Yoesef mengambil Talkie box itu dan mengambil alih untuk melaporkan situasi pada Arial dan mengatakan bahwa Luis jatuh pingsan tanpa sebab. “Yoesef terhubung. Arial! Luis tiba-tiba tidak sadarkan diri. Kami masih menunggu di lokasi dengan peralatan yang sudah siap.”
“Baiklah Yoesef, kami sudah berada di gedung sebelah. Tunggu saja sebentar lagi!” Yoesef berjalan mendekati Andre dan Raihan yang mengangkat Luis ke pinggir gedung, setelah Arial memutuskan sambungan mereka.
“Yoesef, bagaimana ini?” Andre berdiri dari tempatnya dan menatap lelaki itu, Yoesef mendekati Luis untuk mengecek suhu tubuh lelaki itu. Suhu tubuh Luis sangat tinggi, menandakan adanya reaksi perlawanan terhadap infeksi atau bakteri dari dalam diri Luis.
“Apa ini efek karena serempetan peluru yang mengenai Luis tadi?” Raihan bertanya pada dua orang yang lebih tua darinya itu, mereka terdiam mendengar kemungkinan tersebut.
“Jadi maksudmu peluru yang di gunakan pihak militer tadi beracun?” tanya Andre pada Raihan yang mengangkat kedua bahunya. Raihan tidak tahu, karena ia hanya menebak dan tidak beranggapan bahwa ucapannya benar. Namun Yoesef terlihat mempertimbangkan kemungkinan itu dengan sangat serius.
Yoesef segera membuka kotak p3k yang ada dalam tas milik Raihan tanpa meminta izin anak itu, ia mencari apapun yang dapat ia gunakan untuk mengobati Luis. Tetapi saat ia membuka kota p3k itu, tidak ada apapun di dalamnya yang dapat ia gunakan. Disana hanya ada obat merah, sebuah perban, dan juga beberapa plester. Peralatan pengobatan yang sangat dasar.
“Sial!” Yoesef mengumpat, menutup kotak tersebut dan beranjak mengambil Talkie box miliknya. Yoesef hendak menghubungi Arial karena ia merasa ini merupakan sebuah situasi yang genting.
“Apa yang terjadi Yoesef?” pertanyaan yang Andre ajukan padanya, tidak ia jawab. Yoesef hanya mencoba untuk menghubungi Arial yang lebih berwenang di saat seperti ini. Saat sebelum sambungan itu terhubung, Arial dan Jonathan sudah terlebih dulu sampai menghampiri mereka semua.
“Bagaimana keadaannya Yoesef?” Arial yang baru saja datang, segera bertanya tentang keadaan temannya tersebut. Yoesef segera menghampiri wakil ketua tim itu, dan melaporkan apa yang terjadi.
“Aku curiga pihak pemerintah menggunakan racun dalam senjata mereka.” Arial menatap Yoesef dengan tidak percaya ketika ia membisikkan hal tersebut padanya. Arial segera menghampiri Luis dan melakukan hal yang sama dengan Yoesef sebelumnya, mengecek suhu tubuh Luis. ‘Sangat tinggi!’ Arial terkejut ketika mendapati suhu tubuh Luis yang sangat tinggi. Arial menatap pada seluruh anggota timnya, mencari sesuatu yang dapat ia gunakan untuk meredakan suhu tingginya Luis.
“Adakah dari kalian yang membawa obat atau… Apapun?” tanya Arial pada seluruh anggotanya, mereka menggelengkan kepala. Karena di saat seperti ini, mereka tidak pernah membawa hal semacam itu, obat-obatan selalu tersedia di dalam pesawat, namun kini tidak ada satu pesawat pun yang didekat mereka karena pesawat berada di block 5.
“Tenanglah Arial, Luis hanya terserempet peluru itu. Jadi kemungkinan racun itu tidak terlalu banyak masuk ke dalam tubuhnya.” Jonathan mencoba untuk menenangkan Arial yang terlihat panik saat ini. Namun, satu kalimat yang dikeluarkan Arial selanjutnya mampu membuat semua anggotanya terdiam.
“Bagaimana jika ini adalah racun yang berasal dari katak hijau? Meskipun hanya terkena sedikit, tetapi itu akan sangat mematikan!” Arial tidak berteriak saat mengucapkannya, tetapi penekanan yang penuh pada setiap katanya dapat menggambarkan betapa marahnya dia saat ini, ketika anggotanya menganggap hal tersebut bukan merupakan suatu masalah yang besar.
“Aku baik-baik saja Arial.” Saat mendengar ucapan tersebut, mereka semua menatap Luis yang ternyata sudah siuman dari pingsannya. Luis berusaha untuk bangun tetapi tubuhnya masih lemas dan kembali terjatuh ke posisi tidurnya. Arial dan Yoesef berlari untuk membantu Luis.
“Jangan! Kau tidak perlu bangkit dulu, Luis.” Yoesef mengatakan padanya dan membantunya untuk duduk bersandar pada tembok dengan sangat perlahan. Arial yang berada di sampingnya juga membantunya, dan mengambil air minum dalam botol yang ia bawa.
“Teruskan saja misi kita. Aku bisa melakukannya!” Luis menatap Arial, memintanya untuk meneruskan misi penyelamatan ini tanpa harus mengkhawatirkannya. Arial mengangguk setuju, pada keputusan yang di ambil Luis.
Arial segera berdiri dan mengambil ransel yang tadi sempat ia lepaskan, menatap Jonathan dan memintanya untuk menyambungkan Sambungan dengan tim Brian dan tim Faisal sebelum mereka melakukan misi selanjutnya.
“Sambungan menyeluruh terhubung dalam 3… 2… 1!” Jonathan menghitung mundur dan menyambungan seluruh sambungan antara seluruh anggota, sehingga seluruh anggota dapat berkomunikasi secara bersama-sama.
“Kssskk… Sambungan Masuk?” Arial langsung mengambil alih untuk mengecek apakah sambungan tersebut berhasil masuk pada seluruh tim di block 5 dan block 7.
“Tim Brian terhubung!” secara bersama-sama, seluruh anggota yang berada dalam tim Brian menjawab sambungan Arial, dan tidak lama setelahnya anggota tim Faisal yang menjawab sambungan tersebut.
“Kssskk… Tim Faisal terhubung!”
“Good!” Arial memuji kerja keras Jonathan, Daniel serta Luna sebagai Sambungan W.A.E Information system dalam misi penyelamatan tim Rio saat ini untuk membuat mereka terhubung dengan baik. Karena Arial tahu, saat ini ketiganya pasti sangat kewalahan menghubungkan mereka dan memantau pergerakan pihak militer pemerintah dalam waktu yang bersamaan. Tingkat misi ini mungkin sudah masuk kedalam misi tingkat tinggi yang pernah mereka temui, karena sebelumnya mereka belum pernah mengalami hal semacam ini saat melawan pemerintah.
“Lakukan tugas kalian sekarang!” Arial memberikan perintah pada kedua tim yang berada jauh dari pantauannya tersebut, secara bersamaan anggota tim Faisal dan tim Brian memberikan jawaban kepada Arial.
“Siap!”
“Baik!”
Arial melirik pada Jonathan yang duduk dengan layar virtualnya, dia memasukan beberapa kode-kode dan setelahnya munculah rekaman yang di dapat dari satelit milik W.A.E yang menunjukkan bagaimana pergerakan kedua tim itu.
Tim Faisal adalah tim yang berada di dalam heli pengamat, mereka berjumlah empat orang terdiri dari Faisal yang menjadi ketua sekaligus pilot dari heli tersebut, Angga yang merupakan co pilot, Luna seorang sambungan W.A.E di heli tersebut, dan seorang shooter handal bernama William.
“Luna, siapkan rute yang harus kita lalui!” Faisal dan para anggotanya sudah berada di dalam gedung dimana Zeino di tahan. Keempatnya berjalan dari tempat mereka mendaratkan heli mereka, perjalanan yang cukup jauh karena mereka tidak ingin pihak pemerintah mengetahui keberadaan mereka. Penyamaran adalah taktik terbaik yang dapat mereka lakukan saat ini. Mereka dapat bergerak dengan leluasa di dalam gedung tanpa di curigai sama sekali.
Luna berhenti dari langkahnya, membuat ketiga orang yang melindunginya itu pun ikut terdiam. “Lima meter di sebelah kanan adalah jalan kabur kita. Ingat-ingat itu!” Luna menjelaskan apa yang harus mereka lakukan. William mengambil sebuah sticker pengintai dan menempelkan itu pada pintu yang dimaksud oleh Luna. Kemudian mereka saling menatap dan mengangguk di saat yang hampir bersamaan.
“Arial, Kami akan melakukannya dalam hitungan Sepuluh!” Mereka berlari bersama-sama kearah selatan lorong-lorong dalam gedung tersebut.
“Sembilan…”
“Delapan…” Angga terus menghitung mundur di tengah langkah kakinya berlari, ia menghitung mundur persis seperti apa yang dikatakan oleh Faisal sebelumnya.
“Tujuh…” Langkah keempatnya berhenti saat mereka sampai pada sebuah pintu yang lebih lebar dari pintu-pintu lainnya. Mereka saling menatap kembali, menghela nafas mereka dan mengaturnya agar tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja berlari dari suatu hal.
“Enam…” Angga masih menghitung, namun suaranya lebih kecil dari sebelumnya, atau lebih tepatnya dia berbisik. Tangan William dan Faisal masing-masing menggenggam knot pintu lebar tersebut, dan menatap pada William juga Luna.
“Lima…” Mereka membuka kedua sisi pintu itu secara bersamaan, dan melangkah masuk kedalam kerumunan pihak militer pemerintah yang saat itu sedang beristirahat. Ruangan tersebut adalah kantin tempat para anggota militer makan siang.
“Empat…” Angga tetap menghitung ketika mereka berjalan kearah stan makanan. Mereka berjajar mengambil nampan makanan dan berbaris untuk mengambil makanan bersama dengan para pihak militer lainnya.
“Tiga…” Luna mendekatkan dirinya pada Faisal yang berada di samping kanannya, dan disamping kirinya Angga yang menghitung juga merapatkan dirinya pada Luna.
“Dua…” William yang berada di barisan paling pertama untuk mengambil makanan tersebut, dengan sengaja menjatuhkan nampannya ke bawah sehingga makanan dan buah-buahan segar miliknya jatuh menggelinding. Membuat Faisal, Luna dan Angga berjongkok untuk berpura-pura membantunya mengambil makanan, sendok, dan nampan itu.
“Satu!” Dan detik itu juga, suara ledakan terdengar sangat dasyat di gedung militer block 5, mengakibatkan seluruh kaca di dalam ruangan tersebut pecah. Situasi dalam ruangan itu menjadi kacau, beberapa orang segera berlari begitu sirine merah menyala. Faisal, Luna, Angga dan William pun segera berjalan menuju pintu kantin yang ada di sisi lain dari sisi kedatangan mereka sebelumnya.
To be continued