“Yahmar!” seseorang memanggil dengan berteriak pada lelaki tinggi yang memiliki mata besar dan rambut berwarna coklat itu. Lelaki yang memiliki nama Yahmar tersebut berbalik menatap pada Sofian, teman terdekatnya.
Hari ini adalah hari dimana Ayah dari Yahmar, Yamir Nabda, Resmi kembali di angkat menjadi Presiden negara. Yamir Nabda, sudah dua kali mejabat dan kali ini adalah kali ketiganya ia kembali terpilih menjadi seseorang yang terpercaya untuk memimpin negara. Tidak banyak kebanggaan yang di tunjukkan oleh Yahmar, ia hanya bersikap seperti biasanya dan seolah-olah tidak ada yang terjadi.
“Sofian?” Yahmar kembali berjalan menuju stadium untuk menonton pertandingan Football Internasional, sekolahnya adalah sekolah yang mewakilkan negara mereka di ajang bergengsi itu, dan hari ini adalah hari dimana para perwakilan hebat itu bertanding. Maka sebagai dukungan untuk seluruh pejuang, sekolah membuat jadwal agar para mahasiswanya menonton pertandingan secara bersama-sama di stadium sekolah. Melalui layar besar yang telah mereka sewa dan mereka hubungkan dengan siaran langsung di sana.
“Aku membawakan beberapa makanan untuk kita makan saat pertandingan nanti. Ngomong-ngomong, apakah kau tidak menghadriri upacara pengangkatan Ayahmu?” Sofian terlihat bingung ketika ia menyadari bahwa Yahmar mengenakan baju casual dan lebih memilih berada di sini ketimang menghadiri upacara pengangkatan sang Ayah, ‘Sang Presiden’.
“Aku lebih baik mendukung sekolahku dari pada berada di sana, lagi pula aku sudah merasakan bosannya upacara itu sebanyak dua kali. Itu sudah cukup, aku tidak ingin ada untuk yang ke tiga kalinya.” Sofian tertawa karena mendengar ucapan Yahmar tersebut, ia memberikan dua kaleng soda kepada Yahmar karena tangannya penuh dengan makanan ringan.
“Kau bisa saja!” Sofian menyenggol bahu Yahmar dengan pelan, dan melanjutkan langkahnya untuk masuk ke stadium sekolah.
“Yahmar! Cepatlah sebelum kita kehabisan kursi!” Yahmar menggelengkan kepalanya melihat sang teman berlari masuk menerobos kerumunan di depan pintu masuk.
“Kita tidak akan kehabisan kursi di stadium, Bodoh…” Yahmar bergumam serayaa tersenyum karena tingkah temannya itu, yang membuat perutnya terasa di aduk-aduk geli. Saat kerumunan itu belum berkurang, Yahmar hanya terdiam jauh di belakang dan menunggu sampai ia bisa masuk tanpa harus berdesak-desakan. Saat ia hendak melangkah ke arah pintu masuk karena kerumunan sudah mulai berkurang, saat itu pula smartphone miliknya bergetar. Yahmar terdiam dan merogoh saku celananya, melihat layar smartphone yang bertuliskan ‘Mama’.
Yahmar sempat menghela nafasnya sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut, ia bersandar pada tembok yang berfungsi sebagai tiang-tiang bangunan stadium di sana.
“Halo Ma, Ada apa?” Itulah pertanyaan pertama yang Yahmar ucapkan, meskipun ia sendiri tahu apa alasan Mama nya memanggilnya saat ini.
“Yahmar, apa kau lupa hari ini Ayahmu dilantik untuk menjadi pemimpin kembali? Kamu diaman? Nanti Mama suruh Pak Doko jemput kamu.” Dengan nada lembut tanpa emosi di dalamnya, Mama Yahmar mengatakan hal tersebut. Yahmar menghela nafasnya sekali lagi, dan itu terdengar jelas di telinga sang Mama.
“Ada apa?” Pertanyaan yang saat ini keluar dari mulut sang Mama terdengar begitu serius dan khawatir, membuat Yahmar segera menggelengkan kepalanya meskipun tidak dapat terlihat oleh sang Mama yang jauh di sana.
“Maaf, Ma… Yahmar lupa konfirmasi ke Mama, kalau hari ini Yahmar ada pertemuan mendadak di kampus. Ga apa-apa kan kalu Yahmar ga hadir di upacara itu kali ini?” Yahmar sebisa mungkin berkata lembut pada sang Mama tercinta, meskipun ia tidak menyukai acara seperti upacara itu dan pengangkatan Ayahnya, tetapi ia tetap harus bersikap hormat pada kedua orang tuanya. Jadi Yahmar sebisa mungkin mencari alasan agar ia diperizinkan untuk tidak hadir pada upacara yang membosankan itu.
“Okay, tidak apa-apa Yahmar. Ayahmu pasti mengerti, semoga pertemuanmu lancar ya. Jangan lupa untuk makan siang dan pulang sebelum tengah malam ya!” Yahmar mengangguk kembali mendengar izin dari Mamanya tersebut.
“Okay Ma, Bye… Love you.” Yahmar segera mematikan smartphone miliknya dan berjalan kearah pintu masuk yang telah sepi, ia memasuki area stadium yang terlihat sangat penuh. Menengok kearah kanan dan kiri, mencari lelaki yang bernama sofian yang memiliki tubuh lebih pendek darinya.
Ia berhenti saat melihat sebuah tangan dengan jam tangan limited edition pemberiannya melambai-lambai di udara. Yahmar tersenyum dan berjalan melewati beberapa kursi yang sudah terisi oleh para wanita dan lelaki. Ia tidak lupa untuk tetap mengucapkan kata ‘Permisi’ setiap kali ia melewati orang-orang itu.
“Lama sekali, ada apa?” Tanya Sofian padanya, Yahmar hanya menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan santai bahwa dirinya menunggu agar pintu masuk kosong dari orang-orang. Sofian mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti bagaimana sifat temannya ini, ia merebut kaleng soda yang ada di tangan Yahmar dan membukanya.
“Kudengar jika kita berhasil memenangkan pertandingan ini, pihak kampus akan memberikan sebuah pesta meriah di Paradise Tower.” Sofian mengucapkannya dengan sangat antusias, sementara Yahmar hanya menanggapinya dengan deheman ringan.
“Hm…” Sebenarnya Sofian kesal mendengar tanggapan yang seperti itu, tetapi ia tidak dapat berkomentar apapun. Karena ia mengetahui kepribadian Yahmar yang pendiam menjadilkan dirinya seperti itu.
Pertandingan itu di mulai, seluruh mahasiswa berteriak dan menyemangati secara bersama-sama meskipun teman mereka yang sedang bertanding tidak dapat mendengarkan teriakan itu. Yahmar tentu menikmati setiap momen itu, ia memang lebih memilih untuk berada di sini dari pada berada di upacara kepresidenan yang membosankan.
Saat pertandingan sudah berjalan setengahnya, tiba-tiba layar besar itu mati,
‘Beeeeeeeeeepppppppp’ dan suara yang sangat nyaring terdengar di telinga mereka semua membuat kepnikan untuk beberapa orang. Yahmar dan Sofian menutup telinga mereka dengan keras sama seperti anak-anak lainnya. Layar tersebut berubah menjadi merah dan menampilkan sebuah video menakutkan, yang di iringi sebuah suara seorang wanita yang menjelaskan apa yang terjadi pada Bumi yang mereka tempati saat ini. Seluruh Mahasiswa di arena stadium itu perlahan menurunkan tangannya untuk membuka telinga mereka.
Video itu tidak terlalu singkat dan tidak terlalu panjang, namun video itu mampu membuat mereka semua terdiam. Satu stadium terdiam, mengakibatkan suasana hening. Beberapa detik kemudian tayangan pertandingan kembali terputar, namun tidak membuat keheningan itu berlalu. Yahmar menatap pada Sofian yang terlihat tidak tenang, ia juga mendengar suara bisikan dari orang-orang di samping kirinya yang berbisik kecil mengkhawatirkan nasib mereka.
“Ayo kita keluar dari sini.” Yahmar berdiri, memutuskan untuk mengajak Sofian keluar dari stadium dan menenangkan diri mereka. Tapi sepertinya bukan hanya Yahmar yang berpikiran seperti itu, banya orang yang sudah berdiri dan memilik keluar dari stadium mengakibatkan antrian di pintu keluar. Yahmar kembali mendudukkan dirinya di samping Sofian yang masih terdiam di kursinya.
“Yahmar…” Sofian memanggil temannya itu, membuat sang pemilik nama menengok dan menatapnya yang terlihat shock.
“Kau baik-baik saja Sof…”
“Apa yang harus kita lakukan?” Ucapan Yahmar terpotong dengan pertanyaan Sofian, lelaki itu terlihat ketakutan. Tangannya juga bergetar, Yahmar menyadari perubahan warna wajah Sofian yang menjadi pucat. Yahmar kembali berdiri dan menarik Sofian untuk mengikuti langkahnya keluar dari stadium tersebut meski harus berdesakan di kerumunan. Hal yang sebenarnya sangat Yahmar benci, namun ia lalui ketika ia merasa ia harus menyelamatkan temannya.
To be continued