Yahmar Nabda part 3

1165 Kata
Di dalam kamarnya, Yahmar berulang kali menatapi nomor James dalam smartphone miliknya. Ia ingin mengatakan kesiapannya untuk ikut komunitas itu, tetapi di sisi lain ia juga memiliki keraguan dalam hatinya. “Yahmar!” Yahmar terlonjak kaget, ketika pintu kamarnya terbuka dengan tiba-tiba. Mamanya berjalan masuk dan tersenyum padanya, di tangannya ia membawa sebuah bungkusan yang terlihat sangat besar. Yahmar menaruh smartphone nya di atas kasur dan beranjak mengambik bungkusan yang terlihat berat itu dari tangan Mamanya. “Apa ini?” Tanyanya, menyimpan bungkusan itu di atas meja belajarnya yang rapi. Ia melirik pada sang Ibu yang tersenyum duduk di atas kasurnya, di samping smartphone miliknya. Yahmar segera mengambil smartphone miliknya dan menyimpannya di bawah bantal agar Mamanya tidak melihat apa yang sedang ia lakukan. “Aw… Apa yang kau sembunyikan dari Mama?” Yahmar hanya tersenyum canggung mendapati pertanyaan itu, namun sepertinya sang Ibu tidak memikirkan apa yang Yahmar khawatirkan. Wanita itu berdiri dan mengelus lembut kepala Yahmar sebelum akhirnya keluar dari kamar Yahmar. “Itu adalah baju terbaru yang Mama belikan untukmu dan Sofian, kudengar ia sakit. Jadi berikan dia hadia itu okay?” Itulah ucapan yang Yahmar terima dari Mamanya.   Pagi telah datang, Yahmar kembali menatap layar smartphone miliknya di atas kasur. Ia terus memikirkan apa yang harus ia lakukan, apakah ia harus menghubungi James hari ini atau dia masih membutuhkan waktu untuk kembali berpikir? Ketika ia membalikkan tubuhnya kesamping kanan, Yahmar menatap pada kantung hadiah yang Mamanya titipkan untuk Sofian. ‘Sofian…’ Seketika ia mengingat janjinya pada temannya tersebut, ia segera menekan tombol hijau pada nomor James untuk meneleponnya. “Halo?” Suara parau James terdengar di telinga Yahmar, tentu saja hal itu terjadi mengingat waktu masih sangat pagi untuk seseorang menelpon orang lain. “Hm… Maaf mengganggumu! Aku, Yahmar.” Yahmar menyampaikan maafnya pada James ketika ia merasa telah mengganggu tidur lelaki itu, ia juga merutuki dirinya yang menekan tombol hijau itu sepagi ini. “Ah… Oh ya, Yahmar! Bagaimana?” Tetapi dari suara James yang tiba-tiba berubah menjadi segar itu membuat Yahmar sedikitnya bernafas lega, setidaknya lelaki itu tidak merasa keberatan atas panggilan pagi yang ia buat ini. “Em… Aku akan bergabung denganmu, tetapi aku membawa temanku. Apakah…” “Great!” Yahmar terkejut mendengar teriakan James yang memotong ucapannya. Yahmar refleks menjauhkan smartphone itu dari telinganya, karena suara James benar-benar keras. “Kita akan melakukan pertemuan pertama hari ini, apa kau ada kelas hari ini Yahmar?” James bertanya, Yahmar melihat jadwalnya yang ia tulis di dalam electronotes yang tersimpan di atas meja. “Aku hanya memiliki satu kelas hari ini, pada pukul dua siang. Kapan pertemuan nya di selenggarakan?” Yahmar bangkit dari tidurnya dan duduk seraya mengacak-acak rambutnya, menunggu penjelasan lebih lanjut dari James tentang pertemuan ini. “Oke, setelah kelasmu selesai. Kabari aku kembali, aku akan memberikan lokasi pertemuannya nanti.” Yahmar mengerenyitkan dahinya, ‘Jadi dia menunggu jadwalku?’ pikir Yahmar ketika mendengar jawaban James yang seperti itu. “Tunggu, apakah kau menunggu jadwalku?” Yahmar langsung menanyakan hal itu, karena menurutnya lebih baik ia bertanya dari pada ia merasa penasaran dan menerka-nerka. “Hahaha… Iya, karena aku dan anggota lainnya yang sudah masuk komunitas, tidak memiliki jadwal di hari ini.” Yahmar menganggukkan kepalanya, meski lelaki yang bernama James tersebut tidak bisa melihat hal itu. “Kau tidak keberatan kan, Yahmar?” James kembali berucap menanyakan kesediaan Yahmar. “Oh, iya… Aku baik-baik saja dengan itu.” Jawaban dari Yahmar itu menjadi penutup percakapan mereka, membuat lelaki yang berstatus anak seorang presiden ini kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan bernafas dengan lega. “Padahal hanya mengatakan hal seperti itu, tetapi mengapa aku merasa seperti mengambil keputusan terbesar dalam hidupku?” Yahmar bergumam pada dirinya sendiri seraya menutup matanya dengan seluruh lengan bagian kakan. “Keputusan apa?” Lagi-lagi Yahmar terkejut dengan kedatangan sang Ibu yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Kali ini sebuah nampan berisi sarapan pagi ia berikan untuk anak tunggalnya tersebut. Yahmar bangkit dari posisi terbaringnya, menatap sang Ibu yang tersenyum menaruh nampan di atas meja belajarnya setelah ia menurunkan kantung yang tadi malam ia bawakan untuk Yahmar dan Sofian. “Mama, ketuklah pintu saat masuk kamarku.” Yahmar meminta pada sang Ibu untuk sedikit memberinya privasi dalam kamarnya dan agar dirinya tidak menjadi seseorang yang mengidap penyakit jantung karena terus di kagetkan oleh sang Ibu. “Oh… Sekarang kamu sudah berani menyembunyikan rahasia dari Mama, ya?” ucap sang ibu pada Yahmar. Dengan sebuah senyuman merayu, Yahamar menghela nafasnya dan membenarkan posisi duduknya di atas kasur. “Bukan seperti itu, Mama. Aku hanya terkejut karena Mama selalu dengan tiba-tiba menyahuti seluruh perkataanku.” Ucap Yahmar beralasan, ia memberikan alasan karena ia ingin apa yang ia putuskan tidak di ketahui oleh sang ibu. Tidak untuk saat seperti ini, karena jika semuanya membaik, Yahmar akan menceritakan semua yang dia alami pada sang Ibu. “Baiklah, habiskan sarapan pagimu!” Yahmar mengangguk pada sang Ibu yang kini berjalan keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Yahmar menghela nafasnya dengan lega, ia menatap kembali ke layar smartphone miliknya dan melihat pada jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.   Pada pukul empat sore, Yahmar sudah selesai dengan seluruh kelasnya. Ia mengeluarkan smartphone miliknya kemudian memberi pesan kepada James, persis seperti apa yang lelaki itu perintahkan tadi pagi. ‘Hi, James. Kelasku baru saja selesai, dimana dan kapan kita akan memulai pertemuannya?’ Itulah isi pesan yang Yahmar kirimkan pada James, kemudian dia menyimpan kembali smartphone miliknya itu. Berniat berjalan ke arah kantin kampus, untuk membeli beberapak makanan untuk dirinya sendiri. Namun, baru saja Yahmar berjalan beberapa langkah, smartphone miliknya berdering. Ia segera mengambilnya dan melihat ternyata James memanggilnya. Tentu saja, Yahmar mengangkat panggilan yang sekarang menjadi salah satu panggilan penting itu. “Halo?” Tanyanya, James yang berada di balik panggilan tersebut membalas Yahmar dengan sapaan. “Hi, Yahmar. Kita berkumpul di aula basket saja, aku sudah meminta izin dari pihak kampus untuk menggunakannya. Oh iya, kami semua juga sudah berkumpul sekarang. Kemarilah!” Itulah hal yang James katakan pada Yahmar, yang membuat lelaki itu mengurungkan niat untuk pergi ke kantin. Ia berbalik untuk melangkah menuju aula basket dan hanya mengambil air minum di dalam tasnya yang ia bawa. Yahmar merasa gugup ketika dirinya sudah sampai di depan aula basket, ia menatap pintu aula yang tertutup itu, menelan ludahnya sendiri sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melangkah dan membuka kedua daun pintu yang tertutup. ‘Cleck’ Suara pintu itu terdengar nyaring di telinga Yahmar, saat ia melihat ke arah dalam aula. Disana terdapat sekitar dua atau tiga puluh orang yang telah berkumpul termasuk James. Mereka semua melirik padanya, dan menatapnya. “Yahmar!” James berdiri dari duduknya dan berjalan untuk menjemput Yahmar. Lelaki itu melihat beberapa orang yang berbisik dan terkejut dengan kedatangannya. Mungkin mereka bertanya-tanya mengapa anak seorang presiden, keluarga yang berhubungan langsung dengan pemerintahan, yang telah mengecewakan sebagian orang, ada di dalam perkumpulan ini? Itulah prasangka yang Yahmar pikirkan saat ia berjalan menghampiri mereka semua. Namun berbada dari apa yang dia pikirkan, ketika ia mendengar salah satu bisika-bisikan di antara mereka. ‘Oh, dia sangat tampan.’ Itulah perkataan yang terdengar di telinganya. Membuat Yahmar kini lebih merasakan malu dari pada emosi atau perasaan negatif lainnya. James menunjuk sebuah kursi di barisan paling depan untuk Yahmar tempati, dan dia sendiri mengambil keputusan untuk berdiri menghadap seluruh anggota perkumpulan itu. “Selamat datang…”  To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN