lelaki ini? Pacarmu, Rio?” Arial berucap mengeluarkan candaannya pada sahabat kecilnya itu. Akibatnya sebuah pukulan keras mendarat di kepalanya, Rio yang melakukan itu. Ia memukul kepala Arial dan menyuruhnya untuk berhenti bercanda dengan dirinya. “Hentikan! Kita sedang tidak bercanda, Arial.” Ucap Rio, Bima yang berjalan di belakang keduanya hanya terdiam melihati hal itu. Saat ini persis sama seperti saat mereka bertengkar sebelumnya, saat W.A.E belum berdiri dan saat sebelum dirinya menghilang. “Aku tahu, tapi bukan kah lebih baik jika kita terlihat santai Rio? Just Relax!” Rio tidak menanggapi ucapan Arial, lelaki itu terlihat sudah lelah dengan apapun yang akan Arial ucapkan. Sementara Arial hanya terkekeh melihat Rio yang seperti itu dan berjalan mundur untuk menyamakan langkahnya dengan Bima. “Lihatlah dia, dia tidak pernah berubah sama sekali Bima. Meskipun umurnya terus bertambah.” Lagi, Arial kembali melayangkan sebuah candaan mengenai Rio. Bima hanya menganggukkan kepalanya, menyetujui hal yang Arial ucapkan. Rio yang memang melirik ke arah belakang itu lantar berbali menghadap keduanya dan berjalan dengan mundur kebelakang. “Hei Bima! Apa maksud dari anggukan kepala itu?! Ingat… Kau adalah temanku, bukan temannya!” Rio menunjuk Bima dengan jari telunjuk nya dan menatap kedua temannya itu dengan sangat tajam. Arial hanya dengan santainya menggelengkan kepala dan menarik bahu Bima agar lebih dekat padanya. “Kau tetap berada di pihak ku kan?” Arial berpura-pura bebisik pada Bima, namun sebenarnya ucapan itu lumayan kencang dan membuat Rio dapat mendengarnya dengan jelas. Bima mengangguk mengiyakan ucapan Arial membuat Rio semakin terkejut. “Pengkhianat!” Rio berucap dengan sebal dan kembali berbalik untuk kembali berjalan dengan benar. Bima dan Arial tertawa, kemudian Ariam menyuruh agar mereka menyusul Rio. Keduanya berdiri di samping lelaki itu dan merangkul bahunya, membuat lelaki yang terlihat kesal itu tersenyum. “Sudah ku duga, kalian tidak akan bisa jauh dariku.” Ucap Rio pada keduanya dengan sangat percaya diri. Arial hanya mengangguk-angguk terpaksa, sedangkan Bima tersenyum dan melirik kearah kaca-kaca pajangan di sampingnya. “Itu dia!” Ucapan Arial membuat kedua orang itu menengok ke arah depan. Candaan yang tadi mereka buat seketika lenyap berganti dengan situasi yang serius. Namun tetap dengan tidak terlalu mencolok atau mencurigakan, Arial berbisik pada Rio. “Tolong kau alihkan semuanya, berpura-pura lah untuk menjadi customer. Jangan terlalu mencurigakan.” Rio mengangguk, ketika ia mengerti dengan hal yang baru saja Arial ucapkan. Kemudian ia menatap pada Bima untuk memberi tahunya juga, namun lelaki yang lebih tinggi darinya itu telah menatap padanya dan menganggukan kepala seraya berkata. “Aku tahu.” Dengan senyuman khas milik Bima, Maka hal tersebut sukses membuat Rio bungkam, kembali melihat ke arah depan. “Entah mengapa terkadang kalian berdua benar-benar membuatku kesal.” Rio berucap membuat kedua orang itu meliriknya, kebingungan. “Apa kau kesal… Benar-benar kesal?” Tanya Arial yang berada di samping kanan Rio. Lelaki itu melirik ke arahnya dan memberikan tatapan yang mengatakan ‘Kau bercanda? Bukankah kau yang menyuruhku untuk terlihat tidak mencurigakan?’. Arial tersenyum dengan canggung mengetahui maksud dari tatapan Rio padanya tersebut. Ketiganya melangkah memasuki sebuah gedung perdagangan mata uang, yang di dalamnya terdapat benyak sekali orang-orang ber jas hitam meski ada beberapa dari mereka juga yang menggunakan pakaian casual seperti ketiganya. “Aku tidak mengerti! Apakah yang akan Yoesef lakukan dengan Luis, sehingga membawanya ke sini? Apakah dia akan di jual?” Pertanyaan yang sangat mengganggu pikiran Bima itupun akhirnya ia utarakan pada kedua lelaki di sampingnya, Rio menggelengkan kepalanya dengan pelan tanda ia pun tidak mengerti. Sementara Arial membenarkan kaca mata miliknya untuk kembali melihat arah mana yang harus mereka tuju. Ia berbelok ke arah sebuah lorong bertuliskan meeting room. Ketiganya terdiam tepat di depan koridor tersebut, Rio melirik ke arah kanan dan kiri, menyadari bahwa tidak adanya cctv atau penjagaan disana. Semua orang sepertinya bebas keluar masuk ke dalam sana, koridor itu juga tidak sepi karena ada beberapa orang yang berjalan menunggu pihak penjual mata uang menemui mereka. Akhirnya Arial memantapkan dirinya untuk melangkah masuk ke dalam koridor, yang tentunya di susul oleh Rio dan Bima. “Sinyalnya semakin kuat!” Arial bergumam kecil pada kedua temannya itu, ketika ia berbelok di ujung koridor ke arah salah satu ruangan yang pintunya telah tertutup. “Tetapi aku memiliki firasat buruk, Arial!” Rio bergumam seraya menggenggam handgun yang ia simpan dalam saku jaketnya, untuk berjaga-jaga. Semakin dekat mereka dengan pintu tersebut, semakin ketiganya menyiapkan diri mereka untuk kemungkinan terburuk. Saat mereka membuka pintu ruangan tersebut, tidak ada siapapun disana. Arial melirik pada Rio, menyuruh ia dan Bima agar menunggunya sebentar sedangkan dirinya mengecek ke dalam ruangan itu. Arial masuk kedalam ruangan tersebut dan melirik ke arah kiri dan kanan, ia berdiri tepat di tempat sinyal itu berada. Arial menatap ke atas mencari alat Tracker Hostage yang ia tempelkan pada Luis. Nihil… Tidak ada alat itu di sana ataupun di lantai, Arial menatap pada kedua lelaki di ambang pintu tersebut dan menggelengkan kepalanya. “Nihil!” Ucapnya pada kedua lelaki itu, Rio membuang nafasnya dengan kecewa. Ia berjalan masuk menghampiri Arial dan bertanya padanya. “Apakah alat yang kau selipkan pada Luis adalah alat yang benar?” Arial mengangguk dan kembali membuka layar virtual miliknya, mengecek ulang apakah benar tempat ini yang ada di sana. “Ataukah alat itu rusak?” Bima yang penasara, ikut masuk ke dalam ruangan tersebut dan bertanya pada mereka berdua. Ia tidak sedikit menyipit ketika melihat sebuah cctv terpasang di pojok ruangan. Anehnya, mengapa ada satu cctv ketika di luar tidak terdapat sama sekali cctv?  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN