Laser Strand

1161 Kata
Mata Jina membesar ketika ia melihat sambungan talkie box nya dengan Yoesef tiba-tiba terputus. Ia melirik pada Yahmar yang ada di sampingnya, yang juga melihat hal tersebut. Astri menghampirinya dengan penasaran setelah melihat raut wajah wanita itu berubah drastis. “Ada apa Jina?” Tanyanya. Jina tidak menjawab, ia hanya memperlihatkan layar itu pada Astri dan memilih untuk duduk diatas kasur milik Astri. Yahmar dan Gantara saling bertukar pandang, dan melihat kembali pada layar talkie box yang saat ini di pegang oleh Astri. “Ini sebuah hal yang aneh, mengapa sambungan tiba-tiba terputus?” Jina bertanya pada dirinya sendiri, atau mungkin ia bertanya pada Astri yang berdiri bersama dua orang lainnya. Kedua alis wanita itu menyatu, memperlihatkan bahwa kini pemiliknya tengah berpikir dengan keras. Mencari kemungkinan yang terjadi pada Yoesef dan Luis. “Apakah karena daya?” Tanya Gantara, mungkin saya talkie box yang di gunakan mereka memerlukan daya sehingga akan tiba-tiba mati jika daya itu habis. Namun gelengan kepala dari Astri yang merupakan sebuah jawaban, menandakan bahwa kemungkinan itu tidak mungkin terjadi. “Talkie box milik kami tidak memiliki daya yang harus di isi. Luis sudah merancangnya untuk tetap hidup meski tidak memiliki daya.” Yahmar kembali melirik pada Gantara yang juga meliriknya. Dengan tiba-tiba dan tergesa-gesa, Yahmar berlari keluar dari kamar Astri. Membuat Astri dan Jina terkejut, sementara Gantara terlihat sangat serius saat ini. “Ada apa Gantara?” Astri bertanya pada lelaki yang menjabat sebagai ketua devisinya tersebut. Ia yakin, jika Gantara mengetahui apa alasan yang membuat Yahmar berlari dengan tergesa-gesa seperti tadi. “Aku harus memastikan sesuatu. Astri, kau dan Jina sebaiknya istirahat. Jika tidak, pergilah ke dalam ruanganku dan minumlah secangkir teh.” Bukannya menjawab pertanyaan Astri, Gantara justru menyuruh Astri dan Jina minum the di ruangannya. Setelahnya, Gantara keluar dari kamar Astri. Tidak dengan tergesa-gesa seperti Yahmar sebelumnya, namun saat ia sudah berada di luar kamar Astri. Langkah berlarinya terdengar dengan jelas di telinga Astri dan Jina, Gantara berlari di sepanjang lorong meninggalkan tempat itu menuju sebuah tempat yang ia tuju. “Astri, aku merasakan hal yang tidak baik disini. Apa Luis dan Yoesef baik-baik saja?” Jina bertanya pada Astri yang masih berdiri di tempatnya tadi. Wanita itu menatap Jina yang duduk dengan wajah yang pucat, kemudian ia tersenyum untuk menenangkan temannya itu. “Tenanglah Jina, semua akan baik-baik saja. Kau tahu kan… Yoesef akan menjaga Luis dengan seluruh kemampuannya? Mereka adalah tim terbaik. Kau sendiri yang mengatakannya kan Jina?” Astri menenangkan Jina dengan kembali memberitahu bahwa mereka mengirimkan tim terbaik, maka tidak ada yang harus Jina khawatirkan disana.   ‘Ya, Astri benar! Yahmar mengirimkan tim terbaik bersama dengan Luis dan Arial. Mereka pasti baik-baik saja!’ Jina berusaha membuat pikiran positifnya meningkat dan membuang seluruh pikiran negatif nya. “Ayo! Sebaiknya kita ikut mencari tahu apa yang terjadi sehingga membuat Yahmar dan Gantara tergesa-gesa seperti itu!” Astri membuka jas labnya dan menggantinya dengan jaket berwarna hijau tosca. Ia tidak nyaman ketika harus berjalan menggunakan jas lab, disaat ia tidak sedang benar-benar bekerja. Shift nya sudah selesai beberapa jam yang lalu, dan ia seharusnya beristirahat di kamar. Tetapi mengetahui keadaan saat ini sangat genting, maka Astri memilih untuk menemani Jina dan ikut menunggu bagaimana perkembangan dari tim Luis untuk menyelamatkan tim Rio di sektor 8. “Kurasa kita harus melihat kemungkinan yang terjadi pada Luis, kurasa ini sudah lebih dari tiga puluh menit. Jadi hasilnya pasti sudah keluar.” Jina memberikan sebuah saran agar mereka mengambil hasil kemungkinan kondisi Luis di ruang devisi kesehatan, mengingat Yahmar yang pergi begitu saja tanpa berbicara. Jadi Jina berpikir, lelaki itu pasti melupakan suatu hal atau sebuah tugas yang sempat ia tinggalkan untuk melaporkan kondisi Luis. Karena Jina tahu bahwa Yahmar memiliki Shift malam hari ini. “Oke, aku ikuti saranmu.” Ucap Astri. Wanita itu terdiam sesaat dan memperhatikan Jina dari atas hingga bawah kakinya. Membuat Jina merasa risih dan menanyakan alasan Astri menatapnya demikian. “Ada apa?” Astri menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap pada Jina yang mengenakan pakaian seperti itu. Astri menahan tawanya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menanyakan hal yang ada dalam pikirannya. “Kau bercanda Jina? Gaun tidur? Jas? Tunggu… Jas siapa ini?” Astri bertanya dan menyipitkan matanya, ketika ia menyadari bahwa jas yang Jina kenakan bukanlah jas milik wanita itu. Astri memegang jas tersebut, dan memperhatikan bahannya. Dari bahannya saja, sudah jelas bahwa jas itu milik seorang lelaki. Jina yang merasa risih dengan tingkah sahabatnya tersebut, menepis lengan Astri dari jas itu pelan. “Yahmar… Dia tiba-tiba menyuruhku memakainya, dan… Ah sudahlah, ayo Astri!” Jina segera berjalan menuju devisi kesehatan, meninggalkan Astri yang tertawa di belakangnya melihat tingkahnya yang seperti itu.   Arial, Jonathan, Andre dan Raihan berlari memasuki sebuah aula besar yang berisi mesin-mesin pemancar sinyal. Ini adalah tempat yang Raihan maksud. Tempat dimana pemancar sinyal raksasa terpancar dan beroprasi. Arial memberikan perintah pada mereka agar berpencar untuk mencari ruangan yang di sebut dengan gap oleh Raihan sebelumnya. Jonathan berlari ke arah Selatan, Andre berlari ke arah Timur, Arial berlari ke arah Barat dan Raihan berlari ke arah Utara. Sebenarnya aula tersebut tidak terlalu besar. Namun… keberadaan mesin pemancar sinyal yang sangat banyak, membuat mereka kesulitan menemukan ruangan di mana Rio di tahan. Raihan melihat ada sebuah ruangan dengan pintu besi di hadapannya. Dengan perlahan Raihan mendekati pintu tersebut dan melihat ke dalam sana, melalui kaca yang ada di tengah pintu tersebut.   “Rio?” Raihan tidak yakin apakah lelaki yang ada di dalam ruangan itu adalah Rio atau bukan. Tetapi siapapun itu, Raihan harus menyelamatkannya. Raihan tidak pernah bertemu dengan Rio sebelumnya, jadi dia tidak mengetahui bagaimana rupa Rio yang akan ia selamatkan itu. Meskipun pihak W.A.E memberikan foto orang-orang yang akan mereka selamatkan dalam misi, namun Raihan tidak se-cerdas itu. Raihan butuh waktu untuk benar-benar mengenali seseorang melalui foto. Raihan berjongkok membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah alat seperti kawat kecil namun memiliki tombol di salah satu sisinya. Raihan memasukan kawat itu ke dalam sisi-sisi pintu dan mulai menekan tombol itu. Kawat berwarna silver bernama Laser Strand itu mengeluarkan semacam laser merah yang melelehkan sambungan kunci pintu besi tersebut, dan saat besi pengunci itu sudah terbelah sepenuhnya, pintu pun terbuka dengan amat mudah. “Rio! Aku datang untuk menyelamatkanmu.” Raihan menghampiri lelaki yang kedua matanya di tutup oleh sehelai kain merah tersebut. Ia membantu lelaki itu membuka seluruh tali dan rantai yang mengikatnya. “Rio?” Lelaki itu bertanya pada Raihan. Raihan terdiam ketika mengetahui lelaki yang ia selamatkan bukanlah Rio. Laki-laki bertubuh besar yang mengenakan kaos putih lusuh itu membuka kain yang menutupi matanya, memberikan sebuah senyuman menyeringai seraya menatap pada Raihan yang terdiam di hadapannya.   * Laser Strand adalah sebuah alat sekecil benang kawat yang kecil dan tipis, namun memiliki sebuah tombol kecil di salah satu sisinya. Alat ini merupakan sebuah alat pemotong yang menggunakan cahaya laser sebagai pisaunya. Laser tersebut memiliki daya yang tinggi sehingga dapat melelehkan besi sekalipun, dengan suhu mencapai lebih dari 100 derajat celsius.  To be continued 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN