Luis yang berlari kearah Utara bersama tiga orang lainnya kini berada dalam sebuah gedung bekas perkantoran. Mereka berkeliling mencari jalan terdekat untuk sampai ke pusat pemerintahan, Luis melihat beberapa bercak darah diatas meja-meja kantor itu.
“Apa mereka menembaki masyarakat?” tanya Raihan, salah satu anggota tim yang ikut dengannya berlari kearah Utara. Luis menengok lelaki yang terlihat lebih muda darinya itu, kemudian menatap meja tersebut.
“Tidak ada yang tahu Raihan, kita tidak tahu.” Bukan Luis yang menjawab pertanyaan seram tersebut, melainkan salah satu anggota yang memakai ikat kepala berwarna hitam bertuliskan W.A.E berwarna merah. Ia menepuk bahu Raihan dan berjalan menuju ruang selanjutnya.
“Yoesef benar, kita tidak tahu.” Luis membenarkan perkataan Yoesef dan merengkuh bahu Raihan agar ikut berjalan bersamanya menuju ruang yang sudah Yoesef masuki terlebih dahulu.
“Yakinlah misi ini akan berhasil.” Luis memberikan ucapan positif pada Raihan, ia merasa melihat dirinya yang dulu ketika melihat anak tersebut. Mungkin ucapannya tidak akan berimbas banyak dan tidak akan menghilangkan ketakutan ataupun keraguan pada Raihan, tetapi setidaknya ia dapat memberikan sedikit saja ketenangan dan keyakinan untuk Raihan jadikan acuan hingga mengalahkan pemikiran negatifnya.
“Kssskkk… Luis masuk?” Suara Arial terdengar dengan jelas ditelinga keempatnya,
“Luis terhubung! Dimana posisi kalian?” tanya Luis yang memang tidak dapat menemukan posisi Arial dan Jonathan pada location detection miliknya, Yoesef segera mencoba mengecek apakah ada informasi posisi Arial dan Jonathan di location detection miliknya.
“Tidak terlihat, sepertinya ada sebuah kesalahan pada jaringan nya.” Ucap Yoesef, Luis mengangguk setuju dengan kemungkinan tersebut mengingat Jonathan telah mengaktifkan peledak beberapa saat yang lalu yang mungkin saja berimbas pada jaringan penghubung milik mereka.
‘Prang!’ Luis dan Yoesef segera menunduk bersembunyi dibalik meja yang ada dihadapan mereka, ketika mendengar lesatan peluru yang hampir mengenai wajah Luis. Yoesef meirik Raihan dan Andre yang ada dibelakang ruangan mereka, keduanya pun ikut bersembunyi ketika mendengar suara tersebut.
Luis memberikan aba-aba pada Andre untuk menyerang pihak keamanan, dalam hitungan tiga Andre berdiri, dan baku hantam pelurupun terjadi. Yoesef segera mengisi pelurunya membantu Andre menghadapi pihak keamanan tersebut. Sementara Luis merangkak berniat mendekati pihak keamanan dari samping.
“Luis laporan?” tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan Arial, Luis sekarang hanya fokus pada niatnya melumpuhkan satu anggota keamanan tersebut sebelum anggota lainnya datang. Ia menggenggam kuat handgun yang ada di tangannya, menarik nafas dengan dalam sebelum ia memunculkan diri dan menembak pihak keamanan tersebut tepat ditangannya. Tembakan nya berhasil membuat pihak keamanan itu kesakitan dan melempar senjatanya seraya meringis. Luis tidak tinggal diam, dia berlari mengambil balok kayu yang ada di lantai dan memukul tepat di tengkuk nya hingga pihak keamanan tersebut pingsan. Yoesef berlari menghampiri Luis, mengambil senjata milik pihak keamanan yang terjatuh tidak jauh dari tubuhnya dan mengambil alat komunikasi yang ada di sakunya. Ia menatap Luis yang mengangguk dengan luka di pipinya, Yoesef mematahkan alat komunikasi tersebut dan membuangnya kemudian berlari mengikuti Luis yang menghampiri Raihan dan Andre.
“Luis kau teruka!” Andre terkejut melihat darah yang mengalir di pipi Luis, lelaki tersebut hanya mengusap pipinya dan melihat darah yang ada di tangannya.
“Aku punya antiseptik…”
“Lupakan! Kita harus menjauh dari sini terlebih dahulu!” Luis menarik tangan Raihan yang hendak membuka tas mengambil antiseptik untuknya, ia berlari menuju gedung perkantoran yang berada di samping dengan cepat karena merasa pihak keamanan akan datang kelokasi akibat suara baku hantam peluru sebelumnya.
“Analisis dimana Luis dan yang lainnya saat ini?” Arial berucap pada Jonathan yang duduk disampingnya, ia cukup merasa khawatir ketika mendengar suara letupan senjata saat ia berbincang dengan Luis. Meskipun mereka cukup kelelahan karena terus berpindah untuk menghindari pihak keamanan yang jumlahnya tidak sedikit, namun mereka harus tetap meyakinkan bahwa tim lain baik-baik saja.
Lama Jonathan bergelut dengan layar virtualnya, akhirnya ia bernafas lega. “Yes!” desisnya, Arial melirik layar tersebut. Tanda merah tersebar sangat banyak menandakan jumlah dari pihak keamanan, sementara mereka berwarna hijau yang hanya ada 6 titik saja.
“Mereka sudah dekat dengan kantor pusat!” Jonathan memberi tahu pada Arial, ia mengangguk sebagai respon kemudian berdiri dari tempatnya.
“Kami baik-baik saja, Arial. Tadi ada sedikit kendala, kami berada di…”
“Kami sudah mendapatkan lokasi kalian. Luis, tunggulah disana! Kita akan menyusul dan siapkan saja seluruh peralatan!” Arial menyela laporan Luis, karena ia sudah mendapatkan informasi tentang posisi mereka. Maka ia segera memberikan perintah untuk mempersingkat waktu, Luis pun mengiyakan dibalik earphone tanpa banyak berprotes. Kemudian ia dan Jonathan berlari menuju tempat Luis dan anggota lainnya bersiap.
“Brian masuk?” Arial mencoba kembali menghubungi tim Brian yang sempat terganggu tadi seraya mengikuti Jonathan yang lebih mengetahui arah didepannya.
“Brian terhubung! Bagaimana?” tanyanya menunggu aba-aba Arial untuk melakukan tindakan selanjutnya.
“Tunggu sebentar lagi, kalian bersiap-siaplah! Dan hubungkan kami dengan tim Faisal, Jonathan sedang sibuk menunjukkan jalan disini. Tolong lakukan sesegera mungkin!” pinta Arial, ia mengerti betapa sibuknya Jonathan saat ini, dan Daniel pasti dapat melakukan penghubungan dengan cepat karena Daniel adalah salah satu orang terbaik dari pihak sambungan W.A.E.
“Sambungan terhubung dalam 3… 2… 1.” Benar saja, Daniel menginformasikan bahwa sambungan sudah terhubung dengan tim Faisal, tim yang bertugas menyelamatkan Zeino di block 5 wilayah utara degan sangat cepat.
“Faisal terhubung!” sebelum Arial berucap, pilot dari pesawat heli itu telah mendahuluinya untuk melapor.
“Good! Bersiaplah Faisal, nanti aku akan memberikan aba-aba kembali.” Arial tersenyum puas di tengah ucapannya, Faisal mengiyakan. Arial berhenti saat Jonathan didepan sana tiba-tiba bersembunyi dibalik bus yang terparkir, kemudian ia segera bersembunyi dibalik tembok bekas bangunan kantor.
Luis membersihkan luka akibat serempetan peluru tadi, ia menggunakan plester yang Raihan berikan padanya dan mengecek keadaan anggotanya satu persatu. Memastikan jika tidak ada yang terluka dari mereka, karena dialah yang bertanggung jawab atas nyawa anggotanya saat ini.
“Kami baik-baik saja Luis, tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Yoesef berucap ketika melihat wajah Luis yang menampakkan raut tidak tenang. Yoesef adalah bagian dari tim W.A.E devisi keamanan yang sudah berulang kali menjadi ketua tim dalam tim lain, dan ia mengerti bagaimana kekhawatiran yang Luis rasakan di saat seperti ini. Lelaki tersebut berhenti melangkah dan melirik Yoesef yang tersenyum seraya mempersiapkan peralatan yang dibawanya didalam ransel tadi.
“Aku terlihat buruk kan?” Tanya Luis pada Yoesef, lelaki itu melirik sekilas pada Ketua tim nya saat ini. Kemudian ia menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju dengan ucapan sang Ketua.
“Untuk lekaki seusia mu, mempimpin orang sebanyak ini termasuk memimpinku? Kau tidak buruk. Kau salah satu dari yang terbaik.” Luis tersenyum mendengar pujian tersebut, namun saat itu ia merasakan kepalanya sedikit pening dan pengelihatannya berkunang. ‘Apa karena ia kekurangan darah?’ Luis berpikir, ia tidak memperlihatkan kondisinya itu karena ia takut jika hal tersebut dapat mempengaruhi misi ini. Jadi Luis hanya diam dan duduk untuk memulihkan rasa peningnya.
“Luis, Masuk?” Talkie box milik Luis bersuara, Arial berusaha menghubunginya. Mungkin dia ingin memberitahu bahwa Arial sudah dekat dengan mereka, atau mungkin hal lain telah terjadi. Luis mengambil Talkie box itu dan hendak menjawab sambungan tersebut. Namun rasa pening di kepalanya kembali melanda bahkan tidak tertahankan, membuat tubuhnya yang hendak berdiri terhuyung kedepan dan terjatuh dengan keras ke atas tanah. Luis jatuh pingsan tepat di depan seluruh anggota nya, membuat kepanikan terjadi disana.
To be continued