Yahmar Nabda part 2

1357 Kata
Satu hari, dua hari, bahkan lima hari setelah kejadian itu, Yahmar tidak bisa berhenti untuk tidak merasa tenang. Hatinya gelisah, pikirannya mengatakan bahwa dia harus membawa semuanya dengan santai, namun hatinya tidak mengizinkan itu. Yahmar bahkan tidak bisa tidur untuk tiga hari terakhir, membuat kondisi kesehatannya menurun meski tidak memburuk. Berbeda dengan Sofian yang jatuh sakit setelah kejadian itu. Yahmar berjalan di sepanjang koridor kampusnya, ia berjalan dengan sangat pelan. Kepalanya menunduk ke bawah, memikirkan apa yang harus ia bawa untuk menjengu Sofian di rumah sakit. “Yahmar!” Yahmar berbalik mendengar namanya terpanggil, ia melihat seorang lelaki datang menghampirinya dengan berlari. Yahmar mengetahui nama lelaki itu, tetapi ia tidak pernah berbicara dengannya selama ia bersekolah di kampus ini. “James, benar?” Tanya Yahmar, memastikan bahwa dirinya benar. Lelaki itu mengangguk mengonfirmasi bahwa benar, dirinya adalah James. Lelaki itu terengah-engah di hadapan Yahmar, hal tersebut tidak mengganggu sama sekali, tetapi hal yang membuat mata Yahmar menyipit adalah data yang sedang di pegang oleh lelaki itu. Sebuah poster berlatarkan langit biru yang di tengahnya terdapat gambar Bumi. “Apa itu?” Yahmar menunjuk pada data yang James pegang. Lelaki yang sedang terengah itu pun melihat ke arah data yang sedang ia pegang. “Oh… Ini adalah Poster yang akan ku sebar, tetapi… Kurasa aku akan menawarkannya saja secara langsung, dari pada menyebarkannya.” James menjawab pertanyaan Yahmar, membuat lelaki itu mengangkat sebelah alisnya. “Apa itu?” Kembali, Yahmar bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan maksud yang berbeda. James, lelaki yang ternyata berasal dari jurusan ke militeran itu mendegapkan badannya dan menghembuskan nafas agar nafanya kembali stabil. Dia mengangkat poster tersebut ke atas, agar Yahmar dapat melihatnya dengan jelas. Ya… persisi seperti apa yang Yahmar lihat sebelumnya, itu adalah sebuah gambar langit dengan gambar Bumi di tengahnya. Namun berbeda dari kenyataan yang ada, langit yang ada di gambar tersebut berwarna biru. ‘Editan yang cukup memukau!’ pikir Yahmar ketika ia melihat indahnya langit ketika mereka berwarna biru. Oh, dan Yahmar baru menyadari adanya sebuah tulisan dalam poster tersebut. “Bring Our Sky Back!” Yahmar mengerenyit bingung sekaligus terkejut ketika ia membaca tulisan tersebut bersamaan dengan James yang mengatakannya dengan lantang. “Aku dan beberapa orang lainnya akan mendirikan komunitas ini, kau melihat video yang terputar beberapa hari yang lalu kan?” Yahmar menatap pada James yang terlihat sangat ramah dengan senyuman di wajahnya. Yahmar menganggukkan kepalanya dengan pelan, membenarkan pertanyaan James padanya. “Kalau begitu, apakah kau merasa tidak tenang? Ingin berontak? Ingin berlindung? Ingin…” “Tunggu sebentar James!” James terdiam ketika Yahmar mengangkat telapak tangannya tepat di depan wajah lelaki itu, dan mengintrupsi pertanyaan-pertanyaannya. “Aku masih tidak mengerti!” Yahmar berucap, James menurunkan poster virtual yang ada di tangannya tersebut dan menatap pada Yahmar. “Apa yang tidak kau mengerti? Perasaan yang kau rasakan?” Yahmar menggelengkan kepalanya, dan menyilangkan kedua tangannya, memberi tahu pada James bahwa buka itu yang membuatnya tidak mengerti. “Lalu apa?” James kembali bertanya, ia bingung dengan lelaki di hadapannya ini. “Bring Our Sky Back? Apa maksudmu dengan kembalikan langit kita?” Yahmar menyipit, James tertawa mendengar pertanyaannya. Kemudian lelaki itu mengangkat kembali poster virtualnya. “Kau belum mengetahui kah? Ini adalah langit yang kita miliki beberapa ratus tahun yang lalu. Indah bukan? Komunitas yang akan kami bangun memiliki visi untuk mengembalikan ini kepada kita. Kita selamatkan semuanya sebelum terlambat!” James menjelaskan seraya menunjuk-nunjuk gambar langit berwarna biru itu. Yahmar terdiam ketika mendengar ucapan tersebut, ia terejut mendengar ada sekelompok orang yang ingin membangun komunitas seperti ini. “Ingin bergabung?” James mengulurkan tangan kanannya, menawarkan hal tersebut pada Yahmar. Yahmar untuk bebrapa saat berpikir, beragumen dengan hati dan pikirannya. “Boleh aku meminta nomormu? Aku akan menghubungimu ketika aku ingin bergabung.” Bukan menyambut uluran tangan tersebut, Yahmar justru mengeluarkan smartphone miliknya dan meminta nomor James. Lelaki itu tersenyum, membuka tab miliknya dan memngirimkan nomor miliknya dalam sekali sentuhan. “Sure!” Jawabnya, Yahmar tersenyum ketika mendapatkan nomor ponsel James. Lelaki dari kejurusan militer itu cukup ramah menurutnya, di mana ketika anak militer lainnya terlihat garang dan menakutkan. “Thank you.” “Don’t mind, semoga kau memutuskan untuk bergabung dengan kami!” Lelaki itu menepuk bahu kanan Yahmar dengan pelan. Sebelum ia pergi meninggalkannya dan berjalan menuju koridor lainnya. Yahmar tertunduk menatap smartphone miliknya, ia kembali berjalan menuju pintu keluar kampus untuk menjenguk Sofian. Di perjalanan menuju rumah sakit, Yahmar menghentikan mobilnya dan membeli beberapa makanan untuk Sofian. Ketika ia sampai di depan rumah sakit, smartphone miliknya bergetar. Namun Yahmar mengabaikannya, ia berjalan dari tempat parkir menuju rumah sakit. Langkahnya memelan ketika Yahmar kembali melihat berita tentang kematian salah seorang pelaku penyebaran video ilegal yang terjadi. Ia tahu beritanya saat malam hari di rumah, beberapa orang bereaksi keras dan mengutuk para pelaku namun beberapa orang lainnya berkabung dan menyebut mereka adalah pahlawan yang telah membuka mata mereka. Keadaan politik memanas, sang Ayah terlihat stress di rumahnya karena beberapa perusahaan pertambangan memilih untuk menghentikan kegiatan mereka. Yahmar pernah melihat sebuah aksi di jalan yang mengatakan bahwa mereka kecewa pada pemerintah dan perusahaan pertambangan karena telah berbohong mengenai keadaan Bumi. Dan sehari berikutnya aksi tersebut terhenti, hilang di telan bumi. Tidak ada berita ataupun laporan mengenai aksi itu di hologram news yang Yahmar cari. Ia merasa seperti hanya dirinya yang melihat aksi itu, padahal banyak orang yang mengetahuinya. Mungkin itu adalah sebuah konspirasi politik, yang Ayahnya lakukan. Bukan tanpa sebab Yahmar menuding sang Ayah, tetapi ketika semakin lama ia terjun ke dalam lingkaran pemerintahan. Yahmar semakin menyadari banyaknya lubang-lubang yang tertupi oleh keputusan-keputusan hitam yang menjadikan nya seolah sempurna. Yahmar tidak menyukai itu, ia membenci hal itu. Ia merasa Ayahnya telah banyak berubah karena jabatan dan uang. “Sofian?” Yahmar bertanya pada resepsionist, dan menunggu jawaban seraya tetap menggenggam sebuket bunga sintetis dan sekeranjang makanan. Resepsionist itu tersenyum menyadari orang yang tengah ia layani adalah anak dari seorang presiden. “Lantai 80 ruang TCP.” Yahmar mengangguk dan mengucapkan ‘Terimakasih’ pada sang resepsionist seraya membalas senyumannya. Yahmar melangkah memasuki Lift dan berjalan menuju ruang TCP di mana sofian di rawat. Ketika ia mengetuk pintu kamar dan membukanya, ia terkejut melihat Sofian yang sudah berdiri di ambang jendela. “Sofian!” Yahmar menjatuhkan seluruh barang bawaan ditangannya dan berlari untuk menarik Sofian turun dari jendela itu, dan untungnya Yahmar berhasil. Ia dan Sofian terjatuh keatas lantai, ia hendak menegur sekaligus memaki temannya tersebut. Tetapi ketika ia menyadari bahwa Sofian menangis, ia mengurungkan niatnya tersebut. Dia hanya memeluk temannya itu sampai keadaannya mulai membaik. “Apa yang… Apa yang membuatmu bertindak seperti ini?” Yahmar yang awalnya ragu untuk bertanya, kini memilih untuk langsung menanyakan penyebab temannya tersebut bertindak nekat. “Yahmar… Kita akan mati! Aku takut! Yahmar, bagaimana ini?!” Yahmar terkejut ketika mendengar jawaban Sofian, lelaki itu menjawabnya sambil menangis meraung-raung. Yahmar segera menghampirinya dan menenangkannya, memeluknya untuk menghentikan tangisan itu. “Sofian… Dengarkan aku! Kita akan merubahnya! Kita kembalikan Bumi kita yang sehat, agar kita semua selamat! Okay?” Sofian terdiam, tangisannya menghilang perlahan. Ketika mendengar ucapan Yahmar yang mengajaknya merubah bumi menjadi lebih baik. “Bagaimana caranya?” Sofian bertanya, Yahmar berdiri dari posisinya dan mengambil smartphone miliknya. Saat meminta nomor pada James siang tadi, ternyata lelaki itu tidak hanya memberikan nomor padanya. Ia juga memberikan poster yang indah itu, membuatnya bersyukur karena ia telah mengirimkannya. “Kita akan mendirikan komunitas ini.” Sofian terdiam melihat poster tersebut dan melirik pada Yahmar bergantian. “Apa itu?” Sofian bertanya, sama persis sepertinya yang bertanya seperti itu pada James tadi. Yahmar tersenyum, dia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Sofian. “James, anak kejurusan militer itu yang memberitahukan aku tentang ini. Dia mengajakku untuk bergabung dengan komunitasnya, dan ini… Ini adalah langit yang kita lihat sekarang beberapa ratus tahun yang lalu.” Yahmar menunjuk langit biru dalam gambar tersebut, Sofian terlihat takjub dengan pemandangan gambar tersebut kemudian melirik ke luar jendela menatap langit yang merah. Langit yang sebenarnya memiliki kesan menyeramkan itu, jauh berbeda dengan langit biru yang menenangkan yang ada dalam gambar yang Yahmar tunjukkan. “Aku… Ingin melihat langit seperti itu Yahmar.” Sofian menatap pada Yahmar dengan sedih, ia menyesal karena tidak pernah menyadari keadaan Bumi yang mereka pijaki kini sedang dalam keadaan kritis. “Aku juga, Sofian. Kita perbaiki Bumi ini bersama, okay? Kita jadikan Bumi ini menjadi tempat teraman untuk kita. Okay?” Sofian mengangguk mengiyakan ajakan Yahmar. Itulah percakapan terakhir yang mereka lakukan hari itu, Yahamar pulang ke rumahnya setelah Sofian tertidur karena obat yang dokter berikan.  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN