Arial berlari ke arah sebuah pintu besi yang besar di hadapannya, ia melihat ada sebuah benda mirip kertas di sela-sela bawah pintu besi tersebut. Arial yakin bahwa benda tersebut milik Rio, maka ia segera mengambil sebuah laser dari dalam tasnya. Tidak ada kaca di pintu besi tersebut, tidak seperti ruangan-ruangan kosong lainnya yang Arial temukan. Itu memperkuatkan dugaan Arial bahwa Rio berada di dalam ruangan tersebut. Arial memotong penyambung pintu besi tersebut dengan laser miliknya, ia melakukan itu secara perlahan. Namun kegiatannya terhenti ketika ia mendengar Rio menyuruhnya untuk menjauh dari pintu.
“Menjauhlah! Aku akan meledakkannya.” Setelah mendengar ucapan tersebut, Arial segera menjauh dari pintu besi yang berukuran besar itu. Benda seperti kertas yang bernama PLS7.1 itu, yang ternyata ada di bawah sela-sela pintu besi tadi terlihat menyala, dan melelehkan pintu besi itu dalam hitungan detik, tanpa suara ledakan sedikitpun. Arial sempat terkejut karena ia belum pernah melihat benda seperti itu sebelumnya, namun saat ia sadar bahwa dirinya harus menyelamatkan Rio yang ada di dalam sana maka Arial segera berlari masuk dan melihat pada Rio yang terikat di atas kursi besi.
“Kenapa kalian kemari?” Tanya Rio saat Arial menghampirinya dan membantunya melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangannya tersebut. Kedua tangan Rio tidak terikat dengan seutas tali ataupun borgol. Kedua tangan itu terikat dengan besi di kedua sisi kursi. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Arial memotong besi tersebut tanpa melukai lengan Rio.
“Tentu untuk menyelamatkanmu bodoh!” Arial terkekeh, ia tetap membantu Rio melepaskan ikatan tersebut. Setelah ikatan tersebut terbuka, Arial segera melaporkan pada timnya bahwa ia telah berhasil menyelamatkan Rio.
“Kksskk… Aku berhasil menemukan Rio! Berkumpul di titik temu!” Arial menatap Rio dan mengangguk, ia memberikan sebuah botol minum untuk temannya tersebut. Namun Rio menolaknya dan mengatakan bahwa ini bukan saatnya untuk mereka beristirahat.
“Ayo! Kau sudah menyuruh mereka untuk berkumpul. Maka kita tidak memiliki waktu untuk berdiam.” Rio hendak berlari ke keluar dari ruangan tersebut, namun Arial menahannya dengan menarik lengan Rio.
“Minumlah, itu tidak akan menghabiskan waktu lama!” Arial tetap memaksa Rio untuk minum terlebih dahulu. Ia melihat bagaimana pucatnya wajah Rio, dan ia sadar tenaga lelaki itu sudah terkuras meskipun hanya di sekap di dalam ruangan. Tanpa banyak beragumen, Rio mengambil botol tersebut dan berlari keluar. Arial mengikutinya dari belakang dan menunjukkan jalan mana yang harus mereka lalui ke titik temu.
“Kksskk… Arial.” Rio dan Arial terdiam, mereka terkejut mendengar suara yang tidak asing di telinga mereka. Arial segera mengambil talkie box miliknya dan melihat sambungan mana yang baru saja masuk. Kedua matanya menyipit ketika melihat sambungan Raihan berada di layar itu. ‘Hanya perasaanku saja, atau aku benar-benar mendengar suara orang lain dari sambungan Raihan?’ pikir Arial, ia menatap pada Rio yang juga mengerenyitkan dahinya bingung.
“Sebaiknya kita segera bertemu dengan anggota tim mu!” Ucap Rio, Arial setuju dengannya dan berlari secepat mungkin menuju titik temu tim nya.
Saat keduanya telah sampai disana, mereka melihat Jonathan tengah membantu Badian dan Tameer melalui layar virtualnya. Hanya ada Jonathan disana, sementara Raihan dan Andre belum sampai. Arial yang baru saja sampai melirik arah kanan dan kiri, mencari kedua anggota lainnya.
“Mereka belum sampai, kurasa mereka akan sampai sebentar lagi. Dan tenanglah Arial, pihak militer tidak akan menemukan kita disini karena pemancar sinyal ini.” Jonathan yang seakan tahu segera menjelaskan situasi mereka padanya, ia menyingkirkan layar virtual itu dan menghampiri Rio yang menatap kearahnya.
“Jonathan, sambungan W.A.E!” Lelaki itu menyodorkan tangannya pada Rio, memperkenalkan dirinya sebagai sambungan W.A.E yang di utus untuk tim ini. Rio mengangguk dan menyambut tangan tersebut dengan senyuman ringan di wajahnya.
“Rio, terimakasih telah membantu tim Arial untuk menyelamatkanku.” Jonathan mengangguk, itu sudah menjadi bagian dari tugasnya.
“Tentu saja, ini adalah tugasku membantu tim penyelamat untuk menyelamatkan mu.” Rio tersenyum, keduanya kemudian melirik ke arah Andre yang baru saja tiba dengan berlari kecil.
“Sorry!” Ucapnya, Arial mengangguk. Maka sekarang mereka tinggal menunggu kedatangan Raihan. Jonathan kembali mengecek bagaimana tugas Badian dan Tameer, ia juga mengecek bagaimana perkembangan tim Faisal. Rio menghampiri Arial dan Andre yang masih menunggu kedatangan Raihan, dan bertanya pada sahabat kecilnya tersebut.
“Apa yang kita tunggu saat ini adalah sambungan yang terakhir masuk tadi, Arial?” Arial mengangguk, membenarkan tebakan Rio. Ia terdiam begitu melihat Rio yang terdiam, ia sadar suara yang masuk kedalam sambungan itu bukanlah suara Raihan. Suara itu… adalah suara dari orang yang sangat mereka kenal, suara itu sangat mirip dengan suara teman mereka yang telah lama dan tidak mungkin lagi mereka dengar. Namun Arial tidak ingin terlalu mengingatnya, karena itu hanya akan membuyarkan fokusnya pada misi ini. Jadi ia berusaha untuk meyakinkan dirinya, jika itu buka suara milik Raihan, berarti anak itu telah tertangkap oleh pihak militer.
“Andre! Arial!” Mereka semua melirik pada Raihan yang datang bersama dengan seseorang yang ia bopong disampingnya. Seorang lelaki tinggi dengan rambut panjang sebahu, berjenggot tipis, serta kumis yang juga tidak terlalu lebat. Rio dan Arial sama-sama tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Bima… Lelaki itu kini berdiri di hadapan mereka berdua dengan tampilan yang tidak terlalu baik, dan bekas jahitan besar di dadanya yang terlihat jelas karena kaos tipis yang ia kenakan memperlihatkan itu.
“…” Rio hendak berbicara, namun mulutnya tidak dapat mengeluarkan satu kata pun. Ia memilih untu menghampiri mereka, ia berjalan cepat dengan jantung yang sangat berdebar ke arah Raihan dan lelaki tinggi itu.
Lelaki itu menyambut Rio dengan merentangkan kedua tangannya, dan memeluk Rio yang akhirnya berlari padanya. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Arial hanya terpaku di tempatnya berdiri.
“Bima?!” Arial akhirnya menggumamkan nama itu, nama yang sedari tadi ia pikirkan. Ia mengira dirinya sudah gila ketika mendengar suara itu melalui talkie box sebelumnya, tetapi kini ia melihat lelaki itu berdiri tepat di hadapan mereka.
Jonathan dan Andre yang mendengar ucapan Arial, ikut tidak percaya dengan apa yang terjadi. Karena sudah bukan menjadi sebuah rahasia lagi, hal tentang kematian Bima. Teman dari Arial, Rio, Luis, Astri dan Jina. Mereka yang dianggap sebagai pelopor lahirnya W.A.E, dengan menyadarkan masyarakat.
“Immpossible.” Jonathan bergumam.
Arial berjalan dengan langkah yang tidak terlalu terburu-buru, setelah Bima melepaskan pelukannya dengan Rio, lelaki itu beralih memeluk Arial yang baru saja sampai di depannya.
“Kita harus cepat! Pihak militer mungkin akan sampai beberapa detik lagi!” Belum sempat Arial bertanya, Bima sudah terlebih dahulu menarik mereka bertiga untuk berlari keluar dari aula tersebut. Karena kakinya yang sedikit bengkok, Bima berjalan dengan tertatih.
Melihat hal tersebut, Arial segera membantunya dan menyuruh Raihan untuk membantu Rio. Rio memang tidak terluka, tetapi ia benar-benar kehilangan tenaganya membuat dirinya berjalan tidak secepat yang lain.
To be continued